
Dev dan keluarganya sampai dirumah.
Mereka yang memang terpaksa datang ke rumah Kavita demi Dev merasa kesal dengan Kavita yang tidak menyambut baik kedatangannya.
"Lihatlah bagaimana Kavita begitu sombong mengabaikan niat baik kita," ucap Divya kesal.
"Dev apa kamu merasa jika Kavita tidak senang dengan kedatangan mu?" sambung Ibu
"Itu tidak benar ibu, mungkin Kavita hanya marah saja pada ku karena Aku tidak memberikan Dia kabar dalam beberapa hari," ucap Dev.
"Ya sudah bahas lain waktu saja, Sekarang kamu beristirahatlah Dev," ucap Ayah.
"Ayo pergi ke kamar mu," ucap Ibu mengantar Dev kedalam.
°°°
"Baiklah Alia, Pasti kamu sudah merasa lelah, Ibu akan mengantarmu ke kamar."
Alia mengangguk dan mengikuti Bu Zeenat naik ke atas.
"Alia, Ibu minta maaf karena jawaban Faraz, wartawan jadi mempermalukan mu,"
"Tidak apa-apa Ibu, memang seperti itu kenyataannya dan Aku tidak malu dengan pekerjaan ku," ucap Alia tersenyum.
"Kamu benar-benar gadis yang baik dan rendah hati, Suatu saat Faraz akan bersyukur karena telah menikahi mu," ucap Ibu tersenyum.
Mereka pun sampai di depan kamar Faraz.
"Alia, Ibu juga minta Maaf karena Faraz tidak mendampingi mu menemani tamu-tamu yang hadir malam ini sampai Kamu harus menghadapi berbagai macam pertanyaan dari mereka.'
"Tidak apa-apa Ibu, Kan sudah ada Ibu yang mendampingi ku sepanjang hari ini,"
"Baiklah... Sekarang masuklah,"
__ADS_1
Alia mengangguk dan masuk ke kamar Faraz.
Ibu tersenyum dan meninggalkan Alia.
Alia merasa begitu tegang, Netra nya melihat ke semua sisi kamar yang hanya di sinari lampu tidur, Netra nya terus mencari sosok yang kini telah menjadi suaminya.
"Selamat datang gadis cupu," ucap Faraz yang terlihat duduk menyandar di sofa.
Alia hanya terdiam mengalihkan pandangannya.
Faraz bangun dan menyalakan lampunya,
Ia berjalan dan mendekati Alia dengan tatapan tajamnya.
"Apa sekarang kamu merasa senang?" tanya Faraz yang terus merapatkan tubuhnya.
"Apa maksudmu?" Alia melangkah mundur menghindari Faraz.
Kamu membawa ku ke rumahmu karena Kau tau Aku adalah Faraz Shehzad Shaikh kan?
Dan gosip yang beredar tentang kita di media itu pasti kamu juga yang menjual berita itu agar kamu bisa menikah dengan ku, Benarkan semua yang ku katakan?!"
"Apa yang kamu katakan? Apa Aku akan mencemarkan nama baik ku sendiri? Bahkan Aku sampai di marahi Ibu karena membawamu pulang kerumah, apa menurutmu itu juga sandiwara?"
"Ya itu bisa saja, Kamu dan Ibu mu bersekongkol untuk menjebaku, menjebak Ibu ku agar Ibu ku merasa bersalah dan menikahkan kita, Iya kan?!"
Plaakkkkk...!!! Satu tamparan mendarat di pipi Faraz.
"Kamu boleh saja menghinaku, tapi jangan sekali-kali menuduh Ibu ku melakukan hal serendah itu!" ucap Alia menunjuk wajah Faraz.
"Kau berani menampar ku?" Faraz yang begitu sangat marah langsung mencengkram wajah Alia sampai tubuh Alia tedorong ke belakang.
"Aku sudah muak menghadapi orang-orang miskin seperti mu yang bisanya hanya memanfaatkan kekayaan ku untuk mencapai tujuan kalian," Faraz terus mencengkram kedua pipi Alia sampai Alia terjatuh di ranjangnya,
__ADS_1
Secara berbarengan Faraz pun ikut terjatuh di atas tubuh Alia.
"Aaaahhhh..." Alia menahan beban tubuh Faraz yang dirasanya begitu berat.
"Bucin... Bangun...Eeghhh...." Alia berusaha mendorong tubuh Faraz, namun Faraz diam saja dengan posisi kepala terbenam di pundak Alia.
"Bucin..." sekuat tenaga Alia mendorong tubuh Faraz, dan Akhirnya Faraz terbaring di sampingnya.
Kini Alia yang berada di sisi lengan Faraz,
Wajah keduanya menjadi sangat dekat.
Alia menatap Faraz dan melihat Faraz telah memejamkan matanya.
"Buciiiin.... Buciiiin..." Alia mengayunkan lengan Faraz, namun Faraz tidak juga bangun.
Aliapun menempelkan telinga nya di dada Faraz, dan berusaha mendengar detak jantungnya.
"Jantungnya masih berdetak, tapi kenapa Dia terus terpejam seperti orang yang telah tiada?"
gumam Alia.
Alia pun teringat kata-kata Bu Zeenat yang mengatakan jika Faraz selalu minum jika dirinya merasa tertekan.
Alia mendekat ke wajah Faraz untuk memastikan apakah Dia minum atau tidak,
Saat Alia ingin mencium nafasnya, Alia terdiam sejenak menatap wajahnya,
Detakan jantungnya menjadi lebih cepat dari sebelumnya,
Alia terus mengamati setiap inci wajah Pria tampan di depannya yang kini telah menjadi suaminya.
Bersambung...
__ADS_1