Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
Semakin Dekat


__ADS_3

Faraz keluar dari kamar Alia,


Langkahnya terhenti saat mendengar Ibu mertuanya dan Alia berbicara.


"Ibu tanya sekali lagi, kenapa dengan tangan dan kening mu, Apa Faraz menyiksamu?" tanya Ibu curiga.


"Ibu... Berapa kali Aku harus menjelaskan, Faraz tidak menyiksa ku," ucap Alia menutupi lengannya yang lebam.


"Apa tangan dan keningmu lebam semuanya hanya kebetulan? Ibu tidak percaya itu Alia,


Dari awal Dia tidak begitu menginginkan pernikahan ini, jadi bisa saja Dia menyiksa mu di hari pertama kamu ke rumahnya?"


Faraz terus mendengarkan pembicaraan mereka tanpa Ibu dan Alia sadari.


"Ibu dengarkan Aku, Faraz memang terlihat sombong, Tapi percayalah, Sebenarnya Dia orang yang baik, Dia hanya tertekan dengan masalah yang Ia hadapi,"


Faraz merasa tersentuh mendengar jawaban Alia.


"Dan lagi pula siapa yang berani menyiksa ku, Ibu mengajarkan ku menjadi wanita yang kuat dan mandiri, Faraz tidak akan bisa menyiksaku dengan mudah." Alia menjeda ucapanya.


"Apa Aku pernah menangis karena masalah yang ku hadapi?"


Ibu terdiam menatap Alia.


"Tidak kan? Aku hanya menangis saat Ibu marah padaku, dan saat pemberitaan itu, itu pun Aku menangis karena merasa Aku telah mencoreng nama baik ibu," lanjut Alia


Ibu terharu mengusap pipi Alia.


Alia tersenyum dan memeluk Ibunya.


°°°


"Zeenat... Apa menurutmu Faraz bisa adaptasi di rumah Alia?" tanya Zhehzad


"Faraz akan menyesuaikan diri dengan bimbingan Alia, Aku yakin itu." ucap Zeenat tersenyum


"Dari caramu tersenyum sepertinya kamu memiliki rencana?"

__ADS_1


"Ya kamu benar." Zeenat kembali tersenyum.


"Katakan padaku apa rencana mu?"


"Sepertinya Faraz tidak perlu pulang ke rumah hari ini." ucap Zeenat.


"Tapi bukankah kamu bilang mereka hanya akan menginap satu hari?"


"Awalnya Aku berfikir begitu, Tapi setelah ku fikir-fikir, Faraz akan lebih cepat dekat dengan Alia jika dia tinggal dirumah Alia,"


"Tapi rumah mereka kecil apa mungkin Faraz bisa bertahan disana untuk beberapa hari lagi?"


"Justru karena rumah Alia kecil jadi Faraz tidak bisa jauh-jauh darinya," ucap Zeenat tertawa.


"Tapi Aku tidak yakin, Faraz dari kecil sudah terbiasa di layani, bagaimana jika Faraz mengalami kesulitan?"


"Kenapa merasa khawatir? Ada Alia bersamanya, Aku yakin Alia akan melayani Faraz dengan sangat baik, jika Dia terbiasa dengan Alia, Ibu yakin seiring berjalannya waktu Faraz akan mencintainya,


"Dan satu lagi, dengan begini maka Faraz tidak akan bertemu dengan mantan istrinya itu,"


"Ya Kamu benar, karena terakhir kali, Faraz masih mencoba kembali padanya," ucap Shehzad yang mengingat Faraz ingin membatalkan pernikahannya dan kembali ke Kavita.


"Jadi Kavita akan menikah?" tanya Shehzad terkejut.


"Ya... Tadi Aku mendengar dari para tetangga jika Kavita akan menikah tidak lama lagi,


Ibu tidak ingin Faraz mendengar ataupun melihatnya, Ibu takut jika Faraz masih terpengaruh dengan pernikahan Kavita."


"Keputusan mu sudah tepat Zeenat, Semoga dengan pernikahan Kavita, Faraz benar-benar melupakannya dan bisa mencintai Alia."


°°°


Alia menyadari Faraz sedang berdiri melihatnya.


Ia pun melepaskan pelukan Ibunya,


Ibu menoleh kebelakang dan melihat Faraz dengan sekejap lalu pergi tanpa mengatakan apapun.

__ADS_1


"Sekarang masuklah." Alia menarik lengan Faraz masuk ke kamarnya.


"Ada Apa?" tanya Faraz bingung.


"Sekarang duduk lah, Kamu jangan keluar dan membuat Ibu ku kesal," ucap Alia.


"Lalu Kau akan kemana?"


Alia terdiam menatap tangan Faraz memegang tangannya.


"Aku akan segera kembali," Alia terseyum tipis dan melepaskan tangan Faraz.


Faraz pun mengangguk dengan penuh tanda tanya.


Beberapa saat kemudian Alia datang kembali membawa makanan untuk Faraz.


"Makan lah, Kau tidak akan suka masakan Ibu, jadi Aku membelikan ini untuk mu,"


"Hah! Pizza?" ucap Faraz terseyum lebar.


Alia terseyum menganggukan kepalanya.


"Ternyata meskipun kamu cupu tapi Kamu cukup pintar." ucap Faraz tertawa.


Alia tersenyum menggelengkan kepalanya.


"Kenapa Kau berbohong pada Ibu mu?"


Alia terdiam mendengar pertanyaan Faraz.


"Kamu kan bisa saja mengatakan Aku yang membuat tangan mu kebab, kenapa Kau menutupi dari Ibu mu?"


"Aku bisa saja mengatakannya, tapi setelah itu apa yang terjadi? Paling Ibu hanya akan marah pada mu dan semakin tidak suka pada mu, lalu kamu akan semakin membenciku,"


"Apa kamu takut Aku membencimu?" tanya Faraz menatap Alia.


"Lebih tepatnya Aku tidak ingin ada kebencian di hati mu, karena kebencian hanya akan membuat orang menderita, dan Aku rasa selama ini Kamu sudah cukup menderita, jadi Aku tidak ingin menambah penderitaan mu."

__ADS_1


Faraz terdiam dan mengalihkan pandangannya.


Bersambung...


__ADS_2