Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
Ranjang Ambruk


__ADS_3

"Faraz kemana Bu?" tanya Alia yang kembali ke tempat duduknya.


"ke toilet," ucap Ibu singkat.


"Udah dari tadi belum?"


"Sejak kamu menelfon,"


"Aku akan menyusulnya," ucap Alia beranjak dari duduknya.


"Mau ngapain, Dia hanya ke toilet, Lagian memangnya kamu mau ke toilet laki-laki?"


"Ya nggak sih, Tapi..."


"Tapi Aku sudah tidak sabar menanti suamiku yang tampan," sambung Faraz yang baru saja datang.


"Faraz apaan sih," cubit Alia yang merasa malu karena ada Ibu.


"Bisa Kita pulang sekarang?" tanya Ibu.


"Ya baiklah."


Mereka pun meninggalkan restoran tersebut.


Setelah kurang dari satu jam perjalanan Mereka sampai di rumah.


Ibu yang merasa lelah setelah seharian berjalan-jalan di pusat perbelanjaan langsung masuk ke kamarnya.


"Alia, Kenapa tidak bilang pada Ibu jika kita ingin pulang malam ini?"


"Bisakah Kita menginap satu malam lagi?" tawar Alia.


"Kenapa berubah fikiran, Kita kan sudah sepakat untuk menginap satu malam."


"Apa Kau tidak suka tinggal di rumah ku?"


"Bukan begitu, Tapi..." Faraz menghentikan ucapannya dan mengingat sesuatu.


"Tunggu, Kenapa Kau tiba-tiba ingin menginap lagi, Apa ini ada hubungannya dengan telfon yang Kamu terima saat di restoran?"


"Ee.." Alia langsung melangkah membelakangi Faraz.


"Apa itu telfon dari Ibu? Apa yang Ibu katakan?" selidik Faraz.


"Itu-Ee-Bb-bukan apa-apa," ucap Alia gugup.


"Alia Kau pernah melakukan ini Dan kali ini Kau tidak bisa membohongi ku,"

__ADS_1


Alia terdiam menatap Faraz.


"Kavita kembali kerumah kan?" tanya Faraz yakin.


"Kau sudah mengetahuinya?"


"Tidak, Tapi tadi di restoran Aku bertemu dengan suaminya, Dia sedang bersama gadis lain, Jadi Aku hanya menebaknya." Faraz menjeda ucapanya.


"Apa Kau khawatir kehadirannya akan mempengaruhiku?" tanya Faraz yang melihat kekhawatiran di wajah Alia.


"Faraz Kau begitu mencintainya..."


"Dulu!" tegas Faraz memotong ucapan Alia.


"Dulu sebelum Aku mencintaimu, Tapi sekarang tidak lagi, Sekarang Aku mencintaimu, untuk apa Kalian khawatir?"


"Tapi Ibu bilang..."


"Ibu pasti bilang agar Kau terus menahan ku disini, Atau menyuruhku tinggal di Kemang, Iya kan?"


Alia menganggukan kepalanya.


"Ibu sudah mengatakannya berkali-kali padaku, Karena Ibu fikir Aku masih seperti dulu, Tapi Aku pastikan, kali ini kehadirannya tidak akan mempengaruhi ku, Aku sudah ada dirimu yang mengisi hatiku, Aku tidak menginginkan wanita manapun lagi, termasuk Kavita." ucap Faraz menangkup wajah Alia.


Alia yang mendengarnya langsung memeluk Faraz dengan haru.


"Dan Aku sangat menyesal karena pernah menolakmu," ucap Faraz yang langsung menggendong tubuh Alia ke kamar.


"Faraz, jadi Kita tidak jadi pulang?" tanya Alia yang mengalungkan kedua tangannya di leher Faraz.


"Tidak! Setelah Aku fikir-fikir, Aku ingin mencari sensasi yang berbeda di kamar sempit ini," ucap Faraz membaringkan tubuh Alia di ranjangnya.


"Faraz... Apa Kau lupa dengan apa yang Kau katakan semalam?"


"Apa?" tanya Faraz yang seolah lupa dengan ucapannya sendiri.


"Kamar mandinya ada di luar, Katanya malu takut ketahuan Ibu," ucap Alia tertawa.


"Aku akan mandi sebelum subuh biar Ibu tidak lihat," ucap Faraz tertawa.


Keduanya terdiam dan saling memandang satu sama lain.


dengan lembut Faraz mengusap pipi Alia dan mengecup keningnya.


Faraz menurunkan kecupannya ke telinga Alia.


"I love u," bisiknya di ikuti dengan tiupan hangat ke lehernya hingga membuat Alia merasakan desiran aneh dalam tubuhnya.

__ADS_1


Faraz kembali menaikan kecupannya ke kedua mata Alia, ke hidung mancungnya dan berhenti di bibir.


keduanya saling memagut dan bergantian memasukan lidah nya untuk mencari ke nik matan yang lebih.


Desa'han kecil dari keduanya membuat kamar yang tidak menggunakan AC maupun kipas angin terasa kian panas.


Faraz melepaskan pagutannya dan membuka kemejanya, Dada bidang yang sudah bercucuran keringat membuat tubuhnya semakin terlihat menggoda di mata Alia.


Faraz menarik kedua tangan Alia dan membuka pakaiannya.


kemudian Faraz kembali melu'mat bibir Alia dengan penuh gai'rah.


Faraz yang berhasil membuka semua pakaian Alia langsung meremad kedua benda yang ada di depannya secara bergantian


sedangkan tangan kanannya memegang ceruk lehernya untuk memperdalam ciu'mannya.


"Eummm... Ahhhh... Eummm..."


Setelah puas bermain disana Faraz kembali membaringkan tubuh Alia,


Ia mengesap lehernya dan meninggalkan banyak tanda merah disana.


"Ssshh Akhhhhh... Akhhhhh..."


Desa'han demi desa'han keluar dari bibir Alia dengan sendirinya.


Faraz yang mendengar desa'hanya semakin bersemangat dan menurunkan permainannya ke kedua benda yang semakin terlihat menantang.


Sentuhan demi sentuhan yang terus Faraz berikan sampai ke bawah,


Membuat Alia merasakan tubuhnya serasa ingin meledak,


Faraz yang melihat Alia sudah siap, Segera melesapkan miliknya.


"Arrrgghhhh..." lenguh Faraz yang merasa milik Alia begitu menjepit miliknya.


Sedangkan Alia memejamkan mata sembari menggenggam erat seprei saat benda keras menerobos masuk ke intinya dengan sedikit memaksa.


Setelah mengatur nafasnya Faraz mulai menggerakkan panggulnya secara perlahan, Sesekali sambil melu'mat bibir Alia, Semakin lama Faraz mempercepat tempo permainannya yang di barengi dengan


desa'han demi desa'han yang saling bersautan.


"Akhhhh... Akhhhhh... Ssshhh..." disaat keduanya hampir mencapai puncak di saat bersamaan ranjangnya ambruk hingga mengagetkan keduanya.


"Ohhh... Shiiiittt...!!!"


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2