
Faraz dan Alia masuk ke kamar.
Mereka duduk di tepi ranjang sempit seperti yang selalu Faraz katakan,
Dan Seperti sama-sama mengingat sesuatu mereka saling menatap dengan senyum.
"Kau mengingat sesuatu?" tanya Alia.
"Ya, begitu banyak kenangan di kamar..."
"Sempit ini." lanjut Alia.
Keduanya tertawa.
"Kau bisa tetap mengatakannya, karena itulah kenyataannya," ucap Alia terseyum.
"Ya, Aku akan tetap mengatakannya tapi sekarang Aku menyukai kamar dan ranjang sempit ini," ucap Faraz terseyum.
Alia mengernyitkan dahinya.
"Karena dengan ranjang sempit ini, Aku jadi bisa tidur memelukmu sepanjang malam ini," Faraz menyatukan kening dan hidung Mereka.
"Hanya tidur memeluk?" goda Alia.
"Ya Aku akan berusaha menahan diri, Karena Aku tidak ingin Ibu melihat Kita pagi-pagi mandi basah," ucap Faraz tertawa.
Alia tertawa mendengar alasan yang Faraz berikan.
Faraz terdiam menatap Alia yang terlihat begitu cantik dengan tawa lepasnya.
Ia mencubit lembut pipinya dan mendekatkan wajahnya.
Belum sempat bibir mereka menyatu Alia menahan dada Faraz untuk menghentikannya.
Faraz mengernyitkan dahinya.
"Tunggu," Alia beranjak dari duduknya dan membuka lemari pakaiannya.
"Apa yang Kau cari?" tanya Faraz yang melihat Alia seperti mencari-cari sesuatu.
"Aku menemukannya," ucap Alia kembali duduk di depan Faraz.
"Apa?
Alia mengepalkan tangan dan mengulurkannya pada Faraz.
"Apa?" tanya Faraz yang merasa bingung.
"Buka," ucap Alia terseyum.
"Memangnya ada apa di dalam tangan mu?"
__ADS_1
"Bukalah Faraaazzz."
Dengan rasa penasaran, Faraz membuka tangan Alia dan melihat sebuah cincin yang begitu berkilau di tangannya.
"Cincin?"
Alia mengangguk dengan senyuman di bibirnya.
Faraz mengambil cincin itu dan memerhatikan dengan seksama, Setelah cukup lama Faraz membelalakkan matanya mengingat cincin itu.
"Alia... Cincin ini?"
Alia menganggukan kepalanya.
"Tapi Alia, Aku.... Aku sudah membuangnya bertahun-tahun lalu,"
"Ya, Tapi Aku menemukan dan menyimpannya."
"Oh ya ampun Alia, Gara-gara cincin ini Kita bertemu dan selalu bertengkar," ucap Faraz tertawa mengingat pertemuan Mereka.
Alia pun tersenyum mengingatnya.
Senyuman Faraz terhenti dan kembali menatap Alia dengan lekat,
Kemudian Faraz meraih tangannya dan menyentuh jari jemarinya.
"Sekarang Aku tau jika cincin ini memang di takdirkan untuk dirimu, Makanya Tuhan tidak mengizinkan ku memberikan pada orang yang salah," ucap Faraz sembari memakaikan cincin itu ke jari manis Alia.
Alia terseyum menatap wajah Faraz.
"Terimakasih Faraz,"
"Aku yang harus berterimakasih pada mu karena Kau selalu menghadapi kemarahanku dengan sabar," ucap Faraz memeluk Alia.
°°°
Pagi Hari.
Seluruh keluarga besar Dev tengah berkumpul untuk sarapan.
Hal ini di ambil kesempatan oleh Kavita untuk kembali membicarakan tentang tujuh bulanan bayi dalam kandungannya.
Dengan mengumpulkan semua keberaniannya, Kavita mulai membuka pembicaraan.
"Acara tujuh bulanan bayi ku sudah semakin dekat, Apa keputusan Ibu masih sama?" tanya Kavita.
Semua orang menghentikan makannya dan nenatap Kavita.
Kavita menurunkan pandangannya melihat tatapan sinis mereka.
"Bukankah kemarin kita sudah membahasnya?" ucap Ibu.
__ADS_1
"Ya, Tapiii..."
"Keputusan ku masih tetap sama, Jadi jangan pernah membicarakan hal ini lagi!" tegas Ibu.
Kavita menatap Dev, berharap Dev mengatakan sesuatu, Namun sepertinya Dev tidak berniat membelanya.
Dengan kesedihan dan kekecewaan di hatinya Kavita beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan meja makan dengan kesal.
Dev meletakkan sendok dan garpunya dengan kasar kemudian menyusul Kavita.
Kavita langsung mengemasi pakaiannya dengan cucuran air mata yang mengalir deras membasahi pipinya.
Ia benar-benar merasa tidak tahan lagi tinggal di rumah besar itu yang lebih terasa seperti neraka baginya.
"Jadi Kau ingin meninggalkan rumah ini?" tanya Dev.
"Ini sudah cukup Dev, Aku sudah tidak tahan lagi, tidak ada yang menginginkan ku disini,"
Dev menghelai nafas kasar mendengar jawaban Kavita.
"Dev, Ini bukan hanya sekedar Anak ku, Tapi ini Anak mu juga, cucu Mereka, Tapi Kalian bersikap seolah-olah ini bayi ku dan Pria lain," tangis Kavita.
"Aku akan membicarakannya pada Ibu," ucap Dev.
"Jika Kau mau bicara, Harusnya sudah Kau lakukan, Tapi Kau tidak mengatakan apapun saat Ibumu menentang ku." ucap Kavita yang kemudian menarik kopernya meninggalkan kamar.
Dev berusaha menghentikan Kavita.
Semua keluarga berdiri melihat Kavita yang membawa serta kopernya.
"Kavita Kita bisa selesaikan masalah ini, Kenapa Kau ingin pergi hanya karena masalah tujuh bulanan?" tanya Dev.
"Ini bukan hanya masalah tujuh bulanan Dev, Tapi sikapmu, dan sikap keluarga mu yang tidak pernah menghargai ku selama Aku tinggal disini," triak Kavita.
"Kau ingin kami menghargai mu sedangkan Kau tidak menghargai dirimu sendiri?" tanya Divya.
"Cukup Kak Divya! Selama ini Kau selalu mengatakan Aku tidak punya harga diri, Tapi bagaimana dengan Adikmu?"
"Kavita!" betak Dev.
"Apa Dev! Apa hanya wanita saja yang tidak punya harga diri setelah menyerahkan kesuciannya pada Pria yang Ia cintai, Sedangkan Pria masih di anggap memiliki harga diri meskipun sudah merenggut kesucian banyak gadis?"
Plaakkkkk...!!!
Dev mendaratkan tamparannya di pipi Kavita.
Kavita memegangi pipinya dan menatap Dev yang dengan tega memukulnya.
Semua keluarga tercengang melihat apa yang terjadi.
Begitu pula dengan Dev yang terlihat menyesal karena tidak bisa mengontrol emosinya hingga Ia menampar Kavita.
__ADS_1
Tanpa mengatakan apapun lagi, Kavita meninggalkan rumah Dev dengan kebencian di hatinya.
Bersambung...