Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
Tak Tergoyahkan


__ADS_3

Sambil meringis menahan miliknya yang telah menegang, Faraz meraih tisu dan memberikannya pada Alia.


Faraz terus merasa gelisah karena miliknya tidak juga mau turun hingga membuat kepalanya terasa begitu sakit.


"Mas kenapa diam saja, Ambilkan obat atau apapun."


Faraz membuka selimutnya dan ingin beranjak turun. Namun Alia yang melihat Faraz tidak mengenakan sehelai benang pun berteriak hingga membuat Faraz kembali menyembunyikan tubuhnya.


"Aaaaaaaaa...."


"Ada apa?" tanya Faraz.


"Mas tidak mengenakan pakaian?"


"Memang, Tapi kan kamu yang menyuruh ku turun." ucap Faraz dengan cueknya.


"Pakai dulu celanamu."


"Kenapa, Kamu takut gak tahan ya?" goda Faraz membelai wajah Alia.


Ha-ha-haciiimmm...


"Awwh... Shiiittt..." Faraz membuang muka sembari menutup wajah dengan tangannya karena terkena semburan bersin Alia.


Alia membulatkan matanya dan menutup mulutnya yang terbuka.


"Maaf... Maaf, Aku benar-benar tidak sengaja."


"Alia... Ahhh..." dengan sedikit kesal, Faraz turun dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi.


"Aliaaa... Ini menjijikkan sekali." gumam Alia yang merasa kesal pada diri sendiri.


Beberapa menit kemudian Faraz keluar dari kamar mandi dengan keadaan yang sudah segar dengan rambut masih basah.


Kekecewan juga sudah tidak terlihat lagi di wajahnya.


"Pergilah mandi, Aku sudah menyiapkan air hangat untuk mu,"


"Mandi?"


"Iya, Salah satu cara cepat mengatasi flu dengan cepat adalah dengan mandi air hangat, Karena air hangat dapat melembabkan saluran hidung, menenangkan area pernapasan, Serta mengurangi nyeri otot. Cairan hangat juga dapat meredakan hidung yang tersumbat, mencegah dehidrasi, Menenangkan selaput pelapis hidung dan tenggorokan yang meradang."


"Ini beneran kan, Bukan Mas mau modus?" tanya Alia penuh curiga.


"Selera ku sudah hilang cepatlah."


Alia yang mendengarnya terdiam mengerucutkan bibirnya.


Faraz yang melihat Alia tidak beranjak segera mendekatinya.


"Eh mau ngapain?"


Tanpa menjawab pertanyaan Alia, Faraz menggendong tubuh polos Alia ke kamar mandi.


"Aku memang menginginkan mu, Tapi kesehatan mu jauh lebih penting." ucap Faraz sebelum menurunkan tubuh Alia ke bathub.

__ADS_1


Seketika senyum Alia mengembang mendengar ucapan Faraz yang terdengar sangat manis.


"Berendam lah Aku akan segera kembali,"


"Mas..." Alia meraih wajah Faraz dan mengecupnya sesaat.


"Terimakasih."


Faraz terseyum dan beranjak pergi.


Beberapa menit kemudian Faraz kembali dengan membawa segelas air untuk Alia.


"Berkumur lah, Ini dapat membantu meredakan sakit tenggorokan dan menghilangkan nyeri."


"Air apa ini?" Alia mencium aroma air di dalam gelas kaca tersebut.


"Campuran setengah sendok teh garam yang dilarutkan ke dalam 250 mililiter air hangat, Kamu harus meminumnya empat kali sehari."


"Eummm... Ini asin sekali, Uweek." Alia meringis menahan asin di ujung lidahnya.


"Cepatlah sembuh, Aku sudah terlalu lama berpuasa," ucap Faraz tertawa sambil mengacak-acak rambut Alia.


•••


Vidya kembali menemui Kavita.


kali ini Ia tidak datang sendiri melainkan bersama Divya.


Mereka berusaha membujuk Kavita untuk kembali bersama Dev.


"Baiklah, Kami tidak akan memaksa mu, Tapi kamu pikirkan lagi tawaran Ibu, pikiran lagi masa depan Putri mu, Masa depannya akan lebih baik jika Dia hidup bersama keluarga kami." bujuk Vidya.


"Jika Kamu tidak bisa menerima Dev karena sikapku selama ini pada mu, Maka Aku minta maaf, Aku tidak akan pernah mengatakan hal buruk lagi padamu," sambung Divya.


"Aku akan memberikan keputusan ku, Tapi beri waktu dua tiga hari lagi." ucap Kavita.


"Baiklah, Kami menunggu keputusan mu secepatnya."


Mertua dan Kakak ipar Kavita pun pergi meninggalkan rumah Kavita dengan tangan kosong.


"Jika tidak demi Dev, Aku tidak sudi meminta maaf padanya," gerutu Divya begitu masuk dalam mobilnya.


"Sudahlah Divya, Sekarang yang terpenting adalah kesehatan Adik mu."


Divya masih terlihat menahan kekesalannya.


"Oh ya, Apa kabarnya Handry, Kenapa sudah beberapa hari Dia tidak pernah datang, Apa hubungan kalian baik-baik saja?"


"Selesai." saut Divya dengan cepat.


"Apa! Bagaimana bisa, Kalian kan mau menikah satu bulan lagi?"


"Sudahlah Ibu, Aku tidak ingin membicarakan laki-laki bajing*an itu."


"Kamu selalu saja bertindak dan melakukan apapun sendiri tanpa membicarakannya pada Ayah dan Ibu mu." ucap Vidya kesal.

__ADS_1


•••


"Aku harus melakukan ini sebelum mengambil keputusan, Ya Aku harus mengambil resiko apapun daripada Aku kembali menyesal di kemudian hari." batin Kavita yang telah sampai di kantor Faraz membawa bayinya.


Dengan menarik nafas panjang-panjang, Kavita melangkah masuk.


Kavita yang sudah paham seluk beluk perusahaan milik Faraz sejak mereka masih berpacaran dengan mudah memasuki perusahaan tersebut, Terlebih lagi beberapa karyawan yang masih mengenali Kavita. Dan karena Itu juga Kavita di persilahkan untuk menemui Faraz di ruangannya.


Tok... Tok... Tok....


"Masuk." ucap Faraz sambil terus menatap layar komputernya.


"Faraz."


Faraz mengangkat wajahnya dan begitu terkejut melihat Kavita di depannya, Terlebih lagi Ia membawa bayinya.


"Sedang apa Kau disini?" ucap Faraz yang langsung mendekatinya.


"Faraz Aku tidak tau bagaimana lagi cara bicara padamu, Kamu memblokir nomerku, Kamu juga tidak pernah pulang ke rumah Ibumu, Jadi Aku terpaksa menemuimu di sini."


"Apa yang begitu sangat penting sehingga Kau harus menemuiku?" tanya Faraz yang terlihat sedikit kesal.


"Faraz Kita bersama selama enam tahun, Dan selama enam tahun itu Kamu begitu mencintai ku, Aku yakin sampai sekarang Kamu pasti masih memiliki perasaan itu meskipun hanya se..."


"Apa yang membuatmu begitu percaya diri mengatakan Aku masih memiliki perasaan padamu?" tanya Faraz yang langsung memotong ucapan Kavita.


"Saat Kamu mendampingiku bersalin, Aku melihat ketulusan mu, Aku melihat tatapan mu kepada bayiku, Aku melihat..."


"Sudah pernah ku katakan, Aku memang menolong mu memang dengang dengan tulus, Ikhlas, Tapi itu hanya sebatas kemanusiaan, Tidak lebih."


"Faraz ku mohon, Lihatlah Putri ku, Bahkan Aku menambahkan nama belakangnya Farandita, Fara yang ku ambil dari namamu nd artinya "Dan" ita di ambil dari namaku jadilah Farandita."


"Kamu sudah gila Kavita, Untuk apa Kau memberikan nama itu, Anak itu tidak ada hubungannya dengan ku."


"Faraz lihatlah Dia, Dia sangat cantik, Dia juga sangat imut, Apa lagi kamu orang pertama yang menggendongnya dan mengadzaninya pasti kalian akan memiliki ikatan khusus jika Kita..."


"Kavita! Apa yang coba ingin Kamu katakan?"


"Faraz, Aku rela jadi istri kedua mu, Aku rela jika Kita hanya menikah siri, Aku rela jika hanya jadi istri simpanan mu tanpa ada yang tau, Yang terpenting Kamu mau...."


"KAVITAAAA!!!!" pekik Faraz.


Kavita terdiam menatap Faraz yang terlihat begitu marah padanya.


"Hubungan Kita sudah lama selesai, Dan Aku sudah tidak memiliki perasaan apapun lagi pada mu, Aku sangat-sangat mencintai istriku, Istri yang menyembuhkan ku dari luka yang Kau berikan, Istri yang selalu membahagiakan ku dan orang tua ku, Aku tidak membutuhkan istri lain, Apa lagi istri seperti mu." tegas Faraz.


"Faraz... Itu tidak mungkin, Aku tau Kamu tidak bisa melupakan ku, Apapun kesalahan ku Kau selalu memaafkan ku, bahkan saat Kamu mengetahui Aku mengandung bayi Dev, Kamu tetap ingin kembali padaku, Jadi itu tidak mungkin jika Kamu benar-benar telah melupakan ku."


"Itu kebodohan terbesar dalam sejarah hidup ku, Dan Aku menyesalinya seumur hidupku."


Kavita tak dapat lagi berkata-kata.


"Sekarang pergilah dari sini dan Aku harap ini menjadi pertemuan Kita yang terakhir."


Bersambung...

__ADS_1


HARI INI DUA BAB AJA YA, KARENA HARI INI AUTHOR MENGSIBUK, TAPI BAB INI CUKUP PANJANG DAN BIKIN TERAPI HATI 🤣


__ADS_2