Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
Trauma


__ADS_3

Dengan penuh penyesalan Faraz mendekati Alia yang terlihat begitu lemah dan ketakutan. Kemudian Ia duduk di tepi ranjang mencoba meraih Alia. Namun Alia langsung menepisnya dan berteriak histeris.


"Jangan sentuh Aku, Jangan sentuh Aku." Alia beringsut hingga ke sandaran ranjang dengan menutup kedua telinganya.


"Sayang..." Faraz mencoba memegang tangan Alia. Namun Alia kembali menepisnya dan terus meracau histeris.


"Lepaskan Aku, Lepaskan Aku!"


"Sayang tenang lah, Lihat, Ini Mas!" Faraz menangkup wajah Alia menghadapkan ke wajahnya.


"Ini Mas, Hal buruk telah berlalu, Tenanglah."


"Tidak! Tidak! jangan sentuh Aku, Jangang sentuh Aku! Aku sudah kotor, Aku menjijikkan." Alia terus menggosok-gosok seluruh tubuhnya dengan kasar.


"Sayang itu tidak..." belum sempat Faraz menyelesaikan ucapan nya Alia berlari ke kamar mandi.


"Aku sudah kotor, Aku menjijikkan." Alia menyalakan shower di atas kepalanya sambil terus mengutuk dirinya sendiri.


"Sayang buka pintunya, Tidak ada yang berubah pada dirimu."


"Aku kotor, Aku menjijikkan." kata-kata itu terus Alia ucapkan dengan rasa jijik pada diri sendiri.


Faraz yang tidak mendapat respon dari Alia langsung mendobrak pintu kamar mandi.


Faraz melihat Alia tengah menggosok kasar tubuhnya hingga terlihat kemerahan.


"Sayang hentikan! Kamu menyakiti dirimu sendiri!" Faraz mencoba memegang kedua tangan Alia untuk menghentikan dirinya menyakiti diri sendiri.


"Tidak! Dia menyentuhku disini, Disini, Disini." Alia menunjuk setiap titik yang sempat di sentuh oleh Malvin.


Faraz menggelengkan kepalanya dengan sedih, Selain merasa sangat menyesal karena telah menyepelekan kekhawatiran Alia, Faraz juga begitu sedih melihat Alia yang terlihat begitu trauma.


"Aku sudah kotor, Aku menjijikkan." dua kata itu yang selalu di ucapkan Alia dengan tangisan histeris.

__ADS_1


"Sayang... Sayang... Husssttt... Itu tidak benar, Tidak ada yang berubah padamu, Kamu tetap istriku yang sangat ku cintai, Kamu Ibu dari Anak-anak ku, Tidak peduli berapa banyak Dia menyentuh mu, Bagiku Kamu tetap suci tanpa noda."


Alia mulai merasa tenang dengan ucapan Faraz. Namun beberapa menit kemudian Bayangan Malvin memeluk dirinya dari belakang sembari mencium tengkuknya membuat Alia kembali histeris.


"Tidaaaaakkkk! Dia sudah menyentuhku, Kamu pasti akan jijik pada ku."


Alia terus mengusap kasar tengkuknya dan langsung di hentikan oleh Faraz.


"Dia menyentuhmu di sini?" Faraz mengecup tengkuk yang Alia maksudkan.


"Lihatlah Aku tidak merasa jijik pada mu," Faraz terus memberikan sapuan lembut pada area tengkuk dan sekitarnya.


Alia memejamkan mata dan mulai merasa tenang.


"Katakan di mana lagi Dia menyentuh mu?"


Alia menatap sayu Faraz tanpa mengatakan apapun.


Dibawah guyuran air shower yang mengalir deras, Faraz terus mengecup setiap bagian yang memar untuk meyakinkan Alia jika kejadian buruk yang menimpanya tidak akan merubah apapun.


"Sayang!" Faraz langsung membopong tubuh Alia keluar dan membaringkannya di ranjang.


Dengan rasa sedih yang teramat sangat, Faraz mengeringkan tubuh Alia dan mengganti pakaiannya. Kemudian Faraz menelfon Dokter dan Psikolog, Lalu mengganti pakaiannya yang juga basah kuyup.


Setelah itu Faraz duduk di tepi ranjang.


Faraz melihat ujung bibir Alia yang masih menyisakan bekas luka akibat tamparan keras dari Malvin dan kening sebelah kanan terluka bergaris sekitar 3 centi akibat terbentur ujung meja. Tidak itu saja kedua pergelangan Alia juga terlihat memar. Terlihat jelas jika itu bekas cengkraman tangan Malvin yang begitu kuat hingga meninggalkan bekas Jari-jemarinya di sana. Faraz semakin sesak dan tidak bisa lagi menahan air matanya ketika melihat beberapa luka gores di anggota tubuh lainnya.


Ting Tong...


Faraz menghapus air matanya dan membukakan pintu.


"Selamat Sore Tuan."

__ADS_1


"Sore Dokter, Masuklah."


Dengan di dampingi Psikolog, Dokter mulai memeriksa keadaan Alia.


Setelah memeriksa dan membalut luka di kening Alia, Dokter memberikan resep obat dan memberikannya pada Faraz.


"Bagaimana Istri Saya Dokter?"


"Jika dilihat dari luka memar sepertinya itu akan terasa sakit dari dalam tulang akibat benturan keras atau tekanan hebat pada anggota tubuhnya."


"Dan untuk psikis nya?"


"Anda harus benar-benar mendukungnya selama masa pemulihan." saut Psikolog.


"Bagaimana cara mengatasinya, Istri Saya terus mengutuk dirinya sendiri dan menganggap dirinya kotor."


"Bantu istri Anda selalu berpikir positif dan fokus pada hal penting, 


Mungkin awal-awal akan sulit untuk bisa berfikir positif, Namun seiring waktu hal ini akan terasa mudah untuk diterapkan.


Dan yang kedua Latihan pernafasan. Saat muncul perasaan marah, kecewa, cemas, dan stres akibat trauma psikis, Cobalah untuk menerapkan latihan pernapasan. Tarik napas dalam-dalam beberapa kali dan hembuskan secara perlahan, Hal ini bisa membantu menenangkan diri dan memudahkan untuk berpikir jernih.


Tidak hanya itu, Istri Anda juga harus berhenti menyalahkan diri sendiri dengan semua hal yang telah terjadi. Sebab bagaimanapun, Peristiwa tersebut bukan salahnya.


Faraz menarik nafas dalam-dalam menyalahkan dirinya karena mengabaikan kecurigaan Alia "Jika saja Aku tidak menganggap remeh dan tidak mementingkan pekerjaan ku, tentu hal ini tidak akan terjadi." batin Faraz yang merasa kesal dengan diri sendiri.


"Dan yang terakhir, Untuk mengalihkan pikiran dari rasa bersalah atau trauma ada baiknya untuk kembali ke rutinitas sehari-hari. Aktivitas yang dikerjakan sehari-hari akan membantu untuk mengalihkan pikiran traumatis tersebut."


"Akan Saya lakukan Dok."


"Baiklah, Semoga Istri Anda lekas membaik."


Faraz mengangguk dan mengantar Mereka sampai pintu.

__ADS_1


Kemudian Faraz kembali duduk di tepi ranjang dan menatap Alia dengan penuh penyesalan. Seperti Alia yang mengutuk dirinya karena di sentuh oleh Malvin, Faraz juga mengutuk dirinya yang mengabaikan kecurigaan Alia pada Malvin.


"Maafkan Aku Sayang... Aku memang bodoh seperti yang para Reader selalu katakan padaku. wkwkwk 🤣


__ADS_2