
Faraz melihat jam tangannya yang telah menunjukkan pukul 04.48 WIB. Kemudian Faraz menatap Alia yang terlihat sudah puas memenuhi rasa dahaganya.
"Bisa Kita pulang sekarang?"
Alia menganggukkan kepalanya dan terlihat sudah sangat mengantuk.
"Ambilah."
"Tapi ini kebanyakan Tuan."
"Tidak masalah, Kau telah menyelamatkan ku dari rengekan istriku." lirih Faraz lalu masuk ke mobilnya.
Alia yang sudah terlebih dahulu masuk ke mobil terlihat sudah memejamkan matanya.
Faraz terseyum menggelengkan kepalanya dan memasangkan sabuk pengamannya. Kemudian memacu mobilnya dengan kecepatan sedang.
•••
Sayup-sayup terdengar suara tangis bayi di telinga Dev.
Perlahan Dev membuka matanya dan langsung duduk melihat ke arah tangis bayinya, Sedangkan Kavita masih tertidur pulas tanpa merasa terganggu oleh suara tangis bayi di sebelahnya.
"Kavita."
"Kavita."
Dev terus memanggil namanya. Namun Kavita sama sekali tidak terusik dengan panggilan Dev maupun tangis bayinya yang semakin kencang.
Dev yang memang tidur terpisah di ranjang khusus sebelah, Mencoba menampakkan kaki sebelah kiri ke lantai dengan mencondongkan tubuhnya untuk meraih kursi rodanya, Perlahan Dev menapakkan kaki sebelah kanan. Namun Dev langsung tersungkur sebelum bisa menapakkan kakinya dengan sempurna.
"Auhhh..." ringis Dev memegangi kakinya terasa amat sakit.
"Deeeevvvv...." triak Vidya yang baru masuk ke kamar Mereka.
Kavita yang mendengar teriakkan Ibu mertuanya terlonjak dan langsung duduk dengan pikiran yang masih bingung.
"Sayang kenapa Kamu turun dari ranjang tanpa seseorang yang mendampingi mu?" Vidya membantu Dev bangun dan duduk di kursi rodanya.
Sedangkan Kavita yang baru menyadari tangisan bayinya meraih tubuh mungilnya dan memangkunya.
"Kavita!" triak Vidya menghampiri Kavita.
"Ibu..." cegah Dev. Namun Vidya yang sudah di kuasai oleh amarahnya terus memarahi menantunya itu.
"Kamu ini tidur apa pingsan sih, Anak terus-terusan nangis sampai terdengar keluar, Suami jatuh ke lantai masih tidak bangun juga!" hardik Vidya.
"Ibu Aku tidak papa."
"Apa Ibu harus menunggumu celaka baru boleh memarahinya?"
"Sudahlah Ibu, Kumohon."
"Tidak Dev, Ibu harus mengajari Dia bagaimana menjadi istri dan ibu yang baik."
"Ibu, Mungkin Kavita kelelahan jadi..."
__ADS_1
"Kelelahan apa Dev? Dia tidak melakukan pekerjaan rumah, Ada baby sitter yang membantu mengurus bayinya, Ada ahli fisioterapi untuk mengurusmu, Dia hanya perlu meluangkan waktunya untuk mu dan bayinya di malam hari."
Kavita terdiam menahan kekesalan di hatinya.
"Ibu ku mohon jangan mulai lagi."
"Tapi Deeev..."
"Ibu..."
Vidya yang melihat Dev terus memohon segera meninggalkan kamar Mereka dengan kesal.
Kavita melirik Dev dengan kesalahan di hatinya.
•••
Faraz keluar dari kamar mandi dan bersiap ke kantor.
Meskipun mata terasa begitu berat karena semalaman berburu kelapa muda hingga hampir pukul 05 pagi, Namun rasa tanggung jawabnya kepada perusahaan membuat Faraz tetap ingin berangkat bekerja.
Faraz yang sudah siap dengan stelan jasnya duduk di tepi ranjang menatap Alia yang terlihat tidur dengan sangat nyenyak setelah keinginannya terpenuhi.
Faraz mengusap perut Alia dan mengecupnya sesaat. Kemudian mengusap kepalanya dan mengecup keningnya. Kemudian Faraz mencoba bangkit namun tiba-tiba tangannya di tarik kembali hingga wajahnya kembali berada di atas wajah Alia.
"Sayang Kamu sudah bangun?"
"Mas mengusikku." ucap Alia yang kembali memejamkan matanya namun tangannya tetap memegang erat lengan Faraz.
Faraz terseyum dan mengusap pipi Alia. Kemudian mencoba bangkit kembali.
"Sayang, Mas kan harus bekerja, Nanti Mas telat."
"Gak boleh pokoknya Mas gak boleh kerja." rengek Alia memeluk tangan Faraz hingga Faraz harus bertumpu pada lututnya agar tidak menimpa tubuh Alia.
Faraz terseyum dan mencium pundak Alia yang memang membelakanginya.
"Apa ini bawaan bayi juga?" batin Faraz.
Kriiing... Kriiing... Kriiing....
"Sayang, Mas liahat dulu siapa yang menelfon."
Alia terus memegangi tangan Faraz tanpa mau melepasnya sedikit pun.
Dengan susah payah Faraz meraih ponselnya di atas nakas.
Alia yang menoleh ke belakang dan melihat Faraz kesulitan akhirnya melepaskan tangannya.
Faraz terseyum menatap Alia sekejap dan mengangkat ponselnya.
"Faraz kamu dimana? Kok belum sampai?" terdengar suara Ayah dari ujung telepon.
"Ee... Aku..." Faraz kembali menghentikan ucapannya ketika kedua tangan Alia sudah bergelayut manja di pundaknya.
"Dimana Faraz?"
__ADS_1
"Aku masih..." Faraz semakin tidak fokus karena Alia mulai menciumi pipinya.
"Masih dimana?"
"Di rumah... Hhh..." Faraz mulai menggeliat saat Alia menelusuri lehernya.
"Apa Kamu berencana tidak berangkat kerja?"
"Awalnya Aku tidak berencana Ayah, Tapi sepertinya Aku putuskan hari ini tidak akan masuk kantor, Baiklah Ayah. Bye..."
Tuuttt... Tuuttt... Tuttt...
"Faraz... Faraz..." Ayah melihat ponselnya yang terputus.
"Ada apa dengan Anak itu." gumam Ayah.
Faraz menurunkan tangan Alia kemudian menoleh kebelakang.
"Dasar liar!"
Alia hanya tertawa melihat mimik wajah Faraz.
"Kamu memancingku?" Faraz membuka jas hitamnya dan melemparnya ke sembarang arah.
Alia menggeleng pelan.
"Lalu apa namanya kalau bukan memancing?" Faraz terus merangkak naik ke atas tubuh Alia dengan bertumpu pada kedua lutut dan telapak tangannya.
kini tubuh Alia telah terkungkung di bawah kekarnya tubuh Faraz hingga Alia tidak bisa lagi melepaskan diri darinya.
"Kamu yang mulai, Jadi rasakan pembalasan ku." Faraz menciumi Alia bertubi-tubi.
"Eummmuaaach... Eummmuaaach..."
"Mas lepasin Aku," Alia mencoba mendorong dada Faraz. Namun Faraz yang sudah terpancing terus melancarkan sapuan bibirnya ke bawah telinga Alia hingga membuat Alia meliuk-liuk menahan gelinya.
"Mas... Aku..." Faraz menghentikan ucapan Alia dengan pag*utangnya.
"Eummhhh... Eummm..." Faraz memejamkan mata menikmati hangatnya berada di dalam rongga mulut Alia. Namun seketika rasa nikmatnya berubah menjadi rasa sakit saat tiba-tiba Alia menggigit lidahnya.
"Aowwh..." Faraz melepaskan pagu*tannya dan memegangi mulutnya.
"Alia Kau..."
"Huweekk... Huweekk..."
Faraz terdiam bingung melihat Alia mual-mual dan berlari ke kamar mandi.
"Hah-hah-hah!" Faraz meniupkan nafasnya ke telapak tangannya dan mencium nafasnya sendiri.
"Aku kan sudah gosok gigi," gumam Faraz sembari melihat pintu kamar mandi yang setengah terbuka.
Bersambung...
KALAU ADA KESALAHAN KETIK MOHON MANGAP, NGETIK DARI SORE NGANTUK BANGET 🥱
__ADS_1