Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
Melawan Trauma


__ADS_3

Dengan senyum getirnya Faraz meminta Alia kembali istirahat dengan membaringkan tubuhnya.


"Tidurlah..." ucap Faraz lembut.


"Mas..." Alia menarik kembali tubuh Faraz ke sisinya dengan menggengam kerah kaos oblong yang Faraz kenakan hingga menimpa dirinya dan membuat wajah Mereka menjadi begitu sangat dekat.


Faraz terseyum tipis dan kembali mencoba bangun dari atas tubuh Alia.


"Maaasss..." lagi-lagi Alia menarik Faraz ke sisinya.


"Sayang jangan menggoda Mas, Tidurlah."


"Bantu Aku menghilangkan rasa takut ini."


Faraz terhenyak mendengar ucapan Alia.


"Sekali saja Aku berhasil melewatinya, Maka Aku akan bisa melupakan hal buruk itu selamanya."


"Kamu yakin?"


"Ya, Aku ingin hidup normal seperti dulu tanpa ada bayang-bayang buruk yang menghantui ku"


"Baiklah, Kamu bisa menghentikan Mas kalau Kamu tidak merasa nyaman."


Alia menganggukkan kepalanya dan membiarkan Faraz menyentuhnya.


Dengan perasaan khawatir dan tegang, Faraz menaikan kakinya di atas kaki Alia. Kemudian mengecup lembut kening Alia kedua matanya dan kedua pipinya. Dengan sangat hati-hati Faraz memberikan kecupan-kecupan lembut meskipun ingin sekali Ia melakukannya dengan penuh gai'rah yang telah memuncak, Namun demi kenyamanan Alia, Faraz menahannya dan membiarkan Alia melawan rasa traumanya.


Kini Faraz sampai di tengkuk nya, Tempat dimana Malvin pernah menyentuhnya yang menjadikan Alia trauma luar biasa jika bagian itu di sentuh, Seperti saat ini Alia kembali membelalakkan matanya ketika Faraz mulai menelusurinya, Namun keinginannya untuk melawan traumanya membuat Alia sekuat hati membiarkan Faraz bermain di sana. Faraz menghirup ceruk leher Alia kemudian memberi esapan kuat di sana hingga membuat Alia meremad kuat seprei sambil kembali mengingat saat Malvin menyentuhnya. Namun belum sempat Alia memberontak Faraz membisikan kata-kata yang membuat Alia mengalihkan pikirannya.

__ADS_1


"Kau ingat saat Kita bulan madu? Emuuaaacchh."


"Itu hari yang paling indah dalam hidupku, Hanya ada Kamu dan Mas tanpa ada siapapun yang menganggu?"


Alia mulai tenang dan mengingat masa-masa indah bulan Madu Mereka yang begitu sangat romantis. Alia mulai memikirkan betapa Hot nya Faraz saat bermain di atas ranjang. Karena fikiran itu dan bisikan-bisikan kenangan kebersamaan Mereka, Faraz Berhasil membangkitkan gai'rah Alia hingga tak lagi mengingat sentuhan Malvin dan mulai menikmati esapan demi esapan yang Faraz berikan di area-area sensitifnya. Bahkan desa'han kecil mulai keluar dari bibir Alia.


Faraz mulai merasa sedikit lega dan kembali menurunkan kecupannya hingga ke belahan dada nya. sedangkan tangan kirinya telah mencengkeram bukit yang terlihat begitu penuh hingga tidak muat lagi dalam cengkramannya.


"Jangan pejamkan mata mu, Lihat Mas ahhhh." ucap Faraz di sela nafasnya yang kian memburu.


Alia menuruti Faraz dan melihat wajah Faraz yang tengah bermain di atas kedua bukitnya.


"Akhhhhh.. Aahhh..." nafas Alia semakin naik turun ketika tangan Faraz mulai merayap ke bawah sana.


"Sayang... Akhhhhh..." Faraz mencium perut Alia, Pusar hingga sampai di bawah sana yang terasa sudah basah.


Dengan mengungkung tubuh Alia Faraz bersiap melesapkan miliknya.


Alia mulai memejamkan matanya. Namun Faraz kembali melarangnya.


"Jangan pejamkan mata mu, Lihat Mas."


Dengan menganggukkan kepalanya, Alia menatap Faraz yang menengadahkan kepalanya ke atas bebarengan dengan melesapkan miliknya.


"Akhhhhh... Ssshhh.... Akhhhhh." Alia menahan perut Faraz yang begitu menekan miliknya hingga membuat dirinya merasakan sedikit rasa sakit dan nikmat secara bersamaan.


Faraz merapatkan tubuhnya dan menciumi Alia bertubi-tubi.


"Sayang... Eummmccchhh..." Alia memejamkan matanya menikmati luma'tan dan denyutan hangat di bawah sana. Namun bayangan Malvin kembali melintas di matanya yang terpejam hingga membuat Alia memberontak. Namun Faraz langsung mengendalikannya dengan kembali membisikan kata-kata cinta yang membuat Alia kembali menikmati hentakan demi hentakan yang Faraz lakukan.

__ADS_1


"Akhhh... Ahhhh... Ssshhh Hoghhh.." Faraz sengaja terus mende'sah agar bisa membuat Alia semakin tera'ngsang oleh permainannya.


Dan benar saja, Alia juga mulai melenguh sembari meliak liukan tubuhnya dengan indah.


"Kamu bisa Sayang... Ssshh Ahhh..."


"Maaasss..." lenguh Alia dengan mencengkeram lengan Faraz dengan kuat.


"Ayo Sayang... Sedikit lagi... Akhhh..."


Dengan menambah kecepatan akhirnya Faraz menumpahkan benih kehidupan di rahim Alia, Di susul oleh Alia yang melenguh panjang sembari memeluk Faraz yang menjatuhkan tubuhnya di atasnya.


"Kamu berhasil Sayang." dengan nafas yang masih tersengal Faraz menciumi Alia sebagai rasa bersyukur dan terimakasihnya karena Alia berhasil melawan rasa traumanya.


Alia mengangguk haru dan kembali memeluk Faraz dengan erat.


"Terimakasih, Mas sudah sabar menunggu ku."


Faraz kembali menciumi Alia dengan penuh kasih sayang.


"Kita akan menghadapi setiap masalah dan kesulitan bersama-sama, Dan akan ku pastikan, Masalah apapun yang menimpa rumah tangga Kita, Tidak akan bisa mengurangi besarnya cintaku padamu."


Alia kembali terharu mendengar ucapan Faraz.


Meskipun kini Mereka telah memiliki Anak. Namun rasa cinta Faraz kepadanya tidak berkurang sedikitpun. Malah rasa cinta dan kesabarannya semakin besar Alia rasakan, Padahal awal pernikahan Mereka Faraz begitu angkuh kasar dan kekanak-kanakan, Tapi seiring berjalannya waktu kini Faraz lebih bisa membuat Alia nyaman daripada awal pernikahan yang mengharuskan Alia selalu mengalah pada Faraz.


Alia terseyum mengingat akan hal itu dan mengecup pundak Faraz yang terdengar sudah mendengkur di ceruk lehernya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2