
Faraz dan Alia masih saling menatap satu sama lain.
Cukup lama keduanya hanyut dalam pandangan mereka sebelum akhirnya Faraz menyadari tatapannya dan mengalihkan pandangannya.
Untuk menghindari kegugupannya Faraz bangkit dari duduknya.
"Aaaaaawwwh......" ringis Faraz begitu menginjakkan kakinya di lantai.
"Buciiin..." Alia langsung memeluknya agar Faraz tak terjatuh.
Tangan Faraz yang berada di pundak Alia membuat keduanya terdiam dan kembali saling menatap.
"Apa kakimu begitu sakit?" tanya Alia mengagetkan Faraz.
"Ya, kakiku sakit sekali untuk berdiri,"
"Sekarang duduklah," ucap Alia membantu Faraz kembali duduk.
"Aku perlu Dokter," ucap Faraz.
"Untuk apa Dokter, kaki mu hanya sedikit berdarah dan Aku sudah mengobatinya, Sebentar lagi juga pasti sembuh,"
"Aku tidak bisa berjalan, Bahkan untuk berdiri saja terasa sangat sakit, apa Kamu tidak lihat kaki ku semakin membiru?"
"Ya baiklah, Berikan nomer ponsel Dokter pribadi mu, biar Aku hubungi,"
"Tidak! Aku tidak mau, Aku ingin kerumah sakit, Aku tidak ingin menjadi orang pincang seumur hidup,"
"Apa yang Kamu katakan, Kau hanya kejatuhan meja bukan kejatuhan beton, Kenapa Kau begitu berlebihan?"
"Aku yang merasakan sakitnya, Kau tidak akan tau apa yang ku rasakan,"
"Kemarin waktu Kau tertusuk Kau kelihatan begitu kuat, lalu kenapa sekarang hanya kejatuhan meja menjadi lemah seperti itu?"
"Kenapa Kau tidak percaya padaku, Kakiku benar-benar sakit."
Alia menarik nafas panjang mendengar kehawatiran Faraz yang terdengar sangat berlebihan.
"Baiklah Aku akan memberi tau Ayah dan Ibu," Alia keluar untuk menemui Ayah dan Ibu mertua.
Beberapa saat kemudian Ayah dan Ibu datang ke kamar Faraz.
__ADS_1
"Faraz apa yang terjadi?" tanya Ayah.
"Kaki ku sakit sekali Ayah," rengek Faraz yang terlihat seperti anak kecil.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Ibu khawatir.
"Kaki ku tertimpa meja Ibu, tapi entah kenapa untuk berdiri sakit sekali," ringis Faraz.
"Baiklah kita pergi ke Dokter," ucap Ayah lalu memapah Faraz
°°°
Setelah selesai menangani Faraz Dokter segera keluar dari ruang operasi.
"Bagaimana keadaan Putra saya Dokter?" tanya Ayah yang langsung mendekati Dokter.
"Kalian tidak perlu khawatir, Setelah kami melakukan X-ray tidak ada keretakan pada tulang kakinya, Ini hanya cedera ringan dan akan sembuh dalam beberapa hari," ucap dokter.
"Tapi Dokter, Dia bilang untuk berdiri saja Sakit?" tanya Alia.
"Itu karena luka memar di kakinya, selain itu juga tulang kakinya tertimpa benda berat, jadi Dia merasa sakit saat berdiri, tapi Anda jangan khawatir ini tidak membahayakan sama sekali, Dia hanya butuh istirahat beberapa hari agar bisa jalan normal kembali," jelas Dokter.
Alia menganggukan kepalanya.
"Ya tentu, Selesaikan administrasinya, setelah itu kalian bisa membawanya pulang."
"Baik Dok, Terimakasih,"
Dokter pun pergi, sementara Ayah pergi menyelesaikan administrasinya.
Ibu dan Alia kedalam untuk melihat keadaan Faraz.
Faraz yang melihat kedatangan mereka, terus menatap Alia yang berjalan di belakang Ibunya.
Ntah kenapa belakangan ini Alia begitu menarik di matanya hingga Ia ingin terus menatapnya.
"Bagaimana keadaanmu sekarang sayang?" tanya Ibu mengagetkan Faraz.
"Ee... Ini sangat menyebalkan Ibu, Kaki ku sakit sekali, bagaimana kalau Aku pincang?"
"Faraz kenapa Kau berlebihan? Dokter saja bilang kamu hanya butuh istirahat beberapa hari agar kamu bisa berjalan normal lagi,"
__ADS_1
"Tapi tetap saja Ibu, pasti Aku akan merasa bosan jika Aku hanya berdiam diri di kamar."
"Kau tidak akan merasa bosan jika berdiam diri di kamar dengan istri mu," ucap Ibu tersenyum.
Faraz langsung menatap Alia, sementara Alia mengalihkan pandangannya karena merasa malu dengan ucapan Ibu mertuanya.
"Ada hikmah di setiap musibah, Mungkin dengan ini Kamu akan semakin dekat dengan istri mu." lanjut Ibu.
"Eee.... A... Apa hubungannya...?" tanya Faraz terbata-bata
"Ya jelas ada, Kau pasti akan kesulitan mengerjakan sesuatu dan dengan itu pasti kamu akan banyak memerlukan bantuan dari Alia, Naaah... Otomatis kalian akan semakin dekat, Iya kan?" ucap Ibu tersenyum.
Faraz tersenyum tipis menatap Alia.
"Apa kalian sudah siap?" tanya Ayah yang tiba-tiba masuk.
"Ya, Kami sudah siap," ucap Ibu.
"Baiklah... Ayo Faraz." ucap Ayah memapah Faraz dan meninggalkan rumah sakit.
°°°
Beberapa saat kemudian mereka sampai rumah.
Ayah kembali memapah Faraz dan mengantarnya kamar.
"Jika Kau butuh sesuatu panggil Ayah,"
Faraz menganggukan kepalanya.
"Dan Kau Alia, Temani suami mu, bantu Dia jika Dia membutuhkan sesuatu," ucap Ibu.
"Baik lah Ibu, jangan khawatir."
Ayah dan Ibu keluar dari kamar.
Kini tinggal Alia dan Faraz dan membuat keduanya kembali canggung.
"Kenapa Aku merasakan perasaan aneh seperti ini lagi," batin Faraz melirik Alia.
"Kenapa sejak tadi pagi hingga Malam hari Faraz lebih banyak diam?" ucap Alia dalam hati.
__ADS_1
Bersambung.......