
Kavita tiba di rumah.
Di saat bersamaan Zeenat dan Shehzad tengah keluar meninggalkan pelataran rumahnya.
Dari dalam mobil Mereka melihat Kavita turun dari taksi dengan koper besarnya.
Zeenat dan Shehzad saling menatap dengan pikirannya masing-masing.
"Apa Kau memikirkan hal yang sama denganku?" tanya Zeenat.
"Apa yang Kau fikirkan?" Shehzad balik bertanya.
"Sepertinya Kavita tengah bermasalah dengan suaminya," ucap Zeenat.
"Ya, Aku juga berfikir demikian,"
"Aku merasa khawatir, Bagaimana jika kepulangan Kavita mempengaruhi Faraz?"
Shehzad menghelai nafas dengan kasar.
"Shehzad... Kau tau begitu sulitnya Faraz lepas darinya, sekarang Faraz tengah menikmati pernikahan dengan cinta barunya, Aku tidak ingin Faraz kembali terpengaruh jika Ia melihat Kavita kembali kerumah," ucap Zeenat khawatir.
"Lalu apa yang ingin Kau lakukan?"
"Kita bisa menyuruh Faraz dan Alia menempati rumah yang ada di Kemang," ucap Zeenat.
"Tapi sampai kapan Kita menyuruh Faraz lari? Dia harus menghadapi semua masalah dan cobaan yang akan menghadangnya di kemudian hari." ucap Shehzad.
"Tapi Aku benar-benar khawatir, Apa lagi Faraz mudah sekali luluh dengan Kavita, Bagaimana jika nanti Faraz merasa kasihan pada keadaan Kavita?"
"Justru menurut ku ini kesempatan untuk mengujinya, Apa Faraz masih terpengaruh olehnya atau tidak," ucap Shehzad.
"Aku tidak mau mengambil resiko, Aku tidak ingin mempertaruhkan kebahagiaan Faraz dan Alia" tegas Zeenat.
"Baiklah terseah Kamu saja," ucap Shehzad mengakhiri pembicaraan.
°°°
"Kavita Kau pulang?" tanya Bu Risma sembari melihat-lihat ke ujung jalan.
"Kemana suamimu?" lanjutnya.
__ADS_1
"Bisa Aku masuk dulu?" tanya Kavita sedih.
"Ya, Masuklah."
Kavita langsung masuk ke kamarnya, Di ikuti oleh Ibu yang berjalan di belakangnya.
"Kavita apa yang terjadi, kenapa kamu membawa semua pakaianmu?"
"Aku sudah tidak tahan lagi Ibu, Tidak ada yang menyukaiku disana, Bahkan Dev tidak pernah membuatku merasa nyaman," ucap Kavita.
"Kau lihat sekarang Kavita, Buah dari perbuatan mu? Sejak Kau menghianati Faraz Ibu sudah mengatakan agar Kau meninggalkan Dev dan kembali pada Faraz, Faraz begitu mencintaimu sampai mengabaikan semua kesalahanmu, Tapi Kau tetap saja tidak mendengarkan Ibu dan nemilih Dev yang jelas-jelas keluarganya begitu sombong."
Kavita menyangga kepalanya dengan kedua tangannya.
Ia tidak habis fikir, Ibu yang jadi satu-satunya harapannya untuk bersandar, Bukannya mengasihaninya malah mengingatkan penghianatannya pada Faraz.
°°°
"Masak apa?" bisik Faraz di telinga Alia.
"Hey!" Alia begitu terkejut melihat Faraz yang tiba-tiba memeluknya dari belakang.
Faraz terseyum dengan reaksi Alia.
Tanpa membantah Faraz melepaskan pelukannya dan berdiri di depan Alia.
"Menyingkirlah, Apa Kau mau terkena wajan panas ini?" ucap Alia mendorong tubuh Faraz ke sisi kanannya.
Faraz terus menatap Alia yang tengah sibuk menyiapkan makan siang untuknya.
"Faraz berhenti menatapku," ucap Alia yang menjadi malu.
"Kenapa, Aku menatap istriku sendiri, Apa salahnya?"
"Aku jadi tidak fokus, lihatlah tadi Aku sudah memasukan garam atau belum," ucap Alia.
"Coba saja rasanya," ucap Faraz mengambilkan sendok.
Alia mengikuti saran Faraz dan mengambil sedikit kuah untuk mencicipi masakannya.
Baru saja Alia menempelkan sendok ke bibir nya, Faraz ikut menempelkan bibirnya ke sendok hingga bibir keduanya nyaris menyatu.
__ADS_1
Alia membelalakkan matanya melihat apa yang Faraz lakukan.
Faraz menaikan alisnya untuk menggodanya.
"Faraz..." Alia menjadi merona.
Faraz terseyum dan menyingkirkan sendok dari tangan Alia.
Kemudian meraih pinggangnya dan merapatkan tubuhnya.
Faraz menatap wajah Alia dengan lekat, menyelipkan rambut ke belakang telinganya dan berusaha menciumnya.
Alia menundukkan wajahnya, Dengan segera Faraz kembali mengangkat dagunya.
Faraz menarik dagu Alia mendekat dan kembali ingin menciumnya.
Mereka memejamkan matanya bersiap menyatukan bibirnya.
belum sempat bibir itu menyatu, mereka di kagetkan oleh teriakan Ibu.
"ALIAAAA...!!!"
Faraz dan Alia terlonjak menatap Ibu datang.
"Apa yang sedang kalian lakukan, Lihat masakanmu?"
Alia dan Faraz tercengang melihat masakannya yang sudah di penuhi asap hitam.
Mereka pun panik kesana kemari.
"Matikan dulu kompornya!" pekik Ibu.
"Oh Iya." Alia langsung mematikan kompornya.
"Faraz jangan diam saja, Buka semua jendela biar asapnya hilang," ucap Alia.
"Ya." Faraz langsung membuka semua jendela yang ada di dapur.
Ibu menghelai nafas dengan kesal.
"Kau lihat itu Faraz, Semua gara-gara dirimu, Sekarang Ibu pasti marah lagi padaku," ucap Alia mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
Bersambung...