
"Zayd!" Zayn menopang tubuh Zayd yang hampir kehilangan keseimbangan menyaksikan wanita yang akan menjadi istrinya malah bersanding dengan pria lain.
Tidak pernah terpikirkan sebelumnya peristiwa ini akan terjadi kepadanya di hari yang sangat ia nantikan. Kebahagiaan yang ia bayangkan namun derita yang ia rasakan.
"BARRY! APA-APAAN INI!" triak Faraz meraih kerah kemeja Barry hingga membuatnya berdiri dari duduknya.
Begitupun Zayd yang langsung berlari meraih tangan Alea untuk meminta penjelasan.
"Apa ini Alea? Ini candaan yang tidak lucu," ucap Zayd yang masih berharap itu hanyalah candaan yang di buat oleh Alea.
"Ini bukan candaan Zayd, Inilah kebenaran ku." Zayd tercengang mendengarnya. Namun ia masih berusa menepis kenyataan itu.
"Tidak-tidak, Kamu suka sekali menggodaku, Aku yakin sekarang kamu juga sedang..."
"Sedang menyadarkan mu jika selama ini Dia hanya berpura-pura mencintai mu." saut pria di samping Alea yang mengenakan pakaian pengantin senada dengan Alea.
Barry yang masih dalam genggaman tangan Faraz terseyum smirk mendengar menantunya mengatakan itu pada Zayd.
Faraz yang melihat senyuman itu langsung melayangkan pukulannya pada wajah Barry.
BHUUKKK!! Barry nyaris tersungkur sambil memegangi pipinya.
"Berrraninya Kau menyakiti putra ku!" Faraz kembali menghajar Barry.
Sementara Zayd yang masih belum bisa menerima kenyataan masih ingin mendengar penjelasan langsung dari mulut Alea.
Sedangkan Zayn dengan rasa khawatir terus berjaga-jaga di belakang Zayd.
"Alea please, Katakan ini hanya mimpi buruk, Kamu tidak mungkin melakukan ini padaku, Kamu sendiri yang mengatakan tengah dalam pelarian Ayahmu karena kamu tidak ingin di nikahkan dan Aku sendiri yang menghajar orang-orang suruhan Ayah mu saat mereka akan menangkap mu, Jadi tidak mungkin jika tiba-tiba sekarang kamu menikah dengan suka rela, Pasti Ayah mu memaksa mu kan?"
"Tidak ada pemaksaan dalam pernikahan ini, Kami saling mencintai dan telah menjalin cinta selama tiga tahun."
__ADS_1
Jawaban tegas Alea membuat Zayd terbelalak kaget.
"Dan pernikahan ini sudah di rencanakan jauh-jauh hari sebelum kita bertemu, Memang benar Aku meninggalkan rumah, Tapi itu setelah bertunangan dengannya, Bukan lari di hari pertunangan seperti apa yang ku ceritakan pada mu."
Seolah masih tidak cukup menyakiti Zayd, Alea terus menjelaskan fakta-fakta tentang kebenaran dirinya dan keluarganya.
"Lari dari kejaran orang-orang suruhan Ayah, Membuat mu jatuh cinta, Lalu mengatur tanggal pernikahan yang sama dengan pernikahan ku, Semua itu adalah rencana besar kami untuk membuat Papah mu mendapat balasan karena telah memenjarakan Ayah ku bertahun-tahun lamanya Zayd!" triak Alea.
"Jika kalian mau membalas ku, Jangan libatkan putraku breng'sek!" Faraz langsung berlari mencekik leher Alea tanpa ampun.
Zayd dan Zayn yang ada di dekatnya menjadi panik dan menenangkan Papahnya agar segera melepaskan Alea yang sudah hampir kehabisan nafas.
"Uhuk... Uhuk..." Alea memegangi lehernya akibat cengkraman kuat tangan Faraz.
Barry yang tidak terima memukul Faraz dari belakang.
Suasana menjadi ricuh. Suara kepanikan dan jeritan dari keluarga dan juga para tamu yang hadir memenuhi ruangan yang seharusnya menjadi pesta pernikahan yang bahagia.
Setelah semua para tamu pergi, Kini mereka di perintah untuk memegang satu persatu keluarga Faraz agar tidak lagi melawannya.
"Dengarkan Aku Faraz Shehzad Shaikh! Jangan kamu fikir Aku telah melupakan bagaimana menderitanya di dalam penjara selama bertahun-tahun karena ulah mu..."
"Kamu pantas di penjara, Bahkan lebih dari sekedar penjara, Dasar pengecut!" tantang Faraz yang sudah berada di orang suruhan Barry.
"Ckckck... Faraz... Faraz... Kamu sudah masuk ke kandang macan masih saja bisa melawan, Apa kamu tidak sayang dengan nyawa mu? Nyawa istri mu? Atau Anak-anak mu?"
Faraz melihat seluruh keluarganya yang juga berada dalam sekapan orang-orang suruhan Barry. Namun tidak dengan Zayn, Dengan berani Zayn memberi isyarat pada Faraz.
"Papa Bersiaplah!" triak Zayn dengan menarik tangan orang suruhan Barry dan membantingnya ke depan.
Melihat hal itu membuat Faraz, Bryan dan Zayd melawan mereka dengan mengeluarkan seluruh kemampuannya.
__ADS_1
Sedangkan Alia dan Zia saling memeluk menjauh dari perkelahian yang tengah terjadi.
Setelah Zayn menumbangkan beberapa orang, Kini Zayn berhadapan dengan suami Alea.
Zayn yang telah mengikuti ilmu bela diri di pesantren tidak begitu kesulitan menumbangkan para lawannya.
Kini kedua tangannya telah mengepal siap menghajar lawan yang ada di hadapannya.
"Zayd apakah Aku yang harus menghajarnya atau kamu yang ingin menghajarnya?"
"Kamu saja Zayn, Urusan ku dan Alea belum selesai." dengan tatapan tajam kepada Alea, Zayd melangkahkan maju mendekati Alea.
Alea mulai merasa tegang dan terus melangkah mundur menghindari Zayd.
Sedangkan Faraz kini tengah menghajar Barry setelah menumbangkan beberapa orang-orang suruhannya.
"Aaaaaaaaa....!!! jerit Alia dan Zia yang akan di lempar kursi oleh orang-orang suruhan Barry, Namun dengan cepat Bryan langsung menangkap kursi tersebut dan melemparnya pada mereka.
"Kamu tidak papa sayang?" tanya Bryan khawatir.
Zia hanya menggeleng pelan dalam dekapan Mamanya.
"Nyonya Alia tidak papa?"
"Tidak Bryan, Terimakasih."
"Kalau begitu menjauhlah."
Alia mengangguk dan mengajak Zia lebih menjauh dari keributan.
Bersambung...
__ADS_1