Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
Memilih Pesantren


__ADS_3

"Kita bisa bertukar tempat jika Kamu merasa bosan di pesantren."


Zayn terhenyak mendengar ucapan saudara kembarnya.


"Jangan main-main Zayd, Papa akan marah besar kalau sampai mengetahuinya, Lagi pula Aku tidak minat bekerja seperti mu."


"Kalau begitu makanlah, Kita pikirkan lagi nanti."


Zayn mengambil piring dari tangan Zayd dan mulai melahap makanan yang Zayd bawakan untuknya.


Tok... Tok... Tok...


Zayd yang mendengar pintu di ketuk, Beranjak membukakan pintu.


"Zia..."


"Kak Zayn..." Zia langsung menerobos masuk mendekati Zayn dengan sedih.


"Jangan menagis, Aku tidak pernah mendengar keluh kesah mu, Jadi tidak ada bedanya Aku ada di rumah maupun di pesantren," ucap Zayn yang sambil terus melahap makanannya.


"Tapi Zia akan merasa kehilangan Kak Zayn kalau Kak Zayn benar-benar di kirim ke pesantren."


"Masih ada Zayd, Dia yang selalu memahami dirimu."


"Tapi Kak.."


"Sudahlah Zia, Kembali ke kamar mu."


Zayd menitah Zia dan mengantarnya keluar.


"Biarkan Kak Zayn tenang, Nanti Zia bicara lagi."


Zia menganggukkan kepalanya dan meninggalkan kamar.


Setelah selesai makan Zayn berfikir untuk menyelinap keluar untuk menemui Devita yang telah mengadukan apa yang terjadi pada Papanya.


Dengan meminta Zayd menggantikan Dirinya di kamar, Zayn menyelinap keluar ketika semua orang sudah berada di kamar masing-masing.


Alia melihat Faraz yang baru keluar dari kamar mandi dengan wajah yang masih kesal mencoba mendekati sang suami dan memeluknya dari belakang.


"Apakah Aku telah gagal mendidik Anak-anak Kita?" tanya Faraz menoleh ke belakang melihat Alia yang membenamkan wajahnya di punggungnya.

__ADS_1


"Tidak Mas, Jangan katakan itu, Mas adalah suami dan Papa terbaik, Jika Anak-anak tidak sesuai dengan didikan atau karakter orang tuanya, Itu bukan salah Mas."


Faraz meraih kedua tangan Alia dan memutar tubuhnya menghadap sang Istri. Kemudian kembali memeluknya erat dan mengecup pucuk kepalanya.


•••


Zayn sampai di rumah Devita.


Tanpa menghubungi terlebih dahulu Zayn langsung berteriak pada Satpam untuk memanggil Majikan mudanya tersebut. Namun karena sudah tengah malam Satpam menokak dan meminta Zayn untuk pergi hingga keributan di antara Mereka pun terjadi.


"Ada apa ini?" tanya David yang baru sampai rumahnya.


"Maaf Tuan muda, Pria ini memaksa Saya memanggilkan Non Devita."


David menatap Zayn yang memang Ia kenal sebagai Kakak dari Zia.


Karena rasa cintanya pada Zia, David pun dengan senang hati menyambut kedatangan Zayn.


"Kenapa Kau tidak menuruti perintahnya, Dia adalah Zayn Athallah Faraz Shaikh, Seorang model terkenal sekaligus Kakak dari sahabatku," ucap David pada Satpamnya.


"Maafkan Aku Tuan muda." Satpam menundukkan kepalanya.


"Tidak perlu, Panggil Kakak mu sekarang juga."


David terdiam menatap wajah tegas Zayn. Namun Ia tidak bisa membantah dan melangkah masuk memanggil Kakaknya.


Sekitar sepuluh menit kemudian, Zayn yang melihat Devita keluar langsung berjalan ke arahnya dan menarik lengannya dengan kasar.


"Zayn!"


"Berrraninya Kau mengadukan ku pada Papa!"


"Zayn Aku tidak tau lagi bagaimana menjelaskan pada mu jika Carissa itu berniat jahat padamu, Sebab itu Aku mengatakan pada Om Faraz tentang penggrebekan itu, Tapi Om Faraz juga tidak percaya padaku, Jadi Aku..."


"Jadi Kamu memberitahu pada Opa Zhehzad?"


"Maafkan Aku Zayn ini demi kebaikan mu."


"Siapa Kau berani-beraninya menentukan baik tidaknya kehidupan ku!"


Zayn semakin memperkuat cengkramannya.

__ADS_1


"Zayn... Aww."


"Apa Kau tidak memiliki pekerjaan lain sampai terus menerus membuntuti ku?"


"Zayn, Aku hanya ingin membuktikan jika Carissa berniat buruk padamu, Percayalah padaku Zayn."


"Sekalipun Carissa berniat jahat pada ku, Itu tidak akan pernah merubah perasaan ku padamu. Apa Kau fikir setelah berhasil membuktikan jika Carissa jahat lalu Aku akan jadi mencintaimu? Tidak akan Devita, Justru karena perbuatan mu yang terus membuntuti ku, dan mengadukan ku pada Papa dan Opa, Malah membuat ku semakin membencimu!"


Devita menggelengkan kepalanya dengan sedih.


"Ini terakhir kalinya Kita bertemu, Jangan pernah lagi berani menemui ku, Apa lagi membuntuti ku!"


Devita hanya bisa menangis melihat kepergian Zayn.


🍃 Pagi Hari 🌻


Setelah sarapan pagi bersama, Tidak menunda waktu lagi, Faraz menyampaikan keputusannya untuk mengirim Zayn ke pesantren yang sudah Ia pilih melalui salah satu teman yang merekomendasikan pesantren yang tepat untuk Anak se usianya.


Yakni Pondok Pesantren Badiuzzaman, Kebumen Jawa tengah.


"Pondok ini di khususkan untuk Anak-anak 18th ke atas, Dengan berfokus pembinaan Akhlak, Tahfidz dan Tilawatil serta kitab-kitab kuning, Di sana juga terdapat ekstrakurikuler seperti Latihan berpidato dalam tiga bahasa (Indonesia, Inggris dan Arab) Pengembangan Olahraga, Pengembangan Seni Beladiri, Pengembangan jurnalistik dan publisistik, Pengembangan Exacta (Lab Skill), Ketrampilan, Wirausaha dan lain sebagainya."


Zayn yang mendengarnya sama sekali tidak merasa tertarik dengan apa yang sedang Papanya jelaskan.


Ia benar-benar merasa Papanya terlalu kejam menghukum dirinya sampai mengirimnya ke pesantren.


"Zayn, Segera siapkan apa yang ingin Kamu bawa."


Dengan kesal Zayn beranjak dari duduknya dan pergi ke kamarnya.


"Dan Kamu Zayd, Jangan coba-coba membantu Kakak mu dengan menggantikan posisinya."


Zayd menganggukkan kepalanya meskipun hatinya merasa berat harus berpisah dengan kembarannya.


"Dan Kamu Zia, Jangan mudah tergoda dengan rayuan laki-laki, Kamu harus bisa menjaga dirimu sampai Kamu menikah dengan orang yang benar-benar mencintaimu."


Zia menganggukkan kepalanya dan mengingat cintanya pada Om Bryan.


Bersambung...


📌 YANG BILANG FARAZ DAN ALIA BEGO DALAM MENDIDIK ANAK-ANAKNYA FIX GAK PERNAH BACA SEJARAH NABI DAN PARA ULAMA, TIDAK SEMUA ANAK MENGIKUTI JEJAK ORANG TUANYA SEKALIPUN ORANG TUANYA SEORANG ALIM ULAMA. KARENA TERKADANG COBAAN MANUSIA ITU DATANG DARI ANAK-ANAKNYA.

__ADS_1


__ADS_2