
Zayd mencengkeram lengan Alea dan menyeretnya ke lantai atas.
Dengan kemarahan dan kekecewaan yang mendalam Zayd menunjukkan sisi lain dari dirinya yang belum pernah Alea lihat sebelumnya.
Dengan mata yang memerah dan berkaca-kaca, Zayd mendorong tubuh Alea ke tralis pembatas hingga mbuatnya menjerit ketakutan.
"Aaaaaaaaaaaaa....!!!"
Jeritan kuat dari Alea membuat semua orang yang berada di lantai dasar menghentikan perkelahiannya dan menatap Alea yang setengah badannya sudah melewati tralis pembatas.
"Aleaaaaa!" triak Barry mencoba lari ke atas. Namun langsung di hentikan oleh Zayd.
"Tetap di situ Tuan Barry! Atau Aku akan melepaskan tangan putri mu hingga jasadnya saja yang bisa Anda peluk!"
"Zayd..." Alea menggelengkan kepalanya karena perlahan-lahan Zayd melepaskan tangannya.
"Tidak! Jangan lakukan apapun kepada putri ku, Putri ku tidak tau apa-apa, Semua ini adalah rencana ku, Percayalah!"
"Aku sudah tidak percaya lagi dengan kalian semua! Kepercayaan ku sudah mati bersama penghianatan yang telah kalian lakukan, Jadi bersiaplah menerima akibat dari perbuatan kalian!" Zayd melepaskan tangan Alea hingga Alea nyaris terjatuh.
__ADS_1
"Zayyyydddd...!!!"
Mendengar teriakkan sang Ibu, Zayd kembali meraih tangan Alea dan membuat tubuh Alea kini menggantung hanya berpegangan tangan Zayd.
Alea melihat kebawah dan begitu gemetar dengan ketinggiannya.
Namun Zayd yang telah di kuasai amarah tidak sedikitpun merasa iba dengan wanita yang begitu ia cintai sebelumnya.
"Jangan lakukan itu sayang, Itu hanya akan merugikan mu." bujuk Alia.
"Zayd! Dengar Papa, Papa tau kamu begitu tersakiti, Tapi bukan begini cara membalas perbuatan mereka." sambung Faraz.
"Kak Zayd jangan lakukan ini." tangis Zia dalam pelukan Om Bryan.
Zayd meneteskan air matanya hingga air matanya jatuh ke wajah Alea yang nyaris terjatuh karena tangan Zayd yang semakin melemah hingga membuat Alea begitu ketakutan.
"Zayd... Jangan lepaskan Aku," Alea semakin ketakutan karena hanya menyisakan Jari-jemarinya yang di pegang oleh Zayd.
"Aleaaaaa!!!" triak Barry dan Pria yang kini telah menjadi suami Alea secara bersamaan.
__ADS_1
Teriakan mereka kembali membangkitkan kesadaran Zayd dan kembali memegang tangan Alea dengan kuat.
"Zayd ku mohon lepasin Aku" ucap Alea mengiba.
"Baiklah, Dengan senang hati!" Zayd menyeringai dan melepaskan tangan Alea tanpa mempedulikan apa yang akan terjadi padanya.
"Aleaaaaaaaaa..." Barry dan Suami Alea berlari menangkap tubuh Alea dan berhasil menyelamatkannya.
Zayd yang telah sampai lantai dasar melihat wajah ketakutan Alea. Alea benar-benar tidak pernah menyangka jika Zayd yang di kenalnya pendiam dan polos dapat berbuat hal yang begitu mengerikan seperti apa yang baru saja ia lakukan.
"Ini hanya sedikit refleksi untuk kalian. Pembalasan ku yang sebenarnya belum di mulai!" Zayd langsung meninggalkan mereka dan di ikuti oleh seluruh anggota keluarganya terkecuali Faraz yang yang menghentikan langkahnya untuk berbicara pada musuh bebuyutannya tersebut.
"Kalian belum pernah melihat bagaimana orang pendiam marah, Jadi bersiaplah untuk menerima kemarahan yang tidak pernah kalian bayangkan sebelumnya!" dengan menyeringai Faraz meninggalkan rumah Barry yang sudah seperti kapal pecah.
Di dalam mobilnya Zayd menahan rasa sakitnya yang teramat sangat.
Tak pernah terbayangkan sebelumnya jika cinta pertamanya akan berakhir dengan begitu pahitnya.
Kejadian yang hampir sama dengan apa yang Faraz alami hanya saja apa yang terjadi pada Zayd jauh lebih baik dibandingkan Faraz yang sempat melafalkan ijab qobul di pernikahan pertamanya hingga membuatnya menyandang gelar Duda Perjaka di usianya yang masih terbilang muda.
__ADS_1