Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
Masih Terus Berusaha


__ADS_3

Alia mencoba mendorong tubuh Faraz sekuat tenaga. Namun Faraz tetap diam tak bergeming.


Kemarahan Alia tidak membuat Faraz gentar sama sekali, melainkan membuatnya terus tersenyum menatap wajah Alia dan menikmati kemarahannya.


Alia menyadari tatapan Faraz Ia mengalihkan kontak mata langsung dengan Faraz, Dia tidak ingin luluh begitu saja dengannya.


Alia menghentikan sementara usahanya, Setelah melihat Faraz lengah Alia kembali mendorong tubuh Faraz sekuat tenaga, hingga Faraz terjatuh di sampingnya.


Dengan kesal Alia mengambil bantal dan selimutnya, lalu turun dari ranjangnya.


Faraz hanya tersenyum menikmati kemarahan Alia.


"Dia benar-benar tidak merasa bersalah sama sekali, Bukanya minta maaf tapi terus saja terseyum, Buat ku semakin kesal saja." Alia terus ngedumel dan membaringkan diri di lantai.


Faraz terdiam melihat Alia tidur di lantai beralaskan tikar tipisnya.


"Aku janji akan menebus semua kesalahanku padamu," batin Faraz.


Tatapan Faraz terhenti saat mendengar ponselnya berdering.


Ia mengambil benda pipih itu dari saku celananya, Terlihat nama Ibu tertulis di layar berukuran enam inci itu.


"Faraz sudah malam begini kamu dimana?" tanya Zeenat yang terdengar khawatir.


"Ibu... Jangan khawatir, Aku sedang berusaha meluluhkan hati menantu kesayangan Ibu." ucap Faraz yang tidak melepaskan pandangannya dari Alia.


"Maksud mu Kau sedang di rumah Alia?"


"Di rumah siapa lagi Ibu, Memangnya menantu Ibu ada berapa?"


"Faraaazzz..."


"Hehehe, Aku hanya bercanda,"


"Jadi semua hanya salah faham.? tanya Ibu lagi.


"Ya, Dan Aku janji pada Ibu, akan menebus kesalahanku dan membawa kembali menantu Ibu kerumah." ucap Faraz Melihat Alia yang berbalik membelakanginya.

__ADS_1


"Baiklah nak, Ibu sangat bahagia mendengar ini, semoga Kau berhasil meluluhkan hatinya," ucap Ibu tersenyum.


"Ya." Faraz mengakhiri telfonnya.


Faraz menghelai nafas panjang dan mengambil bantal lalu berbaring di samping Alia.


Alia yang terkejut lngsung duduk menatap Faraz tidur di sampingnya.


Dengan tenang Faraz pun kembali duduk.


"Faraz! Apa-apaan ini," ucap Alia kesal.


"Apa lagi? Aku mau tidur," jawab Faraz santai.


"Tidurlah di atas! Kau pernah bilang kan jika tidak mau tidur denganku?"


Faraz terdiam mengingat perkataannya kala itu.


"Baiklah jika Kau tidak mau, biar Aku yang di atas, Kau tidurlah disini!" Alia meninggalkan Faraz dan naik ke ranjangnya.


Faraz menghelai nafas panjang dan beranjak bangun,


"Faraz, Berhenti membuatku kesal!"


"Aku tidak akan membuatmu kesal jika Kau mau bicara baik-baik padaku."


"Tapi Aku tidak ingin bicara sekarang, jadi berhentilah memaksa ku!"


Alia kembali turun dari ranjang. Namun Faraz menariknya kembali hingga wajah keduanya hampir berbenturan.


Alia segera mengalihkan wajahnya dan mencoba kembali bangun.


Faraz segera memegang tangan Alia dan menjatuhkannya ke ranjang.


"Awwhhh Faraz Kau..."


Faraz menindihnya dan menekan kedua tangan Alia.

__ADS_1


"Sudah cukup! Sudah cukup main-mainnya, Sekarang dengarkan Aku,


Aku minta maaf karena menuduhmu begitu saja, Aku minta maaf karena Aku telah bicara buruk padamu, Aku juga minta maaf jika selama ini tidak menghargai mu sebagai istriku."


Alia terhenyak mendengar Faraz menyebut dirinya sebagai istriku.


"Ya, Aku memang tidak menerima pernikahan ini karena masa laluku, Aku takut Jika hatiku tersakiti lagi, Aku benar-benar tidak ingin mengalaminya lagi, makanya Aku selalu menghindarimu dan... Daaan...." Faraz tak melanjutkan ucapannya.


Faraz melepaskan tangan Alia dan duduk membelakanginya.


"Daaan...? Kenapa tidak melanjutkan?" tanya Alia penasaran.


"Dan... Karena itu begitu Aku melihat mu bersama Pria lain Aku langsung memarahimu begitu saja."


"Entah kenapa Aku merasa Faraz tidak ingin mengatakan itu.," batin Alia.


"Aah mungkin ini karena Aku mengharapkan Faraz mengatakan yang lainnya." batinnya lagi.


Alia menghelai nafas dan kembali berbaring menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


Faraz pun menghelai nafas panjang dan berbaring di sampingnya.


°°°


Kavita sampai di rumahnya Ia masuk ke kamarnya.


Ia membanting barang-barang yang ada di dekatnya.


"Aaarrrrgghhhhhh!!!" tangis Kavita sembari meremas kesal perutnya yang sudah membuncit.


Bu Risma yang mendengarnya langsung menyusul Kavita ke kamarnya.


"Kavita apa yang kau lakukan?" Ibu menarik tangan Kavita dari perutnya.


"Ibu... Dev menghianati ku," Kavita menjatuhkan diri ke pelukan Ibunya.


Bu Risma yang biasanya selalu marah-marah pada Kavita kini terdiam mengusap kepala Putrinya yang terus menangis di bahunya.

__ADS_1


Bersambung....


📌 Maaf Baru Up, Author lagi super sibuk 🙏


__ADS_2