Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
Om Duda Si Pencuri Hati


__ADS_3

Zia masih duduk menatap Bryan yang terus berbincang dengan Papanya dan rekan lainnya, Setiap gerakan tubuhnya membuat Zia begitu tertarik hingga membuat tatapan matanya tak berkedip.


Bibir yang terbilang mungil. Namun cukup tebal dan marah natural menjadi salah satu daya tarik tersendiri untuk Zia, Apa lagi saat Ia mengukir senyum, Membuat dirinya ikut tersenyum dengan sendirinya. Ditambah dengan hidung mancungnya alis tebal dan mata indahnya, Itu benar-benar membuat Zia tidak bisa melepaskan pandangannya meski hanya sedetik saja.


"Toilet nya di mana?" pertanyaan Bryan mengagetkan Zia, Apa lagi saat Bryan berdiri di depannya. Zia sampai mendongak ke atas melihat tubuhnya yang terlihat lebih tinggi dari Papanya.


"Ada di belakang, Samping dapur." saut Faraz.


"Atau sekalian saja Ke kamar tamu, E-e Zia, Panggil Bi Asih agar mengantar Tuan Bryan ke kamarnya, Malam ini Tuan Bryan akan menginap di sini."


"E-e biar Zia aja Pa." jawab Zia cepat.


"Tumben, Biasanya di suruh gak pernah mau?"


"E-em lagi pengin jadi Anak nurut saja, Hehehe."


"Ya udah sana, Habis itu langsung tidur."


Zia mengangguk dan berjalan di depa Bryan.


Rumah yang besar dan luas membuat keduanya membutuhkan waktu beberapa menit sebelum sampai ke kamar tamu, Kesempatan ini di ambil oleh Zia dengan menghentikan langkahnya dan menoleh menatap Bryan yang jarak tingginya cukup jauh darinya.


"Ada apa?" tanya Bryan dengan menaikan alisnya.


"Om, Tingginya berapa sih tinggi banget?"


"Kamu berhenti hanya untuk menanyakan ini?"


"Iya, Pengin tau aja, Abis Zia liat Om, Harus dongak gini." Zia lebih menengadahkan kepalanya atas sampa lehernya terlihat semakin jenjang.


Bryan tertawa menggelengkan kepalanya.


"183cm," ucap Bryan yang kembali melangkah mendahului Zia.


"Wow pantas saja. Dia lebih tinggi 3cm dari Papa," batin Zia yang bergegas menyusul langkahnya.


Zia yang memang gadis ceria yang tidak segan mengekspresikan perasaannya terus mencari cara agar Ia bisa berbicara dengan Bryan.


Zia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini seperti sebelumnya hingga membuat dirinya tidak bisa tidur nyenyak.


•••


Sedangkan di luar, Faraz dan Alia tengah mengantar kedua rekannya sampai di depan gerbang. Dengan senyum ramahnya Faraz melambai ketika kedua mobil itu meninggalkan kediamannya.


Kemudian terseyum dan merangkul Alia dan mengajaknya masuk.

__ADS_1


Setelah sampai di kamarnya Alia merasa ingin tau kenapa Tuan Bryan menginap sementara yang lainnya pulang.


"Mas, Emang Tuan Bryan belum punya istri?"


"Kenapa nanya begitu, Apa Kamu terpesona dengan ketampanannya?"


"Iih Apaan sih Mas, Orang cuma ingin tau aja, Kan yang lain bawa istri dan tidak menginap disini, Jadi wajar dong Aku tanya?"


"Tuan Bryan adalah Duda Anak satu, Istrinya meninggal saat melahirkan." jelas Faraz yang sambil membuka kancing kemejanya.


"Kasian sekali," lirih Alia.


"Sudah berapa lama istrinya meninggal?"


"Sekitar 18th yang lalu."


"Dan selama itu Tuan Bryan tidak menikah lagi?"


"Tipe lelaki setia seperti Mas," Faraz yang sudah bertelanjang dada langsung menyergap tubuh Alia.


"Badan Mas lengket tau." protes Alia.


"Mandiin yuk,"


"Pake air hangat."


"Masss..."


Tanpa menunggu persetujuan dari Alia, Faraz menggendong tubuh istrinya ke kamar mandi.


•••


"Om kalau ada apa-apa panggil Zia ya," ucap Zia sambil melangkah keluar.


Bryan hanya tertawa menggelengkan kepalanya. Melihat tingkah Zia membuat Bryan teringat pada Putrinya yang tenngah menempuh pendidikannya di salah satu universitas di Jawa tengah.


"Baiklah, Terimakasih ya, Sekarang Kamu istirahat."


Suara lembutnya melelehkan hati Zia yang memang sejak kecil di perlakukan begitu istimewa oleh sang Papa, Mungkin karena itu juga Zia begitu tertarik dengan Pria yang jauh lebih dewasa darinya, Menginginkan sosok seperti Papanya yang selalu romantis pada sang Mama meskipun usianya tidak lagi muda.


🍃 Pagi Hari 🌻


Seluruh keluarga sudah berada di meja makan.


Alia sibuk menyajikan hidangan untuk suami dan Anak-anaknya.

__ADS_1


Sementara Zia gelisah menantikan si pencuri hatinya.


"Semalem kok pada gak keluar kamar, Gak nemuin tamu Papa?" pertanyaan Faraz pada Zayn dan Zayd mengagetkan Zia.


"Tidur cepat Pa," saut Zayn.


"Tumben," ucap Alia.


"Dan Zayd?"


"Ada pekerjaan yang harus di selesaikan."


"Jangan terlalu menyibukkan diri untuk pekerjaan, Sesekali Kamu juga harus keluar mencari hiburan, Kamu masih terlalu muda untuk menghabiskan waktumu untuk bekerja." ucap Faraz.


"Jodohin aja tu Pa biar kenal sama yang namanya cewek," ucap Zayn tertawa.


"Mau yang kaya apa, Bukankah selama ini Dia selalu menggantikan mu dan tidak ada satupun yang menarik hatinya?" tanya Faraz.


"Yang ada Kak Zayd makin jijik sama cewek." celetuk Zia.


"Ahh Dia belum tau aja gimana nikmatnya bertukar air liur. Hahahaha.." ucap Zayn yang langsung beranjak meninggalkan meja makan.


"Apa! Apa yang tadi Zayn katakan?" Faraz seakan tak percaya Putranya berani mengatakan itu di depannya.


"Sayang...?" Faraz menoleh ke Alia mencari jawaban.


"Siapa dulu Papanya." ucap Alia yang juga meninggalkan meja makan dengan membawa piring kotor.


"Aku berangkat dulu Pa." Zayd juga beranjak dari duduknya dan meninggalkan meja makan.


"Zia Kamu gak faham kan tadi Zayn ngomong apa?"


Zia hanya mencebikan bibirnya sembari mengangkat kedua bahunya.


Bersambung...


📌 Visual Om Duda Bryan dari Author, Yang lain haluin sendiri.


Author gak ada bayangan, Author ni tipe Bucin sama kayak Faraz jadi kalau suka Ama satu dua orang ya susah suka ama yang lain,


Apa lagi Ama cewek, Gak ada satupun yang benar-benar Author suka.


Jadi di hati Author ya hanya Yang ada di Cover dan Om Duda ini 🤣


__ADS_1


__ADS_2