
Alia merasa lega setelah Faraz masuk ke kamar mandi.
"Kenapa Aku merasa Bucin juga merasa canggung?" batin Alia.
"Ah... Tidak-tidak, Orang seperti bucin tidak mungkin merasa canggung,"
Ini pasti hanya perasaan ku saja," gumamnya lagi.
Sedangkan di kamar mandi Faraz tengah berdiri di depan cermin.
"Ada apa denganku? Kenapa sejak semalam Aku terus saja merasakan perasaan seperti ini?
Kenapa Aku jadi merasa canggung saat melihatnya?
Dulu Aku bisa dengan mudah bisa bertanya padanya apakah Kau mencintaiku, Tapi sekarang...
Menatap matanya saja Aku seakan tidak mampu." batin Faraz sembari mengacak-acak rambutnya.
°°°
Faraz keluar dari kamar mandi dan langsung terdiam ketika melihat Alia tengah menutupi lehernya menggunakan Syal di depan cermin.
"Oh Astaga, Apa aku kembali meninggalkan jejak di lehernya," gumamnya.
Alia yang melihat Faraz dari pantulan cermin menjadi canggung.
Keduanya terdiam dan mengalihkan pandangannya masing-masing.
Faraz kembali menatap Alia, yang masih duduk terdiam di depan cermin.
"Kenapa si cupu hari ini terlihat sangat cantik," batin Faraz.
Alia membalikan badannya dan menatap Faraz hingga membuat Faraz langsung menundukan pandangannya.
"Apa Kau akan berdiri saja di situ dan tidak memakai pakaianmu?" tanya Alia memecahkan keheningan.
"Ee... Oooh... Ya... Aa... Aku akan mengambil pakaianku," ucap Faraz terbata-bata.
"Ada apa dengannya, kenapa Dia jadi bersikap seperti itu." gumam Alia dalam hatinya.
Faraz mengambil pakaiannya, sedangkan Alia mulai merapikan kamar.
Sesekali mereka saling melirik satu sama lain.
__ADS_1
Faraz selesai memakai pakaiannya dan melihat Alia sedang mengangkat meja.
"Hati-hati," ucap Faraz yang langsung berlari membantu Alia.
Alia tertegun melihat sikap Faraz, Mereka pun terdiam dan saling menatap satu sama lain.
"Iniii... Sangat berat sekali, Kau tidak akan bisa mengangkat ini sendirian." ucap Faraz.
Mendengar ucapan Faraz Alia langsung melepaskan mejanya.
"Aaawwwehhhh..... Ssssiiittt!" rintih Faraz yang kakinya tertimpa meja.
"Hagh!!! Maafkan Aku, Aku benar-benar tidak sengaja,"
"Sudah ku bilang meja ini sangat berat, kenapa Kau melepasnya?" ucap Faraz kesal.
"Aku fikir kamu mengatakan itu karena kamu mau mengangkatnya sendiri jadi Aku melepaskan mejanya."
"Aaahhhh!!! Sejak semalam memang meja ini selalu saja membuatku sialll." ucap Faraz menendang meja itu dan kembali merasa kesakitan.
"A... Aa.... Uuuhh... Sakit sekali," rintih Faraz memegangi kakinya.
"Kenapa Kau menambah rasa sakitmu dengan menendang meja itu?" ucap Alia membantu Faraz duduk di sofa.
"Bagaimana bisa Meja membuatmu kesal?" tanya Alia bingung.
"Semalam saat Aku ingin mencari selimut untuk mu..." Faraz menghentikan ucapannya karena mengingat apa yang sudah Ia lakukan pada Alia.
"Lalu?" tanya Alia penasaran.
"Eee.... Aku, Aku.... terjatuh karenanya... Dan lututku sakit karenanya, dan sekarang Dia malah menimpa kakiku... Sebenarnya apa masalh Dia denganku." ucap Faraz kesal.
Alia tertawa mendengar penjelasan Faraz.
Tidak seperti biasanya, Faraz yang melihat Alia tertawa lepas seolah terpesona hingga mengukir senyum di bibirnya.
"Kenapa kali ini aku tidak ingin marah padanya? Padahal Dia sudah membuat kakiku sakit seperti ini," batin Faraz.
Alia menghentikan tawanya saat menyadari Faraz terus menatapnya)
Alia pun menundukkan kepalanya dan melihat kaki Faraz memar.
"Ee... Aku akan mengobati kakimu," ucap Alia menjadi gugup.
__ADS_1
Faraz mengangguk dan terus menatap Alia mengambil kotak obat untuknya.
Alia mulai meneteskan obat ke kaki Faraz yang terlihat mengeluarkan sedikit darah.
"Ini perih sekali," Faraz memegang tangan Alia untuk menghentikannya.
Mereka pun terdiam dan saling menatap.
"Kenapa kali ini saat Aku memegang tangannya perasaan ku tidak seperti biasanya," batin Faraz.
"Cengeng," ucap Alia terseyum.
Faraz mengalihkan pandangannya mendengar ejekan Alia.
"Tumben Dia gak marah," batin Alia merasa heran.
°°°
Kavita terus mencoba menghubungi Dev, namun Dev tidak juga mengangkatnya.
hal ini membuat Kavita merasa khawatir, karena sejak Dev pergi, Dia tidak pernah menelfonnya sama sekali.
"kemana Dia pergi?" batin Kavita.
"Apa Dev belum bisa di hubungi?" tanya Ibu yang melihat Kavita mondar-mandir dengan ponselnya.
"belum Ibu," ucap Kavita sedih.
"Memang Dev gak tau diri ya, beda banget sama Faraz," ucap Ibu.
"Ibu tolonglah jangan membandingkan mereka,"
"Ibu sih tidak ingin membandingkan mereka, tapi sikap Dev yang membuat ibu tidak tahan ingin membandingkan Dia dengan Faraz,"
Kavita terdiam mendengarnya.
"Sekarang Ibu tanya, apa pernah Faraz membuat mu terluka? Apa pernah Faraz mengecewakan mu? bahkan Kedua Orang Tuanya begitu menyayangi mu,
Dan sekarang bandingkan dengan Dev dan keluarganya, apa Mereka menyayangimu, apa Mereka peduli pada mu, Kau mau kembali atau tidak sepertinya mereka juga tidak peduli,
Mereka menikahkan kalian hanya ingin cuci tangan dari perbuatan Putranya, Mereka tidak menginginkan mu dan bayimu sama sekali Kavita." ucap Ibu kesal.
Kavita hanya bisa diam mendengar ucapan Ibunya.
__ADS_1
Bersambung..