Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
Kondisi Dev


__ADS_3

Keluarga Dev tiba di rumah sakit.


Dengan perasaan cemas dan khawatir Mereka segera turun dari mobilnya dan berlari menuju ruang informasi.


"Suster dimana Putraku dirawat?"


"Tenang Nyonya, Siapa nama Putra Anda?" tanya Suster dengan ramah.


"Dev, Devano Andreas Aneja."


"Korban kecelakaan mobil." tambah Divya.


Suster pun mencari daftar nama pasien yang masuk.


setelah lima menit mencari, suster pun menemukan nama yang di maksud.


"Untuk nama pasien atas Nama Devano Andreas Aneja masih dalam penanganan Dokter."


"Maksudnya Putraku masih di operasi?"


"Benar Tuan."


"Di mana ruang operasi nya?"


"Dari sini lurus saja, Belok kiri lurus sedikit."


"Baiklah Terimakasih."


Dengan setengah berlari, Mereka menuju ruang operasi.


•••


Faraz dan Alia berbaring di dalam tenda tersebut.


Dengan posisi kepala Alia di dada Faraz, Keduanya bisa saling memeluk satu sama lain. Tenda tersebut memang kecil sehingga hanya pas di tubuh mereka dengan posisi seperti itu. Bahkan Faraz harus melipat kakinya karena kakinya lebih panjang daripada tendanya.


Keduanya tersenyum saling menatap mencari posisi yang paling nyaman.


"Oke, Begini lebih baik." ucap Faraz menambah ketinggian bantalnya.


Alia terseyum menatapnya.


"Tenda ini terlalu kecil." uca Alia.


"Ya itu benar, Tapi dengan ini, Aku jadi bisa terus memeluk mu." Faraz mempererat pelukannya.


"Faraz."


"Hem"


"Maafkan Aku,"


"Kenapa meminta maaf?" Faraz mengangkat dagu Alia agar menatapnya.

__ADS_1


"Kamu harus berpuasa." ucap Alia tertawa.


"Oh ya ampun, Baiklah itu tidak masalah yang terpenting Kamu sehat dulu, Pulih sepenuhnya setelah itu Kita bisa bulan madu lagi."


"Hagh!"


Faraz terseyum sembari menutup bibir Alia yang terbuka karena tercengang mendengar ucapan Faraz.


"Kamu berfikir untuk bulan madu lagi?"


"Aku belum memikirkannya, Tapi kalau Kamu menginginkannya, Akan ku kabulkan, Cepatlah pulih." ucap Faraz menhecup ujung kepala Alia.


Alia kembali membenamkan wajahnya di dada Faraz sembari mempererat pelukannya.


Faraz mulai memejamkan matanya sembari mengusap lembut punggung Alia.


•••


Setelah menunggu kurang lebih tiga jam akhirnya pintu IGD terbuka.


Seluruh keluarga Dev segera menghampiri Dokter.


"Bagaimana Putra ku Dokter?" tangis Vidya.


"Kondisinya masih kritis," ucap Dokter menjeda ucapanya.


Vidya yang mendengar kondisi Putra kesayangannya hampir kehilangan keseimbangannya.


"Ibu!" Divya dan Ayahnya menahan tubuh Vidya.


"Ya, Karena hampir 70 % anggota tubuhnya mengalami cendra parah.


pendarahan pada kepala, Pergelangan tangan kanan yang bergeser, Hingga..."


"Hingga apa Dokter?" tanya Divya cemas.


"Hingga mengalami patah tulang di kakinya." ucap Dokter yang menyampaikan dengan berat hati.


"Deeeevvvv...." jerit Vidya.


"Mohon tabahkan hati Anda, Kami akan sudah berusaha semaksimal mungkin." ucap Dokter mencoba menenangkan.


"Divya, Jaga Ibu mu, Ayah ingin bicara dengan dokter."


Divya mengangguk dan mengajak Ibu duduk.


"Dokter, Putraku masih bisa di sembuh kan?"


"Keajaiban itu pasti ada, Tapi untuk bisa hidup dengan normal seperti dulu lagi, Kemungkinannya sangat kecil."


"Maksud Dokter?


"Cedera kepalanya cukup berat dan ini dapat menyebabkan kerusakan pada otaknya. Otak yang mengalami cedera atau kerusakan dapat menimbulkan gangguan yang beragam, di antaranya : Gangguan keseimbangan dan hilangnya koordinasi tubuh, Gangguan fungsi indra pengecap dan penciuman, Kesulitan berpikir dan Perubahan perilaku dan emosional."

__ADS_1


Aneja merasa begitu sesak mendengar penjelasan dari Dokter.


"Tidak cukup sampai disitu, Patah tulang di kakinya juga akan membutuhkan waktu yang sangat lama, Ya itu sekitar 4-6 bulan bahkan bisa bertahun-tahun." jelas Dokter lagi.


"Jadi maksud Dokter Putraku tidak akan bisa berjalan dengan normal lagi?"


"Seperti yang Saya bilang Tuan, Semua membutuhkan waktu."


Aneja menarik nafas panjang dan mengusap wajahnya dengan perasaan nyeri di hatinya.


"Baik Tuan, Saya tinggal dulu." ucap Dokter lalu pergi.


•••


Semilirnya angin malam terasa menusuk tulang-tulang Alia yang masih tidur di atas atap hanya terlindungi oleh tenda kecil berkelambu tipis yang tentunya tidak dapat menghangatkan tubuhnya.


Alia mulai menggigil dan meremad kencang baju Faraz hingga menembus kulitnya.


"Aowwh..." ringis Faraz yang merasa perih akibat Jari-jemari Alia menembus kulitnya.


Faraz membuka mata sepenuhnya dan melihat Alia dengan bibir bergetar karena kedinginan. Sedangkan tangannya terus meremad baju Faraz dengan kencangnya.


"Sayang kamu kedinginan?" Faraz mengakat tengkuk Alia agar menatapnya. Namun tida ada jawaban dari Alia, Matanya terus terpejam, Bibirnya sedikit terbuka dengan suara khas orang kedinginan.


Tanpa berfikir lagi Faraz langsung memag*ut bibir Alia.


Tangannya mengusap-usap punggungnya dengan gerakan sedikit kasar agar Alia mendapatkan kehangatan.


Faraz terus melu mat dan mengesap lidahnya dengan agresif. Terlihat Alia yang mulai merenggangkan genggaman tangannya pada baju Faraz. Kemudian Faraz beranjak bangun dan membopong tubuh Alia tanpa melepaskan tautan bibirnya.


Alia mengalungkan kedua tangannya ke leher Faraz hingga mereka sampai di kamarnya.


Faraz membaringkan tubuh Alia dan menatap Alia dengan bertumpu pada kedua lutut dan tangannya.


"Faraz...Hhh..." lirih Alia, yang terdengar seperti desa han.


Faraz mengusap pipi Alia dan kembali mengangkat tengkuknya untuk kembali mencum bunya.


"Eummmcccc.. Eummhhh..." Keduanya menikmati bagutan yang lebih dari satu Minggu tidak mereka rasakan.


"Sayaaang... Eummhhh..." erang Faraz saat tangannya mulai menjelajahi buah dada Alia.


Alia yang sebelumnya menggigil kedinginan kini berganti butir-butir keringat memenuhi tubuhnya. Hawa panas mulai merasuki tubuhnya.


Tubuhnya menggelinjang hebat ketika Faraz mengesap dengan kuat buah dada nya.


"Faraaaaz... Ahhh..." Alia meremad rambut Faraz dengan menggigit bibir bawahnya.


Faraz yang mendengar suara-suara khas dari bibir Alia membuat miliknya terasa begitu sesak di bawah sana.


"Sayang Aku tidak tahan lagi." bisik Faraz dengan suara parau.


"Terus gimana, Aku masih berdarah." ucap Alia yang menahan tawanya.

__ADS_1


Bersambung...


BACA JUGA "PESONA MAJIKAN'KU" SI DUDA BUCIN 🤣


__ADS_2