
Tak terasa satu minggu telah berlalu. Berbagai tempat wisata telah Mereka kunjungi, Kini saatnya untuk Faraz mengantar Zayn kembali ke Pesantren, Tempat yang sangat di benci olehnya namun terpaksa harus di jalaninya.
Faraz sowan pada Pak Kiai untuk kembali mempercayakan Zayn dalam bimbingannya serta menyerahkan dana sumbangan yang rutin Faraz berikan setiap bulan untuk keperluan santri dan pembangunan pesantren.
"Terimakasih atas sumbangannya Anda yang ke sekian kalinya, Sejak putra Anda berada di sini Anda selalu mengucurkan dana sumbangan untuk pesantren ini, Semoga Allah menggantinya dengan berlipat-lipat ganda."
"Aamiin Terimakasih Pak Kiai, Mohon maaf jika Zayn sulit di bimbing."
"Saya juga minta maaf, Meskipun Anda mengucurkan dana besar setiap bulan, Tapi kami tidak mengistimewakan Zayn dan tetap menghukumnya jika Ia melakuksn kesalahan."
"Itu sudah benar Pak Kiai."
Setelah perbincangan selesai Faraz meninggalkan rumah pak Kiai dan berpamitan pada Zayn.
Dengan memberi pelukan hangat pada Zayn, Faraz mencoba meyakinkan jika Ia sama pentingnya dengan Zayd. Faraz melakukan ini hanya untuk kebaikannya.
"Maafin Papa," ucap Faraz mengurai pelukannya.
Zayn mengangguk pelan dan memeluk satu persatu keluarganya meskipun dalam hatinya sangat berat untuk kembali ke penjara suci itu.
"Mama akan selalu merindukan mu sayang."
Zayn hanya mengangguk dan masuk ke dalam pesantren meninggalkan Mereka.
•••
Faraz sekeluarga tiba di Jakarta pada tengah malam dan langsung ke kamar masing-masing karena tubuhnya yang terasa begitu lelah setelah perjalanan jauh.
Sedangkan Zayd dan Zia menyempatkan diri untuk mengirim pesan kepada kekasihnya masing-masing sebelum mereka memejamkan mata karena rasa kantuk yang tak tertahankan.
🍃 Pagi Hari 🌻
__ADS_1
Semua beraktivitas dengan normal seperti biasanya.
Faraz dan Zayd bersiap ke kantor sedangkan Zia bersiap ke sekolah.
Sedangkan Alia menyiapkan sarapan untuk Mereka.
"Sarapan sudah siap." pekik Alia.
Faraz dan Zayd bergegas ke meja makan, Kemudian Zia berlari menyusul.
"Selamat Pagi Pa, Ma, Kak Zayd."
"Pagi Sayang."
Zia mengambil dua lembar roti di depan Faraz, Faraz yang menunggu giliran terus menatap tangan Zia hingga Ia menyadari sebuah cincin berlian melingkar di jari manisnya.
"Zia!" Faraz langsung menarik tangan Zia dan mengamati cincin yang melingkar di jari manisnya.
"Darimana cincin ini?"
"A-e, Ini cincin Zia beli Pa, Bukan apa-apa."
"Itu tidak mungkin Zia, Ini bukan cincin murah."
"Murah kok Pa, Orang Zia belinya imitasi."
"Tapi ini seperti asli Zia, Lihat saja berliannya begitu berkilau."
"Pa, Jaman sekarang asli dan palsu 11-12, Makanya Zia beli yang palsu." Zia langsung beranjak duduk dan memakan roti tawarnya sembari meninggalkan rumah.
"Mama perhatiin perilaku Zia semakin aneh," ucap Alia.
__ADS_1
"Itu lah yang selama ini Mas rasakan, Kamu malah bilang Mas terlalu protektif terhadapnya."
"Zayd berangkat dulu Pa, Ma." Zayd langsung berlari keluar mencoba mengejar Zia. Namun Zia tidak lagi terlihat.
•••
Bryan yang mau berangkat ke kantor melihat Bella turun dari taksi dengan pakaian minimnya.
Bryan merasa kesal dan berjalan menghampirinya.
"Bella, Darimana saja Kamu, Papa tungguin dari semalem kenapa tidak pulang, dan kenapa memakai pakaian minim seperti ini?"
"Aahhh... Papah berisik banget sih, Kaya nggak pernah muda saja," ucap Bella dengan jalan yang sempoyongan.
"Apa Kau mabuk?" Bryan merangkum wajah putrinya dan mengendus mulutnya.
"Aku masih sadar Pah, Sangat sadar."
"Bella! Sejak kapan Kamu berani meminum minuman haram seperti ini?"
"Sejak Papah sibuk mengejar gadis kecil itu untuk menjadikan Dia Ibu ku."
Bryan terdiam sedih mendengarnya.
"Bayangkan jika Papah benar-benar menikah dengan gadis kecil itu, Aku harus memanggilnya Apa? Apakah aku harus memanggilnya Tante? Ah tidak, Dia terlalu muda, Eum Ibu, Tidak-tidak itu terlalu tua, Mamah? tapi usianya lebih muda dariku, Katakan Papah Aku harus memanggilnya apa, Apa aku harus memanggil namanya saja?"
Om Bryan menghelai nafas panjang, Usahanya untuk membujuk Bella beberapa hari lalu setelah pulang dari kebumen membuat putrinya semakin tidak menginginkan hubungannya dengan Zia.
Bersambung...
📌 Kisah cinta kakak Zayn di pesantren sudah di mulai di Novel "Bersaing Cinta Dengan Ustadz" jangan lupa mampir ya 🤗
__ADS_1