
Alia tengah berdiri di depan cermin kamar mandi.
Ia melihat begitu banyak tanda merah di leher dan dadanya.
Alia pun merenung memikirkan bagaimana Ia akan menutupi sedangkan Ia kemari hanya mengenakan kebaya yang memperlihatkan leher jenjangnya.
"Aliaaaa... Apa Kau sudah selesai?"
Alia tersadar dari lamunannya ketika mendengar suara Faraz.
Ia pun segera membuka pintu dan melihat Faraz sudah berdiri di depan pintu.
Faraz terdiam menatap Alia menggunakan Bathtrobe sebatas lutut.
Rambut basah yang masih menetes membuatnya terlihat semakin menggoda.
Alia yang melihat tatapan Faraz menjadi canggung dan segera melangkah melewatinya.
Namun Faraz langsung menarik tangannya dan memeluknya dari belakang.
Membenamkan dagunya di pundaknya dan menghirup aroma tubuh Alia yang begitu segar, membuat Faraz kembali mabuk kepayang.
"Faraz pergilah mandi," protes Alia.
Faraz terseyum dan melepaskan pelukannya.
"Baiklah, Kali ini Aku melepaskan mu, Tapi bersiaplah, Karena setelah hari ini Aku tidak akan membiarkanmu tidur nyenyak," ucap Faraz terseyum dan masuk ke kamar mandi.
Setelah beberapa menit Faraz keluar dari kamar mandi.
Ia melihat Alia yang sudah bersiap dengan kebaya yang kemarin Dia pakai.
Terlihat Alia merasa tidak nyaman dengan pakaiannya, apa lagi kebaya itu tidak dapat menutupi tanda merah di lehernya.
Faraz melihat ketidak nyamanan Alia.
Ia pun segera mengenakan pakaiannya dan mengambil kunci mobilnya.
"Aku akan belikan pakaian ganti untuk mu, Kau tunggulah disini,"
Alia menganggukkan kepalanya.
Faraz mencium kepala Alia sekilas kemudian berlalu pergi.
°°°
Kavita mendekati Ibu mertuanya yang terlihat sedang santai dengan ponselnya.
Ada juga Kakak iparnya duduk di sampingnya.
__ADS_1
Kavita memberanikan diri untuk membicarakan acara tujuh bulanannya yang tinggal sebentar lagi.
"Ibu... Menurut Ibu, acara tujuh bulanan sebaiknya di selenggarakan di mana?" tanya Kavita ragu-ragu.
Ibu Mertua langsung menatap Kavita, begitu juga dengan Kakak iparnya.
"Kavita, lakukan saja di mana pun Kamu mau, yang penting tidak disini," ucap Ibu mertua dengan sinis.
"Heh Kavita, Kamu ini baru menikah tiga bulan, jika Kita mengadakan tujuh bulan di rumah ini, lalu apa yang akan tetangga katakan? mau di taruh di mana muka kita!" sambung Divya.
Kavita yang mendengarnya menundukkan kepala dan pergi meninggalkan mereka.
Karena tak memperhatikan jalan, Kavita menabrak Dev yang baru saja datang.
Kavita menatap Dev dengan sedih, Laki-laki yang begitu Ia cintai sampai Ia rela meninggalkan segalanya, jangankan memberinya kebahagiaan, melindungi dari hinaan keluarganya pun tidak Ia lakukan.
Kavita naik keatas tanpa mengatakan apapun.
Dev menatap punggung Kavita hingga hilangdari pandangannya.
Kemudian melangkah mendekati Ibu dan kakaknya.
"Apa lagi yang kalian katakan padanya?" tanya Dev.
"Kami tidak mengatakan apapun Dev," ucap Ibu.
"Jika Ibu tidak mengatakan apapun, kenapa Kavita menangis?"
"Kak Divya!" bentak Dev.
"Dev, Kamu berani membentak Kakak mu demi Wanita kampung itu?" tanya Ibu.
"Aku lelah dengan pertengkaran di rumah ini, Setiap kali kalian ada dalam satu rumah, selalu saja bertengkar,"
"Wanita itu yang merusak ketenangan di rumah Kita, lihatlah dirimu apa Kau bahagia dengan pernikahan mu? Ibu lihat Kau juga tidak bahagia."
Dev yang merasa perkataan Ibunya benar, pergi mengakhiri perdebatan.
°°°
Faraz kembali dengan membawa beberapa stel pakaian untuk Alia.
Tidak lupa juga Ia membeli makanan karena sejak pagi mereka belum makan apapun.
Alia segera membuka paper bag yang Faraz berikan.
Alia terdiam melihat kaos merah dengan leher tinggi.
"Dengan itu Kau bisa menutupi apa yang ingin kau tutupi," ucap Faraz tertawa.
__ADS_1
"Kau tidak malu dengan perbuatanmu?" tanya Alia mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa Aku harus malu, Aku mencumbu istriku sendiri," ucap Faraz mendekatkan wajahnya.
Alia mendorong Faraz dan kembali melihat isi paper bag.
"Kita akan pulang, kenapa Kau membeli banyak pakaian untuk Ku?"
"Sekalian, Biar pakaianmu tidak ketinggalan jaman," ejek Faraz.
Alia berdecak dan pergi ke kamar mandi dengan membawa pakaiannya.
"Jangan lama-lama, Kita harus makan sebelum terbang ke Jakarta," pekik Faraz.
"Jadi Kita pulang naik pesawat?" tanya Alia yang membuka pintu dan hanya memperlihatkan kepalanya.
"Ya, Aku tidak ingin berlama-lama di jalan, Aku ingin segera sampai dan beristirahat di kamarku," ucap Faraz.
"Lalu mobil mu?"
"Aku akan menggunakan jasa pengiriman mobil untuk mengantar mobilku, Sekarang cepatlah ganti pakaian mu."
Alia mengangguk dan kembali menutup pintunya.
Beberapa menit kemudian Alia keluar.
Faraz menatap Alia yang mengenakan baju pilihannya.
meskipun dengan model yang menutupi seluruh lehernya namun masih memperlihatkan lekuk tubuh Alia yang memang memiliki ukuran dada cukup besar.
Alia yang tidak biasa memakai baju ketat merasa sedikit tidak nyaman, Ia pun kembali membuka paper bag.
"Apa lagi yang kau cari?" tanya Faraz
"Apa Kau membeli blazer atau cardigan?"
"Untuk apa, Baju mu sudah panjang, Bahkan lehermu sudah tak terlihat sama sekali, Apa lagi yang ingin Kau tutupi?"
"Faraz, ini terlalu ketat, Aku merasa tidak nyaman,"
Faraz terseyum dan mendekati Alia.
"Ini bukan bajunya yang ketat tapi dadamu yang terlalu seksi," ucap Faraz dengan tatapan nakalnya.
"Faraz..." Alia menyikut perut Faraz dengan mengerucutkan bibirnya.
"Ya baiklah, Kau tidak perlu khawatir, Sekarang makanlah dulu, Kau bisa pake jas ku saat kita pulang nanti," ucap Faraz menghidangkan makanan untuk Alia.
Alia pun duduk dan mulai menyantap makanan yang Faraz siapkan.
__ADS_1
Sesekali Faraz menyuapi Alia dan membersihkan ujung bibirnya.
Bersambung...