Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
Ketegasan Faraz


__ADS_3

Setelah kehabisan kata untuk berbincang, Alia dan Faraz meminta izin pada Ibu untuk beristirahat di kamarnya. Sejak Faraz membelikan ranjang baru untuk Alia, Mereka belum pernah sama sekali tidur di ranjang tersebut.


Faraz menghempaskan tubuhnya ke ranjang seperti anak kecil.


di ikut oleh Alia yang duduk di sampingnya.


"Ini baru yang namanya ranjang." ucap Faraz memejamkan mata merasakan kenyamanan ranjang empuknya.


Alia terseyum mengingat hari itu. Hari yang sangat menjengkelkan sekaligus memalukan. Namun sangat lucu jika di ingat.


Faraz mencoba melihat wajah Alia yang tersenyum.


"Ku mengingat sesuatu?" godanya.


"Faraaazzz..." Alia menepis wajah Faraz yang begitu dekat dengan wajahnya.


"Kok Faraz lagi," protes Faraz.


"Kan gak ada Ibu."


"Tetap saja Kamu harus menghormati ku."


"Baiklah, Hormat grakkk." ucap Alia sembari menempelkan telapak tangan ke pelipisnya.


"Iiih... Dasar, Gemesin banget sih Kamu." Faraz menangkup wajah Alia dan menjatuhkan tubuhnya ke ranjang.


•••


Setelah Tiga hari tak sadarkan diri, Perlahan Dev mulai menggerakkan jari telunjuknya. Vidya yang menyandarkan kepalanya di tepi ranjang melihat gerakan itu, Vidya segera mengangkat kepalanya dan kembali memperhatikan jari tangan Dev. Pergerakan itu semakin sering bahkan kini kelima jarinya terlihat bergerak secara bergantian.


"Dev..." Vidya tersenyum haru menatap wajahnya. Namun senyumnya terhenti saat melihat Dev belum juga membuka matanya.


"Ada apa Vidya?" tanya Aneja mendekati istrinya.


"Jari tangan Dev bergerak."


"Aku akan memanggil dokter." ucap Divya yang langsung berlari keluar.


Tidak lama kemudian Divya kembali bersama Dokter.

__ADS_1


Setelah mendengar penjelasan dari Vidya, Dokter langsung memeriksa keadaan Dev. Namun Dokter kembali menghelai nafas setelah selesai memeriksanya.


"Bagaimana Dokter, Apa Putra ku akan segera siuman?"


"Belum ada perubahan Nyonya." ucap Dokter sedih.


"Tapi Dokter, Putra ku menggerakkan jari-jemari nya."


"Tubuh memang bisa bergerak meskipun kondisi orang tersebut tidak sadarkan diri, Contoh mudahnya saja ketika tidur. Saat tidur, kita sedang tidak sadarkan diri tapi banyak orang yang tetap bisa bergerak. Miring, menggaruk-garuk wajah, Menekuk sampai berjalan."


"Itu artinya Putraku, Belum ada tanda-tanda akan sadar dari koma nya?" tanya Aneja.


"Tetaplah berdoa, Jika Tuhan berkehendak kapan pun Putra Anda bisa sadar." ucap Dokter.


"Ini semua gara-gara Wanita ******* itu." gumam Divya yang langsung meninggalkan ruangan.


Dengan tergesa-gesa, Divya pergi meninggalkan rumah sakit.


Ia masuk ke mobilnya dan mengambil ponselnya.


"Cindy, Kamu tau segalanya tentang Dev, Tentu Kamu juga tau di mana biasa Dev menemui perempuan murahan itu, Berapa nomer ponselnya dan dimana Dia tinggal."


"Maksudnya, Maya?"


"Maaf Nona, Saya tidak tau nomer ponselnya, Saya hanya pernah mengantar makanan untuk Mereka di daerah Pejaten, Tapi Saya tidak tau itu tempat tinggal Maya atau bukan." jelas Cindy yang merupakan Sekertaris Dev yang juga memiliki hubungan lebih dari sekedar atasan dan bawahan.


"Baiklah, kirimkan alamatnya sekarang."


"Baik Nona."


Setelah menerima pesan dari Cindy, Divya segera memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Meskipun Ia sering berdebat dengan Dev, Namun sebagai Kakak Ia tetap menyayangi Dev dan tidak terima jika Adiknya harus bertarung nyawa gara-gara skandalnya dengan Wanita malam itu.


•••


Faraz yang sudah kembali bekerja di sela-sela jam istirahatnya berniat menghubungi Alia agar Ia tidak merasa bosan karena sendirian di rumah. Namun belum sempat Ia menghubungi Alia, Secara tidak sengaja menekan pesan yang baru saja masuk.


"Faraz besok Aqiqah Anak ku, Tapi Aku belum memiliki Nama yang cocok untuk nya, Bisakah Kamu yang memberikan Nama padanya?"

__ADS_1


Begitu isi pesan dari Kavita.


"Apa-apaan ini." gumam Faraz.


Ting...


Notif pesan kembali berbunyi.


"Faraz Kamu yang telah mendampingiku melahirkan, Kamu juga yang mengadzani Anak ku, Apa Kamu tidak pernah merasa merindukannya?"


Dengan kesal, Faraz menekan nomor Kavita.


"Apa maksud mu mengirimkan pesan seperti itu?" hardik Faraz begitu Kavita mengangkat telfonannya.


"Faraz Aku hanya bertanya saja, Aku tidak ada maksud apa pun." elak Kavita.


"Lalu apa maksudmu menyuruhku yang memberikan nama untuk anak mu, Bukan kah Ayah nya masih ada?" tegas Faraz.


"Faraz kamu tau Aku sudah tidak lagi berhubungan dengan mereka, Aku ingin menggugat cerai."


"Aku tidak peduli apa yang ingin Kamu lakukan,"


"Faraz, Bukankah sebelumnya Kamu sudah bersikap baik pada ku, Kenapa tiba-tiba Kamu berubah?"


"Aku bersiap baik pada mu karena istriku, Dia yang mengajariku agar tidak menanamkan kebencian dalam hati ku, Dan masalah Aku menolong mu melahirkan itu karena kemanusiaan, Terlebih lagi Kamu tetanggaku, Tidak mungkin Aku membiarkan mu begitu saja."


"Faraz Sebelumnya kamu begitu antusias menyambut bayiku tapi kenapa...."


"Dengarkan Aku baik-baik! Seumur hidupku, Aku baru pertama kali melihat bayi secara langsung, Dan itu memang sangat menakjubkan, Tapi itu bukan berarti apapun, Bukan hanya bayimu saja, Mungkin jika itu bayi orang lain pun Aku akan merasakan hal yang sama, Jadi jangan pernah mengartikan lebih."


Kavita terdiam sedih mendengarnya.


"Hubungan Kita sudah lama berakhir, dan Kita sudah terlalu lama masih terpaut satu sama lain, Sekarang Aku tidak menginginkan ada hubungan apapun lagi di antara Kita, Karena Aku sangat mencintai istri ku, Aku tidak ingin Istriku terusik dengan masa lalu kita yang tidak ada ujungnya." Faraz langsung mematikan ponselnya.


Faraz menghelai nafas dan mengusap wajahnya dengan kasar.


dan saat Ia menoleh ke arah pintu, Terlihat Alia sudah berdiri di sana.


Faraz merasa terkejut dan salah tingkah melihat tatapan mata Alia yang begitu tajam padanya.

__ADS_1


Bersambung...


MAMPIR JUGA DI "PESONA MAJIKAN'KU" KASIAN GAK LAKU 😭🤣


__ADS_2