Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
Kesabaran Faraz


__ADS_3

Faraz kembali keruangan.


Ia melewati Kavita begitu saja dan mendekati Alia yang terlihat merenung sedih.


Dengan lembut Faraz mengusap kepala Alia dan mengecup pucuk kepalanya.


Beberapa menit kemudian, Perawat datang membawa kursi roda untuk memindahkan Alia ke ruang VVIP sesuai permintaan Faraz.


Tanpa aba-aba, Faraz membopong tubuh Alia dan membuatnya duduk di kursi roda.


Perawat bersiap mendorongnya namun Alia menarik tangan Faraz.


Ia ingin haraz yang mendorongnya, Pandangannya sinis melirik Kavita yang terus memperhatikan Mereka.


Faraz yang menyadari sikap Alia, Menoleh ke Kavita sejenak.


"Aku akan memberitahu Ibu mu," ucap Faraz sembari berlalu pergi.


"Kau begitu peduli padanya," ucap Alia dengan mata berkaca-kaca.


Faraz langsung menghentikan langkahnya dan berlutut di depan Alia.


"Sayang apa yang Kau Katakan?"


Alia mengalihkan pandangannya, Menahan air mata yang nyaris terjatuh.


"Sayang Dia tetangga Kita dan Dia akan melahirkan, Sedangkan di rumahnya tidak ada siapapun."


"Tapi di rumah mu ada banyak orang kan? Supir, Pelayan, keamanan..." Alia menjeda ucapanya.


"Kenapa, Kenapa tidak menyuruh salah satu dari Mereka?"


"Sayang... Aku begitu bingung dan tidak tau apa yang harus ku lakukan, Jadi begitu Aku melihat Kavita pendarahan, Aku langsung membawanya memasuk ke mobil, Aku tidak kepikiran untuk menyuruh Supir atau pelayan untuk mengantarnya."


"Jadi Kau juga tidak mengingat akan menjemput ku?"


"Aku mengingatnya Sayang, Aku berkali-kali menelfonmu, tapi Kau tidak mengangkatnya, Dimana ponselmu?"


Alia menggelengkan kepalanya dengan pelan.


"Ntah lah, Mungkin terlempar saat Aku ketabrak, Saat Aku membuka mataku, Aku sudah berada disini," ucap Alia sedih.


"Sudahlah jangan di fikirkan lagi, Kamu harus banyak istirahat ya," ucap Faraz mengusap lembut pipi Alia. dan kembali mendorong kursi rodanya.


Begitu sampai di ruan VVIP Faraz kembali membopong tubuh Alia dan membaringkannya di ranjang.


Sedangkan perawat yang mengantar Mereka meminta izin untuk kembali melaksanakan tugas lainya.


Faraz duduk di tepi ranjang menggengam tangan Alia.

__ADS_1


Faraz yang melihat Alia yang terlihat begitu sedih hingga kedua matanya membengkak, Sebisa mungkin menyembunyikan kesedihan yang Ia rasakan dalam hatinya, Ia tidak ingin membuat Alia semakin sedih dan merasa bersalah dengan apa yang menimpanya.


Ketika air matanya hampir terjatuh, Faraz segera bangkit dan meminta izin keluar sebentar.


"Aku akan menghubungi Ibu dulu biar orang rumah tidak mencari-cari Kita,"


Alia hanya mengedipkan matanya dengan sangat pelan.


Di dalam kesendiriannya Alia kembali mengingat kecelakaan yang menimpanya.


Setelah menutup telfon dari Faraz, Ia melihat ada anak berusia sekitar tiga tahun tiba-tiba berlari ke tengah jalan ketika Ibunya tengah sibuk memakai helm.


Tanpa melihat kanan kiri jalan, Alia langsung berlari menyelamatkan anak itu dan memberikan pada orang tuanya dengan selamat.


Namun setelah Alia inging menyebrang kembali, Tiba-tiba sebuah motor melaju dengan kecepatan tinggi menyambar tubuhnya.


"Aaaaaaaaa...." jerit Alia memegangi kedua telinganya sembari memejamkan matanya.


Faraz yang mendengar teriakan Alia segera berlari mendekatinya.


"Ada apa Sayang, Hah? Apa yang terjadi?"


"Faraz..." Alia langsung menangis meluk Faraz.


"Tenanglah Sayang, Semua akan baik-baik saja," Faras terus mengusap Alia dengan lembut dengan meletakkan dagunya di ujung kepalanya.


Karena Alia tidak mau melepas genggamannya, Faraz ikut membaringkan tubuhnya di ranjang yang memang muat untuk dua orang.


Alia terus menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Faraz sedangkan kedua tangannya terus menggenggam erat kemejanya.


Seperti orang ketakutan, Alia tidak mau melepaskan genggaman tangannya sedikitpun.


Faraz memeluknya dengan erat dan mengusap kepala Alia dengan penuh kasih sayang.


perlahan Alia mulai merasa tenang dan tidak dalam pelukan Faraz.


~~


Alia mulai membuka matanya,


Ia mendongakkan kepalanya ke atas menatap wajah tampan suaminya yang masih tertidur pulas memeluk tubuhnya.


Alia kembali membenamkan wajahnya di ceruk leher Faraz.


Sudah jadi kebiasaannya menghirup aroma tubuh suaminya di pagi hari membuat Ia merasakan ketenangan dalam hatinya.


Faraz mulai terusik dengan nafas hangat yang menyapu ceruk lehernya.


Perlahan Ia membuka matanya dan melihat Alia seperti bayi kucing yang mencari kehangatan induknya.

__ADS_1


Faraz mengukir senyum melihat Alia yang terlihat sudah jauh lebih tenang.


"Good morning gorgeous," ucap Faraz mengusap pipi Alia.


"Maafkan Aku Faraz, Karena Aku, Kau jadi kehilangan bayi mu."


"Tidak Sayang, Itu sudah takdir, Jangan bersedih, Kita Akan mencobanya lagi." ucap Faraz terseyum getir.


Alia terseyum haru dan kembali memeluk Faraz.


Faraz menarik nafas dengan sangat pelan agar Alia tidak merasakan kesedihannya.


"Aku sudah terlambat datang bulan, Karena itu Aku ingin membeli testpack untuk memastikan, Aku tidak tau akan jadi seperti ini."


"Yang sudah terjadi biarlah terjadi, Lain kali kalau mau kemanapun Kau Harus pergi dengan Supir," Faraz melepaskan pelukannya dan menatap Alia.


"Aku hanya ke mini market dekat rumah Faraz, Jika Aku tau akan seperti ini..." Alia menggantung ucapannya.


"Aku tau Kau wanita yang mandiri, Yang terbiasa melakukan apapun sendiri, Tapi sekarang Kau adalah istri dari Faraz Shehzad Shaikh, Kau harus terbiasa menggunakan fasilitas yang ada di rumah, Sekalipun Kau hanya ingin berkeliling kompleks, Biarkan Supir mengantarmu."


"Faraz, Alia..." ucap Ibu Zeenat yang langsung masuk tanpa mengetuk pintu.


Faraz yang melihat Ayah dan Ibunya datang segera turun dari ranjangnya.


"Ee... Maafkan Ibu Nak, Ibu begitu khawatir sampai lupa mengetuk pintu."


"Tidak apa-apa Ibu, Aku hanya menemani Alia tidur."


Ibu mengangguk dan mendekati Alia.


"Bagaimana keadaan mu Sayang?"


"Aku baik Ibu, Tapi maafkan Aku karena tidak bisa menjaga cucu Ibu," sesal Alia.


"Tidak Sayang, Yang terpenting Kamu selamat, Insya Allah suatu saat kalian akan kembali di percaya di waktu yang tepat,"


"Aamiin, Terimakasih Ibu, Terimakasih tidak menyalahkan ku."


"Semua sudah takdir Sayang, Tidak ada siapapun yang bisa menolaknya," Ibu memeluk Alia dan mengusap punggungnya dengan penuh kasih sayang.


"Faraz... Tabahkan hatimu," ucap Ayah.


Faraz mengangguk dan memeluk Ayahnya sesaat.


Bersambung...


AYO SEMANGAT-SEMANGAT...


LIKE, KOMEN, HADIAHNYA DI TUNGGU BIAR AUTHOR MAKIN SEMANGAT POSTINGNYA 🤣

__ADS_1


__ADS_2