
Faraz yang sangat terkejut mendengar kavita hamil hampir kehilangan keseimbangannya.
Ia berpegangan pohon di sampingnya dan menyandarkan tubuhnya.
"Ya Tuhan apa yang ku lakukan disini, apa yang kuharap kan darinya," dengan perasaan yang kembali hancur Faraz memegangi kepalanya.
Cukup lama Faraz meratapi kesedihannya, sebelum akhirnya i menarik nafas dalam-dalam dan pergi meninggalkan mereka.
"Apa! kamu hamil, tapi bagaimana bisa Kavita?" tanya Dev tak percaya.
"Apa maksudmu bagaimana bisa?" tanya Kavita kesal.
"Bukan begitu maksudku, maksud ku bagaimana bisa, selama tiga tahun ini kan aman-aman saja," ucap Dev.
"Ya mana ku tau Dev, tapi kenyataannya sekarang Aku hamil,"
"Apa kamu yakin?" tanya Dev yang masih belum percaya.
"Yakin Dev, tadi Aku merasa pusing dan Aku juga sudah terlambat datang bulan selama tiga minggu, Jadi Aku keluar membeli tespeck, daaan... benar saja hasilnya positif," jelas Kavita.
"Apa ada kemungkinan jika tespeck nya salah?"
"Tidak mungkin Dev, Aku tespeck pake tiga merek berbeda dan hasilnya positif semua,"
"Tapi kita harus bagaimana Kavita, Kita kan belum menikah, bagaimana jika keluarga ku tau, dan bagaimana tanggapan masyarakat jika mengetahui hal ini, Kita akan malu Kavita."
"Seharusnya kamu berfikir ini sebelum kamu melakukan nya," ucap kavita kesal.
"Kavita Kenapa kamu menyalahkan ku, Kita melakukan mau sama mau, Aku tidak pernah memaksa mu."
"Tapi kamu juga menyalahkan ku atas kehamilan ini Dev!" pekik kavita.
Dev menarik nafas panjang dan menenangkan hatinya.
"Aku... Aku hanya bingung apa yang harus kulakukan Kavita, orang tuaku tidak merestui hubungan kita, Daaan.... lagi pula kamu juga belum resmi bercerai."
__ADS_1
"Aku sudah resmi bercerai."
"Apa! Bagaimana mungkin, Kamu bilang...?"
"Ya.. ternyata Ibunya Faraz menyembunyikan akte cerai ku agar kita tidak bisa menikah, tapi kenapa Dev, kenapa Kamu terlihat tidak senang jika Aku sudah resmi bercerai?"
"Bukan begitu kavita, Ibu ku belum mengizinkan ku menikahimu."
"Berusahalah Dev, lakukan sesuatu... Atau katakan padanya jika Aku hamil."
"Bagaimana jika Ibu ku semakin marah dan tetap tidak mau merestui hubungan kita?"
"Lalu apa yang harus kulakukan Dev?" ucap Kavita menangis di bahu Dev.
"Kavita tentang lah Aku akan mencari jalan keluarnya."
"Bagaimana Zeenat apa Faraz sudah setuju untuk menikahi gadis itu?" tanya Shehzad.
"Tenanglah Zeenat, Aku yang akan bicara dengan Faraz,"
"Tidak perlu Ayah, persiapkan pernikahannya mulai sekarang." tegas Faraz yang baru datang.
"Apa! Apa ini artinya kamu setuju menikah dengan Alia?" tanya Zeenat bahagia.
__ADS_1
"Apa Aku pernah menolak permintaan Ibu?
Persiapkan lah pernikahan ku semeriah mungkin," ucap Faraz yang berlalu pergi ke kamarnya.
Zeenat terdiam melihat Faraz yang tiba-tiba setuju menikahi Alia.
"Ada apa dengan anak itu, tadi kamu bilang Faraz tidak setuju dengan pernikahannya, tapi sekarang Dia menyetujuinya?" tanya Shehzad.
"Aku juga sedang merasa bingung,
Tapii... Apapun itu yang penting Faraz telah setuju, sekalipun sekarang Faraz terpaksa menikahi Alia, tapi Aku yakin suatu saat Faraz akan menerima Alia dengan sepenuh hati," ucap Zeenat tersenyum.
"Jika kamu yakin seperti itu.. mulailah persiapannya." ucap Shehzad tersenyum.
Faraz membanting pintu kamarnya, ia terduduk di balik pintu dan menangis sejadi-jadinya.
"Kenapa...? Kenapa Ini terjadi lagi padaku...?
Berkali kali Dia menyakiti ku tapi kenapa Aku masih saja mengharapkan nya, Kenapa...?
Kenapa ENGKAU tidak mencabut perasaan ini dari hatiku, Kenapa....?" triak Faraz yang menengadahkan kepalanya keatas menangisi nasibnya.
Beberapa saat kemudian Faraz bangun dan menyeka air matanya.
Faraz mengambil botol minuman yang ia sembunyikan di laci tempat tidurnya,
__ADS_1
Faraz pun mulai menenggak minuman keras hingga ia tak sadarkan diri.
Bersambung...