Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
Tidur Bersama


__ADS_3

Alia membantu Faraz berbaring di ranjangnya.


Faraz merasa jantungnya berdebar lebih kencang saat Alia menyentuh pipinya untuk membenarkan posisi kepalanya, Ia dapat menatap Alia dari jarak yang sangat dekat.


Alia yang menyadari tatapan Faraz segera menarik tangannya dan melangkah sisi ranjang untuk mengambil bantalnya.


"Kau mau kemana?" tanya Faraz.


Alia menatap Faraz dengan heran.


Faraz yang menyadari ekspresi wajah Alia, langsung meralat pertanyaannya.


"Eee.... Maksudku..... Kau... Tidak perlu tidur di sofa, apa lagi di lantai." ucap Faraz terbata-bata.


Alia semakin merasa heran mendengar ucapan Faraz.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Eee... maksudku jika Kau tidur di lantai atau di sofa bagaimana jika Kau kedinginan lagi? Kakiku sedang sakit, siapa yang akan menolongmu?"


"Jadi....?" tanya Alia datar.


"Jadi....Tidurlah bersamaku, Ee... Maksud ku... Tidurlah di samping ku," ucap Faraz gugup.


Alia merasa tak percaya mendengarnya.


"Ee... Kau jangan salah faham, Aku akan menaruh guling ini sebagai pembatas, jadi Kau jangan coba-coba melewati batas ini, Okey?"


"Tidak perlu! Semalam Aku kedinginan karena Aku tak biasa menggunakan AC, di luar juga hujan sangat deras, tapi malam ini tidak hujan dan Aku akan memakai selimut ku, jadi Aku tidak akan kedinginan, ucap Alia membawa bantal dan selimut nya.


"Kenapa Dia tidak mau tidur dengan ku?" batin Faraz.


"Eee.... Jika Kau tidur disitu, Bagaimana jika Aku membutuhkan sesuatu?" tanya Faraz lagi.


"Kamu tinggal memanggilku," ucap Alia sembari menarik selimutnya.


"Tapi bagaimana jika Kau tidak dengar? Jarakmu terlalu jauh sedangkan untuk berdiri saja kakiku sangat sakit," ucap Faraz lagi.


Alia menarik nafas panjang dan duduk kembali.


"Yaa... Baiklah." Alia kembali membawa bantal dan selimutnya dan bersiap tidur di sisi Faraz.


Faraz menahan senyum bahagianya.


"Tapi awas, Jangan sampai melewati batas ini," ucap Faraz menunjuk giling yang di jadikan pembatas di tengah-tengah mereka.


Alia hanya melihat Faraz sekejap dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


Faraz tersenyum tipis dan menarik selimutnya.


Hingga malam semakin larut Mereka berdua sama-sama gelisah tidak bisa tidur.

__ADS_1


Faraz menoleh ke belakang dan melihat Alia yang tidur membelakanginya,


"Apa Cupu sudah tidur?" batin Faraz kemudian kembali membelakangi Alia.


Kini giliran Alia yang menoleh ke arah Faraz.


Alia melihat Faraz yang tidur membelakanginya,


"Apa Bucin sudah tidur?" ucap Alia dalam hati.


°°°


Pagi Hari.


Tanpa disadari, Mereka tidur saling berpelukan.


Sedangkan guling yang jadi pembatas sudah tergeletak di lantai.


Faraz mulai menggeliat, diikuti oleh Alia.


Perlahan-lahan mereka mulai membuka matanya.


"Good Morning," ucap Faraz tersenyum.


"Good Morning," balas Alia


"Hagh!!! Faraz membelalakkan matanya dan terkejut melihat dirinya tidur mememeluk Alia.


"Apa yang Kau lakukan?" tanya Alia.


"Apa maksudmu? Kau yang melewati batas mu," ucap Faraz yang sedikit gugup.


Alia yang melihat dirinya duduk sangat dekat dengan Faraz langsung turun dengan perasaan canggung.


"Mau kemana?" goda Faraz.


"Ee... Aku akan ke kamar mandi," ucap Alia yang langsung berlari ke kamar mandi.


Faraz tersenyum menggelengkan kepalanya melihat Alia yang tersipu malu.


Seketika senyumnya terhenti saat menyadari ia tersenyum untuk Alia.


"Ada apa denganku? Semalam Aku menyuruhnya tidur di sampingku, dan sekarang Aku tersenyum untuknya?" batin Faraz.


Beberapa saat kemudian Alia keluar dari kamar mandi.


Faraz kembali menatap Alia yang terlihat jauh lebih segar dari sebelumnya.


"Ee.. Apa Kau ingin ke kamar mandi?" tanya Alia.

__ADS_1


"Eee... Ya." Faraz langsung menurunkan kakinya.


"Hati-hati," dengan sigap Alia menahan tubuh Faraz yang hampir terjatuh.


Faraz terdiam menatap Alia, begitu pun dengan Alia yang menoleh ke arah Faraz.


"Apa Kau lupa jika kakimu sedang sakit?" tanya Alia lalu meletakkan tangan Faraz di pundaknya.


Faraz hanya menggelengkan kepalanya.


"Ayo hati-hati," ucap Alia mulai memapah Faraz ke kamar mandi.


Selama langkah Mereka menuju kamar mandi Faraz terus menatap Alia.


"Gadis ini begitu perhatian dan mengurusku dengan baik, padahal Aku selalu membuatnya kesal," batin Faraz.


"Duduklah." ucap Alia.


"Hah!" Faraz terlihat bingung.


"Aku bilang duduklah," ucap Alia menurunkan badan Faraz di tepi bathub.


"Ee... Ya," Faraz menganggukan kepalanya.


"Tunggu sebentar, Aku akan menyiapkan airnya." ucap Alia mengisi bathub dengan air hangat.


"Aku fikir Kau tidak tau bagaimana cara menggunakan Water Heater," ucap Faraz mencoba mereda kecanggungannya.


Alia hanya melirik Faraz dingin sembari mendekatkan semua perlalatan mandi agar Faraz lebih mudah mengambilnya.


Faraz kembali terdiam dan terus menatap Alia yang sibuk kesana kemari,


Sedikitpun Faraz tak melepaskan pandangannya terhadap Alia.


Kini Alia duduk di bawah dan meletakkan kaki Faraz di pangkuannya.


"Apa yg kamu lakukan?" tanya Faraz menghentikan tangan Alia.


"Aku ingin membuka perbanmu, Diamlah." ucap Alia menyingkirkan tangan Faraz dan membuka perban di kaki Faraz.


Faraz pun diam dan kembali menatap Alia.


"Sekarang mandilah, Semua sudah ada di dekatmu." ucap Alia bersiap meninggalkan Faraz.


"Kau..." Faraz menghentikan langkah Alia.


"Aku? Aku akan menunggumu diluar, panggil Aku jika Kau membutuhkan sesuatu." ucap Alia dan meninggalkan Faraz


"Aahhh... Apa yang kupikirkan, Kenapa Aku menghentikannya." ucap Faraz memukul kepalanya sendiri.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2