
Di tengah kesedihannya Kavita teringat kebersamaannya dengan Faraz.
Selama enam tahun bersamanya tak sekalipun Faraz bersikap kasar padanya, baik perkataan maupun perbuatan, Faraz selalu memperlakukan Kavita seperti Tuan Puteri.
Namun Kavita yang tidak kuat dengan godaan hubungan jarak jauh membuat Ia melupakan cinta dan kebaikan Faraz demi mengejar cinta yang lain.
Dan hari ini Kavita harus menerima perlakuan kasar Pria pilihannya sendiri.
Kavita meraih tas kecilnya, Ia mengambil ponselnya dan mencari nama Faraz di kontaknya.
Kavita terdiam menatap nama Faraz di layar ponselnya, Ia mulai membuka pesan yang dulu pernah Faraz kirimkan,
Terlihat masih ada beberapa pesan yang belum sempat Ia hapus, Kavita mulai membaca satu persatu pesan itu.
Kavita mulai mengukir senyum saat membaca kata-kata romantis yang Faraz tuliskan padanya.
Namun beberapa saat kemudian Kavita kembali sedih saat membaca bagaimana perhatian dan kekhawatiran Faraz padanya, jauh sekali dengan perlakuan Dev padanya, padahal sebelum menikah dengan Dev semua terlihat begitu indah. Namun setelah menikah, semua terasa begitu pahit Ia rasakan.
°°°
"Baiklah Handsome Kau dan Alia harus cepat menyusul kami ke Jogja, jangan sampai kalian datang sehari sebelum pernikahan, karena Bibi ingin kalian ikut serta dalam lamaran dan semua prosesi pernikahan Sahid, Oke?"
"Jangan khawatir Bibi, Aku akan pesan tiket sekarang juga," ucap Faraz terseyum.
"Baiklah, kalau begitu sampai ketemu di Jogja,"
"Sampai jumpa Bibi, Paman." Faraz menjabat tangan Mereka.
Faraz dan Sahid saling memandang.
"Semoga pernikahanmu berjalan dengan lancar," ucap Faraz menurunkan egonya.
"Terimakasih," ucap Sahid datar.
"Dan ingat jangan pernah sakiti Alia lagi, Kalau Kau berani menyakitinya lagi, Aku akan menghajar mu lebih dari kemarin." ancam Sahid.
"Kau bisa menghajarku sepuasnya jika Aku kembali menyakitinya," tantang Faraz.
Sahid terdiam dan meninggalkan Faraz.
__ADS_1
Faraz melangkahkan keluar meninggalkan Bandara.
baru saja Ia duduk di mobilnya ponsel Faraz berdering.
Faraz langsung mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menelfonnya.
"Hallo.." ucap Faraz.
Namun Faraz tidak mendapat jawaban.
Faraz melihat layar ponselnya dan hanya tertulis private number.
"Hallo, Siapa ini?" tanya Faraz yang menempelkan kembali ponselnya ke telinga. Namun lagi-lagi Ia tidak mendengar jawaban.
Faraz merasa kesal dan ingin mengakhiri panggilan telfonnya, namun belum sempat Ia mengakhiri terdengar Isak tangis dari ujung telfonannya, Faraz kembali menempelkan benda pipih itu ke telinganya, Faraz menarik nafas panjang ketika menyadari suara itu.
"Apa yang terjadi?" tanya Faraz.
"Kau mengenali ku meskipun Aku belum bicara?"
"Aku bersama mu enam tahun, bahkan suara batuk mu pun Aku bisa mengenali,"
"Faraz... hiks hiks hiks,"
"Andai waktu bisa di putar, Aku tidak ingin mengenalmu Kavita," tegas Faraz yang langsung mengakhiri telfonannya dengan kesal.
Faraz meremas rambutnya dan memukul stir mobilnya dengan kesal.
Ting...
Faraz membaca pesan yang baru saja masuk.
"Sekarang Aku sedang menerima hukuman ku karena telah menyakitimu, Aku sedang mengandung, tapi Dev terus menyiksaku, Dia tidak memperdulikan bayinya, bahkan dengan kejam dia mendorong ku hingga jatuh ke lantai,"
Faraz terhenyak membaca pesan itu,
dalam hati kecilnya Ia merasa kasihan dengan apa yang Kavita keluhkan, tapi kini Alia juga telah mengisi hatinya, dan Alia sekarang adalah prioritas utamanya.
Faraz segera membuang jauh-jauh fikiran tentang Kavita, dan segera meninggalkan bandara.
__ADS_1
°°°
Faraz sampai di rumah Alia.
Bu Fareeda yang mendengar pintunya di ketuk membukakan pintu untuknya.
Dengan tatapan sinis Bu Fareeda kembali kedalam tanpa mengatakan apapun.
Faraz yang sudah terbiasa dengan sikap jutek mertuanya, mengabaikannya dan langsung ke kamar Alia. Namun Ia tidak menemukan Alia di kamarnya.
Faraz kembali keluar dan mencari di ruangan lain. Namun Ia juga tidak menemukannya.
Dengan terpaksa Faraz berniat mengetuk kamar mertuanya. Namun belum sempat Ia mengetuk terlihat Alia datang dengan belanjaan di tangannya.
Faraz terseyum lebar mendekati Alia.
Alia langsung meninggalkannya tanpa mengatakan apapun.
"Alia, sampai kapan Kau akan terus diam padaku?" tanya Faraz membuntuti Alia.
Alia terdiam sembari mengemasi belanjaannya ke dalam kulkas.
"Alia lihatlah ini Aku sudah membeli tiket pesawat untuk pergi ke Jogja." ucap Faraz menunjukkan tiket tersebut.
Dengan dingin Alia mengambil tiket tersebut dan merobeknya.
"Alia apa yang Kau lakukan? itu tiket untuk ke rumah Bibi mu kenapa kau merobeknya?"
"Aku tidak ingin menggunakan pesawat, Aku sudah memesan tiket kereta."
"Apa! Kereta?" tanya Faraz terkejut.
Alia meninggalkan Dapur dan pergi ke kamarnya.
Faraz kembali mengikuti Alia.
"Alia kereta itu kan lama bisa berjam-jam, kalau pesawat kan kita hanya butuh satu dua jam," rengek Faraz.
"Jika Kau merasa keberatan, Aku juga tidak berniat mengajak mu," ucap Alia.
__ADS_1
"Gadis ini benar-benar menguji kesabaran ku," batin Faraz.
Bersambung...