Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
Kemarahan Berbalut Cinta


__ADS_3

"Woyyy Anak Sultan, Ikuti mobilku dan jangan membawa Alu ke tempat lain," pekik Sahid.


Faraz hanya melihat Sahid sekilas dan membukakan pintu untuk Alia.


Dengan cemberut Alia masuk ke mobil.


Faraz tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat istrinya yang terus saja melipat wajahnya.


Alia langsung memalingkan wajahnya ketika Faraz membantu Memasangkan sabuk pengaman untuknya.


"Sudah," ucap Faraz.


Alia pun kembali menoleh dan pipinya menempel sempurna ke bibir Faraz.


Alia membelalakkan matanya karena kaget.


Faraz tersenyum dan kembali ketempat duduknya.


"Apa Kau sengaja melakukannya?" tanya Alia kesal.


"Apa salahnya," ucap Faraz santai.


Alia yang mendengar jawabn Faraz semakin kesal di buatnya.


"Alia Kau ini kenapa, bukankah kita sudah menikah lalu apa salahnya jika Aku sengaja? Bahkan Aku berhak mendapat lebih dari ini," ucap Faraz tersenyum dan menjalankan mobilnya.


"Faraz ingat! Aku belum...."


"Memaafkanmu," sambung Faraz.


"Meskipun beribu kali bibirmu mengatakan Kau tidak memaafkanku, tapi Aku tidak melihat Kau sepenuhnya marah padaku." lanjut Faraz.


"Faraz memang benar, Meskipun Dia sudah begitu menyakiti hatiku dengan kata-katanya dan selalu bersikap kasar padaku, tapi beberapa hari ini Dia berusaha keras untuk meminta maaf padaku," batin Alia.


"Kau bisa menatapku sepanjang perjalan ini," ucap Faraz yang terus menatap lurus kedepan.


Alia langsung mengalihkan pandangannya dan kembali merasa kesal.


Faraz kembali tersenyum menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


°°°


Tidak lama kemudian Mereka sampai di rumah calon mempelai wanita.


Mereka semua disambut dengan ramah.


Kedua keluarga telah berkumpul dan acara lamaran pun di mulai.


Kedua keluarga sibuk membicarakan pernikahan Sahid dan Aneri,


Sedangkan Faraz sibuk mengganggu Alia.


"Alia, Apa sebelum Kau menikah dengan ku, Kau memipikan lamaran seperti ini?" bisik Faraz yang melihat Sahid Berlutut melamar Aneri di depan kedua keluarga.


Alia hanya diam dan mengabaikan pertanyaan Faraz.


"Kenapa para wanita suka sekali membuat sang lelaki tertunduk di kakinya seperti itu, Apa wanita ingin menunjukkan jika Dia lebih hebat dari laki-laki?" tanya Faraz lagi.


Tepuk tangan gemuruh mengiringi Sahid yang memakaikan cincin di jari manis Aneri.


"Bisakah Kau berhenti bicara, Kau tidak akan tau tentang ini, karena hidupmu terlalu kaku." ucap Alia kesal.


"Benarkah hidupku terlalu kaku?" ucap Faraz menggenggam kedua lengan Alia.


"Faraz lepaskan Aku, ada banyak orang disini, jaga sikapmu," lirih Alia.


"Kenapa, Kau takut?" Faraz menatap tajam Alia dan mendekatkan wajahnya.


"Apa ada Masalah?" tanya Bibi yang melihat tingkah Faraz dan Alia.


Faraz langsung melepaskan Alia dan melihat semua orang sedang menatap Mereka.


"Ee... E... Tidak ada Bibi, Kami hanya berbincang saja, Ee... Iya kan Alia?" tanya Faraz gugup.


"Ya, Itu benar Bibi Kami hanya berbincang-bincang," saut Alia.


"Apa kalian tidak bisa berbincang nanti dan menghormati acara ini sebentar saja?" tanya Bu Fareeda dengan sinis.


"Tidak masalah Nyonya, Mungkin ada hal yang penting yang tidak bisa mereka tunda." ucap Ibu Aneri terseyum ramah.

__ADS_1


"Menantuku yang satu ini memang selalu saja menggoda istrinya," ucap Bibi menjewer telinga Faraz.


Semua orang pun tertawa mendengarnya.


"Ini semua gara-gara kamu," lirih Alia kesal.


"Kenapa Kau menyalahkanku, Ini semua kan...."


"Kemarilah Nak, Kenapa berdiri di situ saja, Mari kita nikmati hidangannya," ucap Ibu Aneri yang memotong ucapan Faraz.


Faraz dan Alia pun mengangguk dan ikut makan bersama mereka.


Sahid dan Aneri berada di luar rumah.


"Selangkah lagi," ucap Sahid tersenyum menatap Aneri.


Aneri pun tersenyum dengan pipi yg merona.


"Habiskan lah malam terakhirmu dengan Ibumu karena besok Kau akan pergi jauh darinya," ucap Sahid.


"Tapi berjanjilah Kita akan sering mengunjungi keluarga ku"


"Ya Aku janji," ucap Sahid tersenyum.


Sahid menangkup wajah Aneri dan mendekatkan wajahnya.


"Eehemm...!!!"


Sahid dan Aneri kaget melihat Faraz datang,


Kemudian di ikuti Alia dan seluruh keluarga.


"Baiklah Sahid kita pulang sekarang,"


Sahid mengangguk, dan melambaikan tangannya pada Aneri.


"Belum Sah dah nyosor aja," ucap Faraz pada Sahid.


"Daripada Kamu sudah sah masih di cuekin aja," ejek Sahid.

__ADS_1


"Kau!" Faraz merasa kesal mendengarnya.


Bersambung...


__ADS_2