
Di dalam tidurnya Alia terus gelisah dan sesekali mengigau yang tidak begitu jelas apa yang Ia ucapkan.
Faraz yang terusik membuka matanya dan menyalakan lampu
Faraz melihat Alia yang terus menggerakkan kepalanya kesana-kemari dengan keringat yang membasahi kening dan lehernya.
"Sayang... Sayang... Sayang bangun." Faraz menepuk-nepuk pipi Alia agar Ia bangun dari mimpinya.
"Haghhh..!!!" dengan nafas tersengal Alia membelalakkan matanya melihat langit-langit kamarnya.
"Lihat Aku." ucap Faraz mengarahkan pandangan Alia ke wajahnya.
Alia menatap wajah Faraz yang berada tepat di depan wajahnya.
"Mas..." Alia mengusap wajah Faraz dengan tatapan sayu.
"Kamu mimpi buruk lagi?"
Alia mengangguk dan memeluk Faraz dengan perasan cemas di hatinya.
"Tenanglah Sayang, Ini hanya mimpi."
"Tapi ini yang ke tiga kalinya, Mimpi yang sama dan terus berulang-ulang."
"Itu hanya rasa cemas mu yang berlebih, Aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu," Faraz terus mengusap-usap punggung Alia untuk menenangkannya.
"Lalu bagaimana jika hal buruk itu terjadi padamu," batin Alia.
"Kamu ingin makan sesuatu?"
Alia menggelengkan kepalanya.
"Biasanya tengah malam Kamu selalu ingin makan,"
"Sekarang Aku sedang tidak ingin."
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu kita tidur lagi."
•••
Keesokkan harinya
Dengan membawa serta Devita dan pengasuhnya, Kavita menemani Dev ke Medan untuk pengobatan alternatif yang Cindy sarankan.
Kavita sudah bertekad untuk memupuk kembali cinta yang sempat layu dan kembali memperbaiki pernikahannya dengan Dev.
Sepanjang penerbangan, Kavita bergelayut manja di lengan Dev sembari menyandarkan kepalanya di bahu Dev.
Dev merasa begitu bahagia akhirnya setelah sekian lama, Kavita tidak lagi bersikap dingin padanya.
"Kita akan rayakan ulang tahun pernikahan Kita selama berada di Medan." lirih Dev sembari mengecup pucuk rambut Kavita.
Kavita terseyum dan mengisi jari-jemari Dev dengan jarinya.
"Cepatlah sembuh." lirih Kavita di ceruk leher Dev.
•••
berat badan yang semakin bertambah dan perut yang sudah begitu besar sehingga Ia lebih sering mondar-mandir ke kamar mandi.
Karena Aasan itu juga, Alia tidak mau di ajak pergi ke pesta pernikahan teman Faraz. Awalnya Faraz tidak ingin menghadiri pesta itu karena menghawatirkan Alia. Namun Alia menyuruhnya tetap pergi.
"Aku tidak apa-apa pergilah,"
"Mas tidak bisa tenang meninggalkan mu sendirian."
"Kalau begitu antarkan Aku ke rumah Ibu, Jadi Mas bisa pergi tanpa rasa khawatir lagi."
"Kamu yakin?" tanya Faraz memegang pipi Alia.
"Iya, Aku juga rindu sama Ibu."
__ADS_1
"Baiklah, Ayo kita berangkat."
Faraz pun mengantarkan Alia ke rumah Bu Fareeda terlebih dahulu.
Sepanjang perjalanan tidak ada obrolan di antara Keduanya,
Hanya saling melempar senyum dan sesekali Faraz mengusap perut Alia yang tidak lama lagi akan melahirkan bayinya.
"Sudah sampai."
"Mas nggak turun dulu?"
"Nanti aja sekalian, Mas lama kok, Paling ngasih salam ke pengantin, Makan-makan terus pulang,"
"Ya sudah, Hati-hati ya Mas, Jangan ngebut."
"Pasti." Faraz mengecup bibir Alia sesaat dan di balas pelukan erat oleh Alia.
"Salam buat Ibu, Kamu cepat istirahat."
Alia mengangguk dengan senyumnya dan turun dari mobil.
Alia pun melambaikan tangannya melihat kepergian Faraz.
•••
Pagi hampir menjelang, Alia yang terbangun dari tidurnya melihat sisi ranjangnya yang masih kosong tanpa kehadiran Faraz di sisinya.
Ia melihat jam di atas nakas yang menunjukan pukul 03.45 dini hari.
Alia pun meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Faraz. Namun tidak mendapat jawaban darinya.
"Kemana Mas Faraz?" Dengan rasa khawatir Alia terus mencoba menghubungi Faraz. Namun hingga berkali-kali Alia menelfon, Faraz tidak juga mengangkatnya.
"Kamu kemana Mas?"
__ADS_1
Bersambung...
BACA JUGA PESONA MAJIKAN'KU YANG AKAN MEMBUAT HATI KALIAN DI ADUK-ADUK 🤣