Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
Yang Sulit Terucapkan


__ADS_3

Seluruh keluarga meninggalkan rumah Aneri.


Begitu pun dengan Faraz dan Alia.


Melihat keindahan malam terbesit pikiran untuk mengajak Alia menikmati kota yang memiliki banyak julukan itu.


"Alia bisa Kita jalan-jalan dulu sebelum kita pulang" tanya Faraz yang langsung menghentikan mobilnya.


"Besok pagi Akad nikah Sahid, Aku tidak ingin terlambat,"


"Sebentar saja," rengek Faraz.


"Jika Kau mau jalan-jalan, Pergi lah sendiri," ucap Alia sambil membuka pintu mobilnya.


"Hegh! Mau kemana?" Faraz segera menarik tangan Alia.


"Kamu bilang ingin jalan-jalan, Silahkan saja, Aku tidak mau jadi Aku akan mencari taksi."


"Alia Aku hanya ingin kita meluangkan waktu bersama, Sebentar saja Alia,"


Alia terdiam sejenak dan kembali ke tempat duduknya.


"Tapi Aku tidak mau sekarang, Aku benar-benar merasa lelah dan ingin segera tidur," ucap Alia datar.


Faraz menarik nafas panjang menahan kekecewaan di hatinya.


"Alia benar-benar menguji kesabaranku," batin Faraz


Faraz menoleh ke Alia yang terlihat sudah bersandar dan memejamkan mata.


"Faraaaaz... Bersabarlah, Selama ini Alia sudah cukup bersabar kepadamu, sekarang giliranmu." ucap Faraz dalam hati.


°°°


Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, Faraz sampai di rumah Sahid.


"Kita sudah sam..." Faraz menghentikan ucapannya saat melihat Alia masih tertidur.


Faraz terseyum dan ingin membangunkannya. Namun Faraz mengurungkan niatnya.


Kemudian Faraz turun dan menggendong Alia kedalam.


"Apa yang terjadi kenapa dengan Alia?" tanya Bibi yang melihat kedatangan Mereka.


"Ssssttttt....." Faraz mengisyaratkan supaya Bibi diam.


Bu Fareeda yang baru keluar dari dapur hanya melihat Faraz menggendong Putrinya.


"Kenapa dengannya dan kenapa mereka baru sampai?" tanya Bu Fareeda.


"Biarkan saja Bibi, Mungkin Mereka habis jalan-jalan dan Alia kelelahan lalu ketiduran." ucap Sahid yang juga berada disana.


Faraz membaringkan tubuh Alia.


Membuka high heels nya dan melepaskan jam tangan yang Alia kenakan.


Faraz menggenggam tangannya dan menatap lekat wajah Alia.


Wajah yang selama ini Ia Padang sebelah mata, kini terlihat begitu cantik di matanya.


"Tidurlah dengan nyenyak, Karena setelah malam ini, Aku tidak akan membiarkan mu melewati malam begitu saja," ucap Faraz terseyum penuh arti.


°°°


Siang harinya Sahid dan keluarganya tiba di rumah Aneri.


Terlihat para tamu undangan sudah memenuhi altar pernikahan.


Mereka di sambut hangat dan di persilahkan duduk di tempat yang sudah di sediakan untuk keluarga mempelai.

__ADS_1


Tak lama kemudian Sahid pun mengucapkan Akad dengan satu tarikan nafas.


"Sah." Kata Sah yang terucap dari para saksi dan tamu undangan menandakan Akad nikah telah berakhir.


Faraz yang menyaksikan moment ini teringat saat Ia melafalkan akad dengan Alia, Faraz pun menoleh ke Alia yang duduk di sebelahnya.


Alia pun mengingat hal yang sama dan melihat ke arah Faraz.


Mereka saling menatap dengan sendu, seolah-olah ingin mengungkapkan apa yang belum bisa mereka ungkapkan.


Mereka terus menatap satu sama lain hingga Mereka sama-sama di kagetkan oleh Isak tangis orang tua Aneri yang akan melepaskan Putrinya dan memulai hidup barundengan suaminya.


"Ibu akan sangat merindukanmu Sayang," ucap Ibu Aneri memeluk Putrinya.


"Aku juga Ibu," tangis Aneri pecah di pundak Ibunya.


"Jaga Putri ku dengan baik, Bahagiakan Dia dan jangan pernah menyakitinya," pesan Ayah pada Sahid.


Sahid mengangguk dan memeluk Ayah mertuanya.


Sahid dan Aneri berpamitan kepada seluruh keluarga besarnya.


Semua orang pun mengangguk haru dan melambaikan tangan seiring kepergian mobil pengantin.


°°°


Setelah menempuh jarak sekitar dua jam, Mereka pun sampai di Rumah Sahid.


Semua orang langsung turun dari mobilnya dan masuk kedalam,


Alia pun melepas sabuk pengamannya dan membuka pintunya.


Faraz memegang tangan Alia untuk menghentikan Alia keluar dari mobilnya.


Alia menatap Faraz tanpa mengatakan apapun.


"Faraz, kenapa Kau memasangnya lagi?" tanya Alia bingung.


Faraz hanya diam dan langsung memutar balik mobilnya dan kembali meninggalkan rumah.


"Faraz Kita mau kemana? Kenapa Kau tidak menjawab pertanyaan ku?"


"Diamlah Alia, Kau sudah sering kali membantah suami mu, jadi sekarang duduk diam dan ikut kemana pun Aku membawa mu." tegas Faraz


Alia terdiam dan melihat sekeliling jalan.


"Faraz sebenarnya Kita mau kemana dan kenapa Kau membawa mobil dengan begitu kencang?"


Faraz terus menatap lurus kedepan tanpa menjawab pertanyaan Alia.


"Faraz..." Alia menarik tangan Faraz yang sedang mengemudi.


"Alia! Apa yang Kau lakukan?" Faraz mencoba menyingkirkan tangan Alia. Namun Alia terus menariknya.


"Jangan lakukan ini Alia, Aku sedang menyetir, Bagaimana jika kita celaka?"


"Makanya jawab pertanyaan Ku?!"


"Aku tidak perlu menjawabnya, Sebentar lagi Kita sampai!" tegas Faraz.


Alia melihat kedepan dan kembali ke tempat duduknya.


Tak lama kemudian Faraz menghentikan mobilnya.


"Sekarang turunlah." ucap Faraz membukakan pintu mobil.


Alia begitu terkejut melihat sebuah Villa yang begitu indah di depan matanya. Namun Alia menyembunyikan kebahagiaannya dan kembali bersikap jutek


"Untuk apa kamu membawaku kesini?!"

__ADS_1


"Alia, Bisakah Kau bicaranya biasa saja, Apa lehermu tidak merasa sakit selama beberapa hari ini Kau terus saja meninggaikan suaramu?"


Alia terdiam terdiam mendengar ucapan Faraz.


"Sekarang masuklah,"


Alia terdiam memalingkan wajahnya.


"Alia kumohon masuklah,"


Alia masih saja berdiri tak bergerak.


Faraz menarik nafas panjang dan langsung menggendong Alia masuk.


"Awww.... Faraz lepaskan Aku," Alia berusaha memberontak dengan menarik-narik baju Faraz.


"Kau yang memaksaku melakukan ini, Jadi sekarang diamlah!" tegas Faraz.


Sesampainya di dalam, Faraz menurunkan Alia.


Alia terperangah melihat ruangan yang telah di hias begitu indah,


Terlihat juga meja makan bulat lengkap dengan makan malam telah tersedia, Dengan di lengkapi cahaya lilin membuat suasana semakin terlihat romantis.


"Faraz, ini semua..?"


"Untuk mu," ucap Faraz memeluk Alia dari belakang.


Alia terhenyak melihat tangan Faraz melingkar di perutnya.


"Alia, Aku... Aku tidak pandai berkata-kata, Aku juga bukan Pria yang romantis tapi permintaan maaf ku tulus, Aku benar-benar menyesal telah mengatakan hal buruk kepada mu, Ku mohon maafkan Aku,"


"Jadi ini semua hanya untuk permintaan maaf," batin Alia.


Alia menghelai nafas dan melepaskan tangan Faraz yang melingkar di perutnya.


"Baiklah Aku memaafkanmu, Sekarang kita pulang."


Faraz terkejut mendengarnya,


Ia segera menarik kembali tangan Alia kembali ke sisinya.


"Aku belum selesai bicara,"


"Pembicaraan Kita sudah selesai kamu minta maaf dan Aku memaafkan mu, Lalu apa lagi?"


"Alia jika Kau sudah memaafkan ku kenapa sikapmu masih belum berubah?"


"Aku harus bagaimana Faraz, Aku sudah merasa sangat lelah dan Aku ingin pulang sekarang."


"Alia kenapa Kau tidak menghargai usahaku? Aku sudah menyiapkan ini semua untuk mu."


"Untuk apa Faraz, Kau tidak perlu melakukan ini hanya untuk minta maaf."


"Alia! Ini bukan sekedar minta maaf."


"Lalu apa Faraz?"


Faraz terdiam menundukkan kepalanya.


Dengan kesal Alia melangkah meninggalkan Faraz.


"Aliaaaaaa... Kenapa Kau masih tidak mengerti juga jika Aku mencintaimu..!!!" triak Faraz.


Alia yang mendengarnya langsung menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang.


Bersambung....


Ayo Semangatnya, beberapa hari ini kok sepi 😁

__ADS_1


__ADS_2