Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
Godaan


__ADS_3

Setelah memberikan restunya pada Zayd, Akhirnya Faraz juga memberikan restunya kepada putri kesayangannya dengan temannya sendiri. Meskipun awalnya begitu berat, Namun karena nasehat Zayn dan demi kebahagiaan sang putri akhirnya Faraz memberikan restunya dengan syarat Zia harus rengking satu di ujian terakhirnya.


Setelah makan malam bersama selesai Faraz dan Alia kembali ke kamarnya. Begitupun dengan Zayn. Namun Zayn yang tidak bisa tidur kembali bangkit dan pergi ke kamar kedua orang tuanya.


Tok... Tok... Tok...


"Masuk,"


"Di kunci Pa." pekik Zayn.


"Oh iya lupa, Bentar." Faraz beranjak dan membukakan pintu untuk putra sulungnya.


"Ganggu gak Pa?"


"Nggak, Nggak kan Ma?" tanya Faraz menoleh ke belakang meminta persetujuan Alia.


"Nggak lah sayang, Kemarilah Mama juga sangat merindukan mu."


Dengan senyum bahagia Zayn langsung masuk dan naik ke ranjang di mana sang Mama tengah bersandar di sandaran ranjangnya.


Dengan manja, Zayn membaringkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya di pangkuan sang Mama.


Alia dan Faraz saling menatap dengan menaikan kedua alisnya.


Meskipun Zayn terlihat semakin dewasa namun Dia tetaplah anak yang terkadang ingin bermanja-manja dengan sang Mama.


Dengan lembut Alia mengusap-usap kepala Zayn. Begitupun dengan Faraz yang ikut naik ke ranjang dan mengusap punggung putra sulungnya yang kini tinggal jauh dari mereka.


"Ada yang ingin kamu bicarakan?" tanya Faraz.


"Ya. Seperti yang lainnya, Aku pulang juga ingin meminta restu pada Mama dan Papa."


"Apa!"


"A-e tepatnya bukan restu, Tapi Aku ingin Papa menemani Zayn tembung pada Pak Kiai jika Zayn begitu mencintai putrinya dan ingin segera menikahinya."


"Apa!" Faraz dan Alia tercengang bersamaan.

__ADS_1


"Kenapa Papa dan Mama tercengang seperti itu?" Zayn beranjak duduk dan menatap kedua orang tuanya yang sekarang mengalir di kanan kirinya.


"Tadi kamu bilang putri Pak Kiai?" tanya Alia memastikan.


"Seorang Zayn mencintai putri Pak Kiai?" sambung Faraz yang masih tidak percaya.


"Kenapa Papa tercengang seperti itu, Ini cinta Pa."


"A-e tidak, Papa hanya merasa heran saja, Bagaimana kamu bisa jatuh cinta pada putri Pak Kiai, Pasti dia pake jilbab lebar, gamis panjang menyapu lantai iya kan?"


"Ya itu benar Pa, Tapi di situlah istimewanya." Zayn memejamkan mata mengingat kecantikan alami yang di miliki Faza."


"Apa karena ini juga kamu jadi betah di pondok!"


"Ya tentu saja."


"Pantas saja, Pengurus sudah tidak pernah lagi menelfon Papah mengadukan kenakalan mu."


"Sekarang nah nakal nya lain." ucap Zayn tertawa.


"Cukup dampingi Zayn jika Zayn menghadap Pak Kiai."


"Jika wanita itu membawa kebaikan untuk mu, Maka Papa akan melakukan dengan senang hati." Faraz terseyum dan memeluk putranya dengan bangga.


•••


Zayd dan Alea sampai di apartemen.


Setelah mengantongi restu dari Faraz, Mereka merasa lega akhirnya tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi untuk bertemu. Apa lagi Faraz bilang akan menyelesaikan masalahnya dengan Barry membuat mereka tidak lagi di pusingkan dengan masalah permusuhan orang tuanya.


"Kamu lihat, Tidak terjadi apa yang kamu takutkan," ucap Zayd menangkup wajah Alea dengan perasaan yang sangat bahagia.


"Ya." Alea langsung memeluk Zayd dan membenamkan wajahnya di dada bidang Zayd.


Setelah cukup lama berpelukan Zayd menangkup wajah Alea agar menatap dirinya.


Kepala Alea yang mendongak, Membuat leher jenjangnya begitu menggoda Zayd yang melihatnya.

__ADS_1


Dengan cepat Zayd membenamkan wajahnya di sana.


Alea mengalihkan kepalanya kesana kemari menahan gelinya sapuan bibir Zayd.


"Akhh..." lenguh Alea sembari menggengam erat kemeja Zayd.


Zayd semakin berga'irah dan mendorong tubuh Alea berbaring di sofa.


Gelora asmara yang tengah membara di hatinya ingin terus menikmati apa yang belum pernah Ia rasakan.


"Eummhhh..." Alea melenguh nikmat saat Zayd memberikan gigitan kecil pada bibirnya."


"Kau sudah semakin pandai." puji Alea.


"Tidak sepandai dirimu." saut Zayd di sela-sela ciu'man.


Zayd terus menikmati wajah, Bibir hingga ke area leher. Namun aktivitasnya terhenti saat Alea menyuruhnya melakukannya lebih.


"Lanjutkan." ucapan Alea membuat Zayd tercengang.


"Alea, Kamu sadar dengan yang kamu katakan?"


"Ya, Lanjutkan Zayd, Bukankah Papah mu sudah merestui kita dan sebentar lagi kita akan menikah?".


"Ya, Tapi tidak sekarang." Zayd bangkit dari atas tubuh Alea dan duduk di tepi ranjang.


"Kita akan melakukannya setelah kita resmi menikah." lanjut Zayd.


Alea tertawa menatap Zayd terlihat begitu polos.


"Dasar anak Mama, Hahaha." ejek Alea.


"Seharusnya kamu merasa bersyukur Aku tidak memakan mu sebelum pernikahan."


Alea terseyum menatap Zayd, Dalam fikirannya berfikir "Sangat jarang sekali seorang Pria menolak untuk berhubungan badan. Apalagi sang wanita yang telah menyerahkan diri."


📌 Kisah Faraz dampingi Zayn nemuin Pak Kiai sudah ada di Novel "Bersaing Cinta Dengan Ustadz" yang malah di dahului Ustadz Adnan 😀

__ADS_1


__ADS_2