
Faraz merasa terkejut dan salah tingkah melihat tatapan mata Alia yang begitu tajam padanya.
Faraz merasa tegang dan mengalihkan pandangannya kesana kemari.
"Ada apa Faraz? Ee-Maksudku Mas, Faraz." Alia menepuk keningnya sendiri karena lidahnya masih sangat kaku untuk memanggil suaminya dengan sebutan "Mas"
Faraz menghelai nafas perlahan dan merasa sedikit lega karena sepertinya Alia tidak mendengar pembicaraannya.
"Kenapa Kau, Ee... Kenapa Mas terlihat sangat tegang?"
"Sayang..." Faraz langsung melangkah mendekati Alia.
"Kamu kesini? Dengan siapa, Kenapa tidak memberitahu ku?"
"Jangan khawatir, Aku di antar Supir."
"Baiklah, Katakan apa yang membuatmu kemari?"
"Aku membawa makan siang untuk Mas Faraz." Alia terkekeh sendiri sambil menunjukan kotak makan yang Ia bawa.
"Benarkah? Kebetulan sekali Aku juga belum makan."
"Kalau begitu Ayo Kita makan bersama." ucap Alia kemudian menyajikan makannya.
Faraz yang menatap Alia yang terlihat begitu ceria memutuskan untuk tidak merusak suasana hatinya dengan memberitahukan pembicaraannya dengan Kavita.
•••
Divya sampai di alamat yang Cindy berikan.
Divya membuka kaca mata hitamnya dan menatap rumah yang cukup besar dengan satu buah mobil di garasi rumahnya.
Divya mulai melangkah mendekati gerbang. Karena gerbang yang hanya tertutup separuhnya, Divya langsung masuk mendekati pintu.
Tok... Tok... Tok...
Cukup lama Divya menunggu sampai akhirnya seorang wanita membukakan pintu untuknya.
Divya memperhatikan wanita itu dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Wajah yang cukup cantik dengan rambut panjang ikal terurai serta baju tidur dress berwarna fanta sebatas lutut.
"Persis wanita murah*an," batinnya.
"Hallo..." wanita itu menjentikkan jarinya di depan wajah Divya.
"Apa yang Anda lihat? Dan siapa yang Anda cari?"
"Maya." jawab Divya tanpa basa-basi.
__ADS_1
Wanita itu menjadi salah tingkah.
"Kamu Maya kan?"
Wanita itu mengerutkan keningnya melihat tatapan Divya yang seakan mengintimidasi dirinya.
"Dasar wanita murah*an! Gara-gara dirimu Adik ku sekarang diantara hidup dan mati!" Divya mencengkeram lengan Maya hingga Maya merasakan kuku-kuku Divya menancap di sana.
"Lepaskan Aku." Maya mencoba melepaskan diri namun Divya tidak melepaskannya begitu saja.
Divya terus mendesak Maya agar mengaku siapa Ayah dari bayi yang Ia kandung. Namun belum sempat Maya menjawab seorang Pria keluar dari dalam.
"Sayang..."
Divya yang mendengar langsung melepaskan cengkramannya, Sura yang tidak asing di telinganya, Divya mencoba melihat ke dalam.
"Maya dimana Kau menyim...." pertanyaan Pria itu menggantung ketika melihat Divya yang juga terperangah melihatnya.
"Divya..."
"Handry..."
Ucap keduanya yang sama-sama terkejut dengan pertemuan yang tak terduga.
Maya terdiam bingung melihat Divya dan Pria yang bernama Handry itu.
"Jadi di belakang ku Kau mengkhianati ku?" pekik Divya merangsek masuk mendekati Handry.
"Penjelasan apa! Sebulan lagi Kita menikah, Tapi Kau berselingkuh dengan wanita menjijikkan ini," Divya menunjuk wajah Maya.
"Wanita yang hampir merenggut nyawa Adikku, Calon Adik ipar mu."
Handry hanya bisa menundukkan kepalanya.
Ia tidak tau harus mengelak apa, Karena memang itulah kenyataannya.
"Tunggu." Divya menyadari Handry yang hanya mengenakan celana pendek, Sedangkan Maya hanya mengenakan dres tidur tipis yang menampakkan perutnya yang terlihat sudah sedikit membuncit.
"Jangan-jangan Bayi yang ada dalam kandungan wanita murah*an ini adalah bayi mu bukan Bayi Dev?"
"Divya..." Handry mencoba memegang tangan Divya. Namun segera di tepis olehnya. Sedangkan Maya hanya menundukkan kepalanya, karena Dia sendiri tidak tau siapa sebenarnya Ayah bayi yang ada dalam kandungannya.
"Menjijikkan!" ucap Divya yang berlalu pergi meninggalkan rumah Maya.
"Divya... Divya..." Handry mencoba mengejar namun Maya menarik tangannya.
"AAAARRRGGGHHHH..!!! Apa istimewanya wanita murah*an itu sampai Dua orang yang paling Aku cintai jatuh dalam pelukannya." triak Divya memukul stir mobilnya.
•••
__ADS_1
Di rumah sakit Dev mulai membuka matanya.
samar-samar Ia melihat langit-langit ruangan dimana Ia di rawat.
Dengan pandangan yang masih kabur, Dev menggerakkan kepalanya mencari seseorang. Ia melihat Ibunya yang tertidur di kursi samping ranjangnya.
"Bu..." dengan sangat lirih Dev mencoba memanggil Ibunya. Namun suara Dev yang begitu lemah membuat ibu tidak mendengarkannya.
Kini dev mencoba mengangkat tangannya untuk menyentuh Ibunya. Namun sakit yang luar biasa Ia rasakan di pergelangan tangannya.
"Aaaaa..." ringis Dev menahan rasa sakitnya. Hal ini membuat Ibu terbangun dan begitu terkejut melihat Dev yang akhirnya telah sadarkan diri.
"Dev... Sayang... Kamu sudah sadar?"
Dengan alat Ventilator yang masih terpasang di mulutnya tentu membuatnya sulit berbicara.
"Bu.." ucap Dev yang tidak seberapa jelas.
"Ibu Akan panggil Dokter Sayang, Tunggu sebentar."
Dev merasa seluruh tubuhnya teramat sakit, Ia menatap awang-awang dan mengingat bagaimana dengan kerasnya Ia menabrak truk tronton hingga tak mengingat lagi apa yang terjadi setelah itu.
Tak terasa air matanya menetes hingga mengalir ke telinganya.
Ia mengingat begitu banyak dosa yang sudah Ia lakukan, Ia juga mengingat Kavita dan Anak yang sampai detik ini Ia tidak mengetahui jika bayi Mereka telah lahir.
"Cepat periksa putraku Dokter, Putraku sudah siuman." ucap Ibu yang kembali bersama dengan Dokter.
Dokter pun memeriksa keadaan Dev.
"Lepaskan Ventilator ini." ucap Dev yang tidak begitu jelas Ia ucapkan. Namun Dokter yang memahami maksudnya menuruti ke inginkan Dev.
"Ibu..."
"Ya Sayang,"
"Apa Ibu sudah menghubungi Kavita?" tanyanya lemah.
Ibu menggelengkan kepalanya.
"Tolong beri tau Dia Ibu, Bawa Dia kesini, Aku takut tidak memiliki waktu lagi."
"Apa maksud mu Dev?" tangis Ibu.
"Ibu, Seluruh tubuh ku sakit sekali, Aku takut tidak memiliki kesempatan untuk meminta maaf padanya." ucapnya yang semakin lemah.
"Ibu akan menjemputnya, Tapi berjanjilah Dev, Kamu harus bertahan."
Dev kembali terpejam dengan lemah, Sedangkan Dokter kembali memasang alat bantu pernafasannya.
__ADS_1
Bersambung...
BAB INI BERESIN SCENE KELUARGA DEV DULU YA, NTAR KALAU SUDAH BERES KITA CARI YANG ENAK-ENAK LAGI 🤪