
🍃 Pagi Hari 🌻
Seluruh keluarga berkumpul di restoran untuk sarapan bersama,
Zayd yang merasa cemas dengan kejadian semalam terus mengaduk-aduk makanan tanpa mau menyantapnya.
"Zayd ada apa, Kenapa tidak makan?" tanya Alia.
Zayd tersentak dan menjadi tegang saat melihat Zayn terus menatapnya tajam.
"Zayd..." sambung Faraz dengan menarik dagu dan alisnya.
"A-a-Aku, Sebenarnya Ak-aku M-m... Mempunyai kekasih Pa."
"Apa! Benarkah, Jadi Kau sudah jatuh cinta?" tanya Faraz yang terlihat antusias.
Zayn menatap Papanya dengan bingung, Karena tanggapannya sungguh di luar dugaannya.
"Kenapa mau bilang begitu saja takut Zayd?"
"Ak-aku takut Papa marah,"
"Kamu sudah cukup dewasa, Sudah bekerja dan memiliki penghasilan sendiri, Cuma satu yang harus Kamu ingat, Jadilah Pria yang setia dengan cukup satu wanita."
Prankkkk...!!! Zayn mengebrak meja makan dan beranjak dari duduknya.
Semua terkejut menatap Zayn yang tiba-tiba marah dan meninggalkan restoran.
"Zayn... Zayn.." pekik Faraz yang baru menyadari jika sikapnya terlihat tidak adil untuk Zayn.
Zayn naik ke atas dan berpapasan dengan Alea.
Alea menatap Zayn bingung, Ia tidak tau siapa yang ada depannya, Apakah kekasihnya atau kembarannya.
Zayn terus menatap lekat Alea hingga di kagetkan oleh suara Papa yang menyusulnya.
"Zayn..."
__ADS_1
Alea yang melihat Faraz semakin mendekat langsung berlari pergi menghindari pertemuan Mereka.
Zayn melihat kepergian Alea dan menoleh ke arah Papahnya.
"Zayn apa Kamu marah dengan perkataan Papa pada Zayd?"
"Kenapa marah, Zayd kan Putra kesayangan Papa, Jadi wajar Papa mendukung apapun yang Zayd lakukanlan."
"Jangan berlebihan Zayn! Dulu pertama kali kamu berkencan dengan seorang gadis apa Papa melarang mu? Bahkan sampai beberapa kali kamu gonta ganti teman kencan Papa masih diam saja, Papa masih percaya saat Kamu bilang Mereka hanya penggemar mu, Tapi apa kenyataannya Zayn? Kamu semakin liar, Kamu terus saja mengambil keuntungan dari Mereka yang mengaku penggemar mu, Hingga saat puncaknya Opa Zhehzad memergoki mu di hotel."
Zayn hanya diam mendengar yang Papanya katakan, Karena memang itulah kebenarannya.
"Jika sekarang Papa menerima hubungan Zayd, Itu karena untuk pertama kalinya Zayd jatuh cinta, Papa masih memaklumi jika di usia kalian jatuh cinta, Karena Papa juga melakukan hal yang sama, Tapi jika Kamu, Bahkan Zayd sekalipun hanya mempermainkan perasaan para gadis, Papa juga tidak segan-segan memasukan Zayd ke pesantren sama seperti mu!"
Zayn menatap punggung Papanya yang terlihat begitu kecewa padanya.
•••
Om Bryan yang melihat kepergian Faraz memberi isyarat pada Zia untuk menemuinya.
"Mau kemana Zia?"
"E... Mau keliling, Bosen nunggu Papa gak balik-balik."
"Ikut Kakak!" Zayd menarik tangan Zia ikut bersamanya, Om Bryan yang melihat bergegas mengikutinya.
"Zayd... Zia... Kok ninggalin Mama sendiri sih." pekik Alia yang sudah tidak di hiraukan oleh Zayd.
Zayd melepaskan tangan Zia dan mulai mengintrogasinya.
"Jadi Kau mengajak Om Bryan kemari?"
"Kak Zayd bilang apa, Kenapa Aku mengajaknya, Aku kan..."
"Berhenti berpura-pura Zia, Kakak lihat sendiri jika Om Bryan ada di hotel ini."
"Lalu apa karena Om Bryan ada di hotel ini, Itu berarti bahwa Aku yang mengajaknya? Dulu di Bali juga Kita satu hotel dengan kamar yang bersebelahan, Tapi bukan Aku yang mengajaknya."
__ADS_1
"Itu beda! Dulu kalian tidak saling mengenal tapi sekarang kalian pacaran."
"Lalu kenapa Kak, Kak Zayd juga pacaran dan Papa tidak marah, Nanti gak lama lagi Om Bryan juga akan bicara sama Papa."
Zia yang melihat tidak ada lagi pertanyaan dari Zayd segera pergi meninggalkannya.
Beberapa meter Zia berjalan, Bryan menarik tangan Zia menjauh dari keramaian.
"Om..."
Bryan membuat Zia merapat ke dinding dan mengungkung dengan kedua tangannya, Sementara Netranya mengawasi kanan kiri agar tidak sampai Mereka tertangkap basah.
"Om ngapain sih, Ini tempat terbuka, Banyak yang berlalu lalang di sini, Bagaimana kalau Papa Faraz, Mama Alia atau Kakak kembarku mergokin Kita?"
Bryan hanya tersenyum, Ntah kenapa Ia seperti ketagihan menguji adrenalinnya dengan terus menemui Zia di tempat-tempat yang menantang baginya.
"Om..." Zia memukul dada Om Bryan yang tidak menjawab pertanyaannya.
"Hsssttt diamlah Zia, Papamu sedang menuju kemari."
"Hah! Benarkah, Lalu bagaimana ini, Gimana kalau Papa menangkap basah Kita, Bagaimana kalau Zia di masukin ke pesantren, Zia nggak mau Om, Nanti Zia nggak bisa ketemu Om lagi."
"Iiihhh... Bawel banget sih." dengan gemas Om Bryan mencubit kedua pipi Zia.
"Om..." Zia mendorong tubuh Om Bryan dan melihat area sekitarnya.
Om Bryan tertawa melihat kepanikan Zia.
"Jadi Om bohongi Zia?"
"Bukan bohong, Tapi bercanda," ucap Om Bryan yang kembali tertawa. Namun tawanya terhenti saat Ia benar-benar melihat Faraz berjalan tak jauh dari Mereka.
"Om pergi dulu ya, Papmu benar-benar datang." dengan cepat Om Bryan berlari meninggalkan Zia namun Ia kembali dan mencium pipi Zia lalu kembali berlari meninggalkan kekasih kecilnya yang membuat dirinya ingin selalu bersamanya.
Bersambung...
📌 YANG INGIN PANAS-PANAS, BACA RANJANG REOT DI NOVEL SUAMI YANG KU BELI 🤪🔥
__ADS_1