
Faraz berhenti membanting barang-barangnya setelah mendengar suara Ibu yang memanggilnya.
"Faraaaaz.... buka pintunya!"
Faraz bergegas merapikan diri dan membuka pintu.
"Apa yang sedang jamu lakukan, buka pintunya yang lebar!"
Faraz menggelengkan kepala
"Apa kamu menyembunyikan sesuatu? Apa kamu minum lagi?"
Faraz kembali menggelengkan kepalanya.
Ibu yang curiga langsung mengendus mulut Faraz.
Faraz langsung menutup mulutnya.
"Buka Mulu mu sekarang," tegas Ibu.
"Mmmmm..." Faraz tetap menggelengkan kepalanya.
"Faraaaaz apa ibu perlu memukulmu?" Ibu mengambil sendalnya.
"Tidak... Jangan ibu..." Faraz menutupi wajahnya.
"Kalau begitu buka mulut mu!"
"Aaaaaaa..." Faraz pun membuka mulutnya.
Ibu mengendus mulut Faraz dan tidak mencium bau minuman dari mulutnya.
"Jika kamu tidak minum kenapa dari tadi membuat ibu kesal?"
"Aku hanya ingin bermain-main dengan Ibu," ucap Faraz tertawa.
"Lalu kenapa kamu tidak mau membuka pintunya, apa ada yang Kau sembunyikan?"
"Tidak ada Ibu, kenapa Ibu terus saja curiga padaku?"
"Kalau tidak ada yang kamu sembunyikan kenapa tidak membuka pintunya lebar-lebar?"
"Kamar ku sangat berantakan Ibu, Aku tidak ingin Ibu melihatnya,"
"Pasti habis ngamuk lagi kan?" ucap Ibu kesal.
Faraz hanya tersenyum menaik turunkan alisnya.
"Kebiasaan, kenapa sih mudah sekali marah?"
"Aku hanya merasa bosan Ibu, Aku tidak memiliki kegiatan apa pun," ucap Faraz beralasan.
"Tetap saja itu tidak baik, bagaimana kalau kamu menikah dengan Alia, apa kalau kamu merasa bosan juga akan membanting barang-barang?"
__ADS_1
Faraz menggaruk-garuk kepalanya.
"Ya sudah Ibu dan Ayah akan kerumah Alia, kamu jangan melakukan apapun dan jangan pergi kemanapun, duduk diam di kamarmu." tegas Ibu.
Faraz menganggukan kepala.
°°°
Shehzad dan Zeenat sampai di rumah Alia.
Mereka langsung di sambut oleh Alia dan Ibunya dengan ramah.
"Silahkan duduk," ucap Fareeda.
"Langsung saja Fareeda, kami kesini ingin memberitahukan jika pernikahannya akan berlangsung hari Jumat ini"
"Apa! tiga hari lagi?" Bu Fareeda begitu terkejut mendengarnya.
"Iya betul Fareeda?" ucap Zeenat.
"Tapi bagaimana Aku mempersiapkan semuanya, dan...." Bu Fareeda tidak melanjutkan ucapannya.
"Jangan hawatirkan apapun Fareeda, Ini biyaya untuk pernikahan putrimu," ucap Zeenat sambil menyerahkan uang yang cukup banyak pada Fareeda.
"Tapi Nyonya Zeenat, ini banyak sekali?"
"Tidak Fareeda, Kamu hanya memiliki seorang Putri jadi buatlah pesta yang meriah untuk Putri mu," ucap Zeenat tersenyum.
"Nyona Zenaat Alia akan sangat bahagia memiliki Mertua seperti mu, bukan hanya karena uangmu, tapi karena kebaikanmu." Fareeda merasa haru.
"Baiklah jadi semua sudah jelas kita mulai persiapannya dari sekarang," ucap Zhehzad.
Semua orang tersenyum bahagia.
Setelah selesai berbincang Zhehzad dan Zeenat pun meminta izin untuk pulang.
Fareeda menghelai nafas lega melihat kepergian mereka.
Ibu tersenyum menatap Alia.
"Semoga Putri Ibu menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini."
Alia terdiam memikirkan sikap Faraz kepadanya yg selalu mengajaknya bertengkar.
"Ada apa Alia? Apa kamu tidak bahagia denngan pernikahan ini?"
"Jika ibu bahagia kenapa Aku tidak bahagia," ucap Alia memeluk Ibunya.
"Baiklah Ibu akan mulai persiapannya dari sekarang." ucap ibu lalu meninggalkan Alia)
"Apa Faraz akan menerima pernikahan ini, Apa Dia bisa benar-benar menerimaku sebagai istrinya?" batin Alia.
°°°
__ADS_1
"Aku akan menerima pernikahan ini demi Ibu ku, tapi Aku tidak akan pernah menerima gadis cupu itu menjadi istriku," ucap Faraz dalam lamunannya.
"Permisi Tuan Muda," ucap pelayan dari balik pintu.
"Ada apa?" triak Faraz kesal.
"Nyonya bilang Saya harus membersihkan kamar Tuan Muda,"
"Ya baiklah... Masuk."
Pelayan pun masuk membersihkan kamar Faraz
°°°
Sedangkan Dev tengah kebingungan dengan apa yang harus ia lakukan.
selama beberapa hari ia hanya mengurung diri di kamarnya, tidak keluar rumah maupun menghubungi Kavita.
"Dev..." panggil Ibu.
Dev hanya terdiam melihat pintu.
"Dev... buka pintunya sebelum Ayah marah." tegas Ayah.
Dev pun membuka pintunya dan melihat Ayah Ibu dan Divya di depan kamarnya.
"Apa yang kamu lakukan? kenapa berhari-hari terus mengurung dirimu di kamar?" tanya Ibu.
"Ibu... Kalian meragukan jika bayi dalam kandungan Kavita dan kalian tetap tidak merestui pernikahan kami, Aku tidak tau lagi apa yang harus Aku lakukan,"
"Untuk apa memikirkannya, Mereka hanya orang miskin, Mereka tidak akan berani menuntut Kita." ucap Divya.
"Divya, Tetap saja jika itu bayi Dev, Suatu saat mereka akan menjadi masalah di keluarga kita," ucap Ayah.
"Ya itu benar, lalu apa yang harus kita lakukan, Ibu tidak ingin nama baik keluarga kita tercoreng, Mau di taruh dimana wajah Ibu di depan teman-teman sosialita Ibu?"
"Kenapa Ayah dan Ibu menjadi lemah, mereka hanya orang miskin cukup berikan uang yang banyak pada mereka untuk menutup mulutnya," ucap Divya.
"Kakak berhenti menghinanya," ucap Dev.
"Dev sebenarnya apa yang Kau fikirkan? Kau selalu marah jika Kakak menghinanya, Tapi saat Dia hamil kamu menjadi ragu?"
"Aku ragu karena kami belum menikah dan Kakak juga terus mengatakan kata-kata yang membuat ku semakin ragu padanya,"
"jika kamu benar-benar mencintainya Kamu tidak akan ragu meskipun Kakak atau orang lain mengatakan hal buruk tentang Kavita, jika kamu masih meragukannya berarti kamu tidak benar-benar mencintainya Dev," ucap Divya.
"Aku mencintainya tapi keadaan yang membuatku seperti ini,
Aku bingung apa yang harus ku lakukan, Kalian belum menyetujui pernikahan kami, bagaimana jika teman-teman ku tau tentang ini dan apa penilaian orang-orang kepada ku, Aku tidak siap menghadapi cibiran orang, Makanya Aku berdiam diri di kamar, Aku tidak tau apa yang harus ku lakukan," jelas Dev.
"Baiklah, Untuk kebaikan bersama, Kita lakukan pernikahan ini secepatnya." ucap Ayah.
"Jadi Ayah setuju?" tanya Dev, Divya dan Ibu bebarengan.
__ADS_1
"Kita tidak ada pilihan lain."
Bersambung...