Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
Perjalanan Cinta Ziyan


__ADS_3

Dengan langkah terhuyung-huyung Bella masuk kedalam,


Bryan kembali masuk mengikuti Bella dan memastikan putrinya beristirahat di kamar. Setelah itu Bryan bergegas ke rumah Anita yang Ia curigai sebagai biang masalah pada putrinya.


Tidak sampai tiga puluh menit Bryan Sampai di rumah Anita.


Bryan bergegas menggedor pintu rumah Anita dengan kemarahan yang telah memuncak.


Bhrukkk... Bhrukkk... Bhrukkk...!!!


Seorang Asisten rumah tangga datang membuka pintu untuknya.


"Tuan Bryan."


"Anita ada Bi?"


"Nyonya Anita...."


Tidak menunggu Bibi menyelesaikan jawabannya, Bryan langsung menerobos masuk mencarinya di setiap kamar.


"Tuan, Jangan seperti ini, Nanti saya di pecat," ucap Bibi terus mengikuti langkah Bryan.


"Kerja dengan ku kalau Bibi di pecat, Sekarang katakan yang mana kamarnya?" ucap Bryandi tengah langkah kaki yang begitu cepat.


Namun belum sempat Bibi menjawab Bryan telah menemukannya.


GUBRAKKK!!!


Dua orang di dalam kamar itu terlonjak melihat ke arah pintu yang tiba-tiba di buka paksa.


Bryan menyeringai dan mengeluarkan ponsel dari saku celananya untuk mengabadikan Anita yang tengah duduk mengang'kangi laki-laki muda di bawahnya.


Bibi yang berdiri di belakang Bryan langsung menjauh dan menutup matanya.


"Apa-apaan ini?" pekik Anita sembari meraih selimut untuk menutupi tubuhnya.


Bryan hanya tersenyum dan menunjukan ponselnya lalu memasukan kembali ke saku celananya.


"Tadinya Aku ingin memastikan apakah yang di lakukan putriku adalah hasil dari hasutan mu atau bukan, Tapi Aku malah mendapat lebih dari yang ku harapkan."


"Apa maksudmu Bryan?" karena tidak mengenakan sehelai benang membuat Anita dan laki-laki yang bersamanya hanya bisa mempertanyakan apa maksud perkataan Bryan dari atas ranjang.


"Dengarkan Aku baik-baik! Jika Kau masih berrrani mendekati rumah ku, Kantor ku apa lagi putriku, Aku akan menyebabkan Video ini sampai Kau tidak bisa lagi menatap Dunia karena malu!" Bryan menjeda ucapanya.


"Ehh tunggu, Apakah wanita seperti mu masih memiliki rasa malu? Entahlah itu tidak penting bagiku, Karena yang penting bagiku, Putriku mengetahui bagaimana menjijikkannya dirimu!" Bryan meninggalkan kamar Anita dan pergi meninggalkan rumahnya.

__ADS_1


"Ahhhh Siallll!" ucap Anita kesal.


•••


Di jam istirahat Zia terkejut melihat David datang menemuinya.


Zia yang hampir lupa dengan ancaman David kini kembali merasa cemas.


"Hay Zia, Bagaimana liburan mu?"


"Menyenangkan." saut Zia mengalihkan pandangannya kesana kemari.


David melihat Zia menyembunyikan tangannya yang membuat David curiga. Tanpa bertanya lagi, David menarik tangan Zia untuk melihat apa yang ada di dalam fikirannya.


David menatap Zia menunggu penjelasan apa yang melingkar di jari manisnya.


"Apa ini Zia?"


"Itu bukan urusanmu!" Zia menghempas tangan David dan kembali menyembunyikan tangannya.


"Kau bertunangan dengan Sugar Daddy mu itu?"


Zia hanya diam tak menjawab.


"Berrraninya Kau melakukan ini Zia, Apa kau lupa dengan ancaman ku?"


David mengeratkan giginya sembari mengepalkan kedua tangannya.


•••


Tidak bertemu selama tiga hari, Membuat Bryan benar-benar merindukan kekasih kecilnya hingga membuatnya tidak sabar untuk menemuinya di sekolah.


Bryan menunggu cukup lama sampai para siswa keluar meninggalkan kelasnya.


Akhirnya yang di tunggu-tunggu datang juga.


Bryan tersenyum lebar melihat pujaan hatinya keluar meninggalkan kelas. Kemudian Om Bryan menelfon Zia sambil terus melihat ke arahnya.


Zia melihat layar ponselnya dan langsung mengangkatnya.


"Lihat ke luar."


Zia melihat ke luar dan melihat Om Bryan di dalam mobil melambaikan tangannya. Dengan perasaan yang sangat bahagia, Zia berlari ke Om Bryan.


"Om..."

__ADS_1


"Masuklah Sayang."


Zia mengangguk dan masuk ke mobil.


Mereka saling menatap seakan tak sabar lagi untuk meluapkan kerinduan Mereka. Namun Om Bryan menahannya dan menjauh dari area sekolah.


Setelah beberapa meter mobil berjalan, Om Bryan kembali menghentikannya di pinggir jalan yang cukup sepi.


Kemudian Mereka kembali saling menatap sebelum akhirnya saling berpelukan untuk melepas kerinduannya.


"Zia sangat merindukan Om."


"Om juga sangat merindukan mu sayang."


Om Bryan mengurai pelukannya dan mengusap wajah Zia.


Seperti biasa, Om Bryan mendaratkan bibirnya pada bibir Zia yang sudah menjadi candunya.


Zia melepaskan pagutannya dan terdiam mengingat David yang kembali mengancamnya.


"Ada apa Sayang?"


"David datang lagi Om, Dia kembali mengancam Zia."


"Kamu jangan khawatir, Om sudah memutuskan kalau Om akan menemui Papa Faraz malam ini, Jadi Kita tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi apa lagi merasa takut dengan ancaman David."


"Apa Papa akan setuju?"


"Kita lihat saja nanti."


"Bagaimana kalau Papa tidak setuju, Bagaimana kalau Papa marah dan bagaimana kalau Papa memasukan Zia ke pesantren atau memaksa kita berpisah? Zia nggak mau kalau harus jauh dari Om."


"Zia Sayang tenanglah, Kita harus mencobanya dan menghadapi segala resikonya,"


"Tapi Om..."


"Zia, Kamu adalah kesayangan Papa Faraz, Seberapa lama Papa Faraz bisa marah padamu?"


Zia terdiam mendengar ucapan Om Bryan yang memang benar.


Selama ini Papa Faraz begitu menyayangi Zia dan tidak pernah sekalipun memarahinya.


"Semua akan baik-baik saja, Percayalah." Bryan merangkul pundak Zia dan membuat kepanya bersandar di pundaknya.


Bersambung...

__ADS_1


📌 Baca Kakak Zayn jatuh cinta di novel "Bersaing Cinta Dengan Ustadz 🤗


__ADS_2