
Faraz meletakan kepala Alia di pangkuannya.
Dengan rasa bingung dan khawatir, Faraz menggosok-gosok telapak tangan Alia yang terasa begitu dingin.
"Cupu... Buka mata mu,"
Alia terus menggigil tanpa menyatut ucapan Faraz.
"Sekarang apa yang harus kulakukan? Mana listriknya padam lagi." ucap Faraz menggaruk-garuk kepalanya.
"Selimut? Ya... Aku harus mengambilnya."
Faraz menurunkan kepala Alia dari pangkuannya dan melangkah untuk mencari selimut,
Karena tidak begitu memperhatikan area sekitar, Faraz tersandung meja hingga Ia terjatuh dan ponselnya terlempar entah kemana.
"Aaarrrggghhh!!! sial!!" gerutu Faraz.
"Daaan.... Jatuh kemana ponsel ku." ucap Faraz sambil meraba-raba di sekitarnya.
"Arrrgghhhh... Ini benar-benar membuat ku kesal!" Faraz terus menggerutu karena tidak bisa menemukan ponselnya.
Kekesalan terhenti saat Ia mendengar suara Alia yang semakin meracau.
"Cupuuu..." Faraz berdiri dan akan kembali ke Alia. Namun lagi-lagi lututnya kembali kepentok meja yang sama.
"Awwwhhh.... Sssttt! Kenapa Kau selalu menghalangi jalanku! Eeerrggghhh..." Faraz yang begitu merasa kesal menendang meja itu sekuat tenaga.
Ia pun berhasil kembali mendekati Alia.
"Cupuuu...." Akhirnya Faraz memutuskan untuk menggendong Alia, dengan langkah yang hati-hati akhirnya Faraz mencapai ranjangnya.
__ADS_1
Faraz membaringkan Alia dan menyelimuti seluruh tubuhnya.
Namun Alia masih belum berhenti meracau kedinginan.
"Cupu ada apa dengan mu, selimut ini sudah sangat tebal," ucap Faraz yang kembali bingung memikirkan apa lagi yang harus Ia lakukan.
"Bedcover?" Faraz melangkah ke lemari pakaiannya untuk mencari bedcover.
Faraz meraba-raba seluruh isi lemari namun tidak menemukan bedcover didalamnya.
"Dimana pelayan menyimpan bedcover nya?" ucap Faraz kesal.
"Aaarrggghhh!!" Faraz kembali ke tempat tidur dengan rasa kesal dan juga khawatir.
"Cupu... Cupu...." Faraz menepuk-nepuk pipi Alia, namun Alia tidak juga meresponnya.
Faraz memejamkan matanya dan menaeik nafas dalam-dalam.
"Tidak ada pilihan lain, Aku harus melakukan ini," ucap Faraz lalu menaiki tubuh Alia.
Ia membenamkan dagunya di pundak Alia, dan membuat dagu Alia berada di pundaknya.
"Cupu apa Kau sudah merasa cukup hangat?" bisik Faraz di telinga Alia.
Alia masih terdiam tak meresponnya.
Faraz kembali mempererat pelukannya, dan Seketika itu juga Faraz terdiam merasakan ada perasaan yang tidak biasa dalam hatinya.
Faraz menurunkan kepala Alia dari pundaknya.
Faraz menatap wajah Alia yang samar-samar terlihat dari cahaya kecil yang terpancar dari luar.
__ADS_1
Faraz terus menatapnya dengan lekat, kemudian kembali memeluknya dengan erat.
Faraz kembali merasakan keanehan di dalam hatinya.
"Perasaan aneh apa ini? Sebelumnya Aku tidak pernah merasakan keanehan seperti ini jika berada di dekatnya," ucap Faraz dalam hatinya.
Faraz kembali menatap wajah Alia dengan begitu lekat.
Perlahan Ia menangkup wajah Alia.
Dalam keadaan setengah sadar samar-samar Alia melihat Faraz yang terus mendekatkan wajahnya.
Faraz mencium bibir Alia dengan penuh kelembutan.
Tidak itu saja, Perlahan Faraz melesapkan lidahnya melilit lidah Alia yang sebelumnya Ia nikmati dengan keadaan tidak sadar.
Dengan penuh kenikmatan Faraz mengesap lidah Alia keluar hingga menimbulkan bunyi decak dari mulutnya.
Setelah cukup lama menikmati kenyalnya lidah dan bibir Alia, Faraz melepaskan tautannya dan masuk kedalam selimut tebalnya.
Faraz menutup rapat tubuh Mereka berdua dan kembali melu'mat bibir Alia dengan penuh gairah.
Setelah merasa puas Faraz menurunkan ciumannya ke area leher hingga membuat Faraz merasakan geliatan tubuh Alia yang tengah Ia tindih.
"Apa Kau merasa lebih baik?" bisik Faraz menjeda aktivitas nya.
"Haghh...." lirih Alia yang terdengar seperti desa'han.
Faraz semakin bersemangat dan kembali mencium seluruh wajah Alia.
Dengan di iringi oleh derasnya hujan dan suara petir yang gemuruh,
__ADS_1
Akhirnya dalam keadaan sadar Faraz memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami yang selama ini tidak Ia penuhi.
Bersambung....