
Faraz sampai ke salah satu perusahaan Modeling yang terletak di pusat Ibu Kota.
Ia turun dari mobilnya dan membuka kaca mata hitamnya.
Dari kejauhan Ia melihat begitu banyak peserta yang sudah menunggu antrian.
"Oh ya ampun benarkah Aku harus mengantri di antara mereka?" ucap Faraz ragu.
"Tapi jika tidak? Aahhh... Sudahlah." Faraz akhirnya duduk di antara peserta lainnya.
Kehadiran Faraz yang terlihat paling menonjol di antara yang lain menarik mata beberapa peserta audisi.
"Apakah Anda Faraz Shehzad Shaikh?" tanya peserta yang ada di depan Faraz.
"Ee... Apa Aku terlihat mirip dengannya?" elak Faraz.
"Ya, Anda terlihat sangat mirip dengannya." ucap orang itu lagi.
"Terimakasih, Tapi semoga Aku tidak bernasib sama sepertinya," ucap Faraz.
"Semua orang menginginkan hidup sepertinya kenapa Anda tidak ingin?"
"Apa yang membuat orang ingin hidup sepertinya, Aku rasa hidupnya sangat menyedihkan,"
"Menyedihkan bagaimana, Dia adalah putra tunggal dari pengusaha terkenal di negara ini, selain itu meskipun Dia jadi model di luar negeri tapi Dia cukup terkenal di kalangan remaja Indonesia," jelas orang itu.
"Mereka hanya lihat dari luarnya saja, Mereka tidak tau kan kesedihan yang di rasakan seperti apa?" ucap Faraz yang jadi teringat dengan masalahnya.
Orang itu pun diam dan terus memperhatikan wajah Faraz.
"Kenapa Dia terus menatapku? Apa Dia curiga jika Aku memang Faraz," batin Faraz.
Faraz yang mulai merasa tidak nyaman meninggalkan antrian dan duduk di bangku luar gedung.
__ADS_1
"Apa Kau menyukai jam tangan ini?" tanya salah seorang Pria pada wanita di bangku depan Faraz duduk.
"Ya Aku menyukainya, ini terlihat sangat cantik, modelnya pun jarang di temui." ucap wanita itu dengan senyum sumringahnya.
Faraz sesekali melirik memberhentikan kedua orang itu.
"Terimakasih tapi ini tidak untukmu?" ucap Pria itu tertawa lalu berlari meninggalkan gadis itu
"Apa! Jadi Kau menipuku?" ujar gadis itu mengejarnya.
Tiba-tiba Faraz mulai berfikir setelah melihat kedua remaja itu.
"Tadi Pria itu memberikan jam tangan dan mengatakan...?
Oohh... Siiittt..!!!" Faraz langsung berlari meninggalkan Audisinya.
Ia langsung masuk ke mobilnya dan mengendarainya dengan kecepatan tinggi.
"Apa yang sudah Kau lakukan Faraz... Kau benar-benar bodoh, Kenapa tidak bertanya dulu padanya? Kenapa langsung marah-marah padanya, Bagaimana jika yang dilakukan Pria yang bersama Alia itu sama dengan remaja yang tadi Aku lihat?" ucap Faraz terus menyesali perbuatannya pada Alia.
"Eh Sahid Kau belum menjawab pertanyaan ku, kenapa Kau masih disini, Kau bilang mau pulang tadi malem?" tanya Alia.
"Ya itulah yang membuatku tidak mengizinkan mu berpamitan dengan suamimu, takut Aku ketinggalan pesawat, Eeh taunya ketinggalan juga,"
"Ya ampun Sahid, Kau sudah membuatku tidak meminta izin pada suamiku agar Kau tidak tertinggal pesawat tapi tetep saja Kau ketinggalan, ini namanya rugi Duni Akhirat tau nggak," ucap Alia kesal.
"Ya maafkan Aku, Ntar deh Aku bantu jelasin sama suami mu,"
"Lagian kamu lama banget sih milih cincinnya,"
"Iya, sekali lagi maaf, Aku juga rugi loh, masa masih di marahin juga," ucap Sahid nyengir kuda.
"Lalu kok Paman dan Bibi kemari kalau kamu mau pulang tadi malem?"
__ADS_1
"Ayah dan Ibuku tidak tau Aku berniat pulang tadi malam, mereka datang untuk memberitahu kabar pernikahan ku secara langsung, Eeh taunya malah ketemu Aku disini, hehehe."
Alia kembali terdiam memikirkan bagaimana Faraz menemui Paman dan Bibinya sedangkan Mereka sedang bertengkar.
"Apa Kau memikirkan ucapan Ayah dan Ibuku?" tanya Sahid.
Alia menganggukan kepalanya.
"Apa Aku harus menemui suamimu untuk memberitahu apa hubungan Kita?"
"Tidak Sahid." ucap Alia singkat.
"Tapi kenapa Alu? jika kamu tidak memberitahu kepada suamimu kesalah pahaman ini tidak akan selesai."
"Biarkan saja Dia sudah seringkali menyakitiku dengan kata-kata dan sikap kasarnya, Dan lagi pula... Aku tidak ingin Dia mempercayaiku hanya karena penjelasan mu, Aku ingin Dia mempercayaiku sepenuh hatinya, tanpa ada alasan apapun," ucap Alia sedih.
"Alu...." Sahid memutar tubuh Alia yang membelakanginya.
"Maafkan Aku karena Aku, Kamu jadi bertengkar dengan Suamimu,"
"Sudahlah Sahid... Ini tidak akan terjadi jika Faraz bertanya terlebih dahulu, Tidak langsung menuduhku dengan kata-kata kotornya,"
"Tetap saja, Aku salah karena tidak membiarkan mu meminta izin terlebih dahulu kepadanya,"
"Semua sudah terjadi." ucap Alia menunduk sedih.
Sahid memeluk Alia untuk menenangkannya.
"Jadi semuanya benar!" triak Faraz yang baru turun dari mobilnya.
Sahid dan Alia kaget melihat kedatangan Faraz.
Bersambung....
__ADS_1
SABAR-SABAR UJIAN BELUM BERAKHIR 🤣