Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
Di Begal


__ADS_3

Faraz masih tidak menyadari jika Ia menggenggam tangan Alia, sampai Ia tersentak saat Bianglala berhenti berputar.


Faraz menoleh ke arah Alia dan langsung melepaskan tangannya begitu menyadari Ia menggenggam tangan Alia.


"Apa Kau merasa takut?" tanya Alia terseyum.


"**.. tidak, Aku hanya sedikit tegang, Aku kan tidak pernah bermain seperti ini, Ee... Sudahlah, hentikan permainan konyol ini, kita pulang," ucap Faraz yang langsung bangun hingga kepalanya terbentur.


"Awwwhhh..." Faraz kembali duduk dan memegangi kepalanya.


"Apa Kau lupa jika tubuhmu lebih tinggi dari Bianglala ini," ucap Alia tertawa.


Faraz berdecak kesal.


"Ayolah, bungkukan badan mu, dan berhati-hati,"


Faraz hanya menuruti ucapan Alia tanpa membantah.


"Kau ingin mencoba permainan lain?" tanya Alia.


"Tidak! sudah cukup, Ayo kita pulang."


"Kita baru menyoba dua wahana permainan, kau lihat itu?" Alia menunjuk Perahu Ayun.


Faraz melihat ke arah yang Alia tunjuk.


"Kita naik itu yuk, permainan itu juga akan membuat hatimu lega,"


"Aku bilang tidak! Ayolah berhenti mengajakku bermain mainan yang membosankan ini," ucap Faraz yang terlihat kesal.


"Ya sudah, Ayo kita pulang," ucap Alia cemberut.


Faraz menghelai nafas panjang dan mengikuti Alia.


"Kau ingin makan jagung bakar?" tanya Alia.


"Tidak."


"Sosis bakar, Berger, hotdog, kebab, atau..."


"Tidak Cupuuu... Aku tidak ingin apa pun, Aku tidak biasa makan di tempat seperti ini, Ayolah kita pulang," rengek Faraz


"Tapi kita belum makan apapun?"


"Aku tidak peduli, Pokoknya Aku mau pulang sekarang." Faraz langsung menarik tangan Alia.


"Eeehhh tunggu.... Gelang ini unik sekali kan? Bisa pesan dengan huruf yang kita inginkan juga" ucap Alia.


"Sudahlah Cupu, Aku sudah lelah, dan Aku hanya ingin pulang sekarang."


"Apa Kau begitu merindukan kamar ku?" ledek Alia.


"Ya Aku sangat merindukan kandang mu itu, Sekarng ayo kita pulang," ucap Faraz bergegas pergi.


Alia mengikuti Faraz dengan kesal.


Baru separuh perjalanan, motor mereka di hentikan oleh tiga orang Pria dengan tubuh kekar membawa senjata tajam di tangannya.


"Turun!" ucap salah satu dari mereka.


"Siapa kalian?" tanya Alia panik.

__ADS_1


"Serahkan uang kalian?"


"Untuk apa kami menyerahkan uang kami?" tanya Faraz.


"Beraninya kamu melawan kami, Buuukkk!!!" Satu tonjokan mengenai wajah Faraz.


"Buciiin..." Alia memegang bahu Faraz.


Salah satu dari mereka menarik tangan Alia menjauh dari Faraz kemudian mengeroyok Faraz.


Faraz yang cukup menguasai ilmu bela diri melawan mereka satu persatu.


"Bhukkkk... Bhuuukkkk..."


Pertarungan sengit pun terjadi hingga Faraz menghentikan perlawanannya ketika melihat Alia dalam cengkeraman mereka.


"Berhenti atau kekasih tercinta mu ini tidak akan selamat," ancam mereka dengan menancapkan pisau ke leher Alia.


"Cupu..." lirih Faraz.


"Sekarang berikan uang mu," ucap Mereka dengan menodongkan


pisau ke arah Faraz.


Faraz mencari dompet di semua sakunya, dan teringat dompet nya tertinggal di kamar Alia.


"Aku tidak membawa uangku," ucap Faraz.


"Baiklah tidak masalah jika kami tidak dapat uang dari kalian, kami bisa bersenang-senang dengannya," ucap orang itu membelai wajah Alia.


Alia menggeliat menghindari sentuhan tangan itu dengan perasaan jijik.


"Cupuuu...." Faraz melangkah maju.


Faraz merasa bingung dan melihat jam tangan yang ia kenakan.


"Ee... Ambillah ini," Faraz menyerahkan jam tangannya.


Mereka melihat jam tangan yang Faraz berikan.


"Richard Mille 56-02 dengan harga 2 juta dollar AS atau lebih kurang Rp. 29 miliar, mungkin sekarang harganya bisa lebih mahal lagi." ucap Faraz yang membuat mereka tercengang dan melepaskan Alia.


Namun Alia yang mendengar harga yang begitu fantastis membuat Alia tidak rela jam tangan Faraz berpindah tangan pada mereka.


"Berikan, kalian tidak berhak mendapatkan ini," ucap Alia yang langsung merebutnya.


"Kalian menipu kami?" Mereka menjadi marah dang langsung menghampar Alia.


Plaakkkkk...


"Cupu..." Faraz yang melihat Alia di gampar kembali melawan mereka.


Tiga lawan satu, Faraz memenangkan pertarungan sebelum akhirnya salah satu dari mereka menyerang Faraz dari belakang menggunakan pisau.


"Aaaaa.." Faraz menahan rasa sakitnya dan tersungkur ke tanah.


"Buciiiiin...." jerit Alia melihat Faraz tersungkur.


Dengan kemarahan yang membara, Alia merebut pisau yang ada di tangan orang yang menusuk Faraz, secara membabi-buta Alia terus menyerang mereka tanpa memperdulikan pisaunya mengenai mereka,


"Cupuuu..." lirih Faraz yang pandangannya mulai kabur.

__ADS_1


Para preman yang berfikir pekerjaannya tidak ada hasil, langsung berlari meninggalkan mereka.


"Buciiin..." Alia segera mengangkat kepala Faraz ke pangkuannya.


"Buka lah mata mu, Jangan membuatku takut," tangis Alia.


"Cupu... Cepatlah panggil taksi ini sakit sekali," ucap Faraz.


"Apa Kamlu tidak bisa baik motor di belakangku?"


"Apa Kau ingin sekalian membu'nuh ku dengan naik motor? Aowwh."


"Baiklah, Tahan sebentar, Aku akan segera mencaru taksi."


Karena malam yang sangat larut, Alia kesulitan menemukan taksi.


Ia juga berusaha menghentikan mobil yang lewat untuk mencari pertolongan. Namun tidak ada satu pun mobil yang kosong.


Karena terlalu lama, Alia kembali melihat Faraz.


"Bucin kamu masih bisa mendengar ku?"


"Dimana taksinya," lirih Faraz yang semakin lemah.


"Aku belum menemukannya, Kau bertahanlah, Aku akan mencarinya lagi." Alia pun kembali meninggalkan Faraz.


Dari kejauhan Alia melihat mobil melintas, Alia bersiap untuk menghentikannya.


Dan saat tiba di depan Alia ternyata sebuah mobil pickup yang berisi sayuran.


"Ada apa Mbak, kenapa malem-malem di jalan?" tanya si supir.


"Bisa tolong saya pak?"


"Tolong apa?"


"Suami ku di tusuk oleh seseorang, tolong bantu Aku membawanya ke rumah sakit," ucap Alia memohon.


"Dimana Suami Anda?"


"Disana Pak," ucap Alia menunjuk ke arah Faraz.


Si supir pun turun dan melihat keadaan Faraz.


"Tapi gak papa nih kalian duduk di belakang dengan sayuran yang saya bawa?"


"Tidak apa-apa pak yang penting suami ku bisa cepat di bawa ke rumah sakit," ucap Alia khawatir.


"Baiklah Ayo,"


"Bucin Kau masih bisa berdiri?" tanya Alia mencoba membangunkan Faraz.


"Ya, Aku masih cukup kuat," ucap Faraz berusaha bangkit dengan sisa tenaganya.


Alia menaruh tangan Faraz di pundaknya dan memapahnya ke mobil.


"Kau menyuruh ku menaiki mobil ini?" tanya Faraz dengan lemah.


"Ayolah Bucin, Kau sedang terluka, hentikan kesombongan mu itu, yang terpenting sekarang Kamu harus cepat di obati, darahmu semakin banyak mengalir," ucap Alia.


Faraz berdecak dan terpaksa menaiki pickup sayur itu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2