
Matahari pagi menerobos masuk menembus jendela kamar Alia.
Cahayanya menyinari wajahnya, hingga Alia merasa terusik akan sinarnya.
Dengan sangat berat Alia membuka mata. Seketika itu juga Alia terkejut melihat Faraz tidur di sampingnya.
Alia memalingkan pandangannya sejenak dan kembali menatap wajah Faraz.
Dalam hatinya Ia merasa tidak tega terus mengabaikan Faraz.
Namun rasa sakit hati dan gengsinya membuat Alia masih mendiamkannya sampai Ia benar-benar melihat kesungguhan Faraz memperbaiki sikapnya
Alia begitu terkejut ketika tiba-tiba Faraz membuka matanya hingga membuat dirinya jatuh dari ranjang sempitnya.
Faraz membuka mata sepenuhnya dan menoleh ke arah Alia.
"Alia apa yang Kau lakukan?" tanya Faraz beranjak bangun.
"Ini semua gara-gara kamu," ucap Alia kesal.
"Aku? Apa salahku?" tanya Faraz bingung.
"Ya! Kau tau kan jika ranjangnya sempit, kenapa Kau ikut tidur diranjangku?"
"Semalam Kau tidak melarang ku," ucap Faraz menahan senyumnya.
"Ingat Faraz, Aku belum memaafkanmu, Jadi jangan mencari kesempatan untuk mendekati ku lagi," ucap Alia lalu meninggalkan Faraz.
Faraz masih merasa bingung dengan apa yang Alia katakan.
°°°
Tok... Tok...
Kavita yang mendengar pintu rumahnya di ketuk bergegas keluar untuk membukanya.
Ia langsung memalingkan wajahnya begitu melihat Dev yang datang.
Rasa sakit hatinya belum hilang mengingat Dev berduaan dengan wanita lain di rumahnya.
"Kita pulang," ucap Dev.
"Pulang? Setelah apa yang Kau lakukan padaku?" tanya Kavita kesal.
"Kavita Aku tidak ingin berdebat, Sekarang pulang lah jika Kau tidak ingin melihatku bersama wanita lain,"
"Kau bersama dengan wanita lain, lalu tanpa rasa bersalah tanpa meminta maaf mengajak ku pulang ke rumah mu?"
"Aku mempunyai alasan untuk melakukan itu, jadi Sekarang putuskan, Kau akan pulang bersama ku atau membiarkan ku kembali dengan wanita lain?" tegas Dev.
Kavita terdiam memikirkan kata-kata Dev.
__ADS_1
"Kavita siapa yang dat..." ucapan Bu Risma terhenti melihat Dev yang berdiri di depan pintu.
"Bu..." Dev menjabat tangan Bu Risma dan menciumnya.
Bu Risma memperhatikan wajah Kavita dan Dev.
"Apa kalian bertengkar?" selidik Ibu.
"Tidak Ibu, Kavita hanya salah faham pada ku," ucap Dev.
Kavita terdiam mendengar jawaban Dev, karena percuma saja Dia mengatakan kelakuan Dev pada Ibunya, yang ada Ibunya hanya akan membandingkannya dengan Faraz, dan itu hanya akan menambah penyesalannya karena telah menghianati Faraz.
°°°
"Aluuuu...." triak Sahid yang langsung masuk kamar Alia.
Sahid terkejut melihat Faraz duduk di ranjang Alia.
Keduanya saling melihat dengan sinis.
"Kau? Sedang apa disini?" tanya Sahid.
"Apa maksudmu, Harusnya Aku yang tanya, untuk apa Kau masuk ke kamar istriku?"
"Sejak kecil Aku sudah terbiasa masuk ke kamar Alu tanpa harus meminta izin darinya,"
"Tapi sekarang Alu'mu itu sudah menikah, bagaimana jikaaa..." Faraz menghentikan ucapannya.
"Ee... Bukan apa-apa, itu bukan urusanmu." ucap Faraz turun dari ranjangnya.
"Eeh tunggu tunggu, Bagaimana Kau tidur dikamar Alu, Apa Alu sudah memaafkan mu?"
Faraz hanya tersenyum smirk mendengar pertanyaan Sahid.
"Apa yang kamu lakukan padanya, Kenapa dengan mudah Alu memaafkanmu?" tanya Sahid penasaran.
"Apa Kau tidak pernah mendengar namaku di kampungmu? Siapa yang bisa menolak Faraz Shehzad Shaikh?!" ucap Faraz lalu pergi meninggalkan Sahid.
"Sombong sekali Dia." ucap Sahid menatap punggung Faraz hingga menghilang dari pandangannya.
"Kemarin Alu terlihat sangat marah padanya, tapi sekarang mereka sudah tidur bersama, Aahhhh.... Entahlah.... Ini bukan urusanku," Sahid pun meninggalkan kamar Alia.
"Eeh Faraz kamu sudah bangun?" tanya Bibi.
"Iya Bi," jawab Faraz singkat.
Bu Fareeda hanya menatap Faraz dingin.
"Duduklah kemari kita sarapan dulu, setelah itu antar Bibi ke Bandara,"
"Jadi Paman dan Bibi pulang ke Jogja hari ini?"
__ADS_1
"Iya, Paman dan Bibi masih banyak hal yang harus di urus, besok Kamu dan Alia harus datang ke Jogja ya, jangan sampai tidak datang,"
"Pasti Bi, Pasti Aku akan datang," ucap Faraz bersemangat.
"Ini kesempatan ku untuk kembali dekat dengan Alia," batin Faraz.
"Ee... Baiklah Aku akan bicara pada Alia dulu," ucap Faraz bangun dari duduknya.
"Baiklah,"
Faraz pun kembali ke kamarnya.
"Aaaaaa...!!!" triak Alia yang melihat Faraz tiba-tiba masuk.
Faraz merasa kaget mendengar teriakannya.
"Tidak bisakah Kau mengetuk pintu sebelum masuk?" tanya Alia yang belum selesai memakai bajunya.
Faraz hanya tersenyum dan terus melangkah mendekati Alia.
Alia mulai merasa gugup melihat Faraz yang semakin mendekat.
"Faraz, Berhenti!" ucap Alia sambil mengangkat jari telunjuknya ke arah Faraz. Namun Faraz tidak mempedulikannya dan tetap melangkah maju mendekati Alia.
"Faraz Aku bilang berhenti di situ!!!" triak Alia sambil menutupi dadanya dengan baju yang belum sempat Ia pakai.
Faraz tetap tidak mempedulikannya sampai Faraz berdiri tepat di depan Alia.
"A... Aa... Apa yang akan Kau lakukan?" tanya Alia gugup.
Faraz merebut baju yang ada di tangan Alia dan menarik pinggang polos Alia merapat ke tubuhnya.
"Hah! Faraz apa yang akan Kau lakukan?" jantungnya kini berdegup semakin kencang.
Namun Faraz tak menjawab pertanyaan Alia, hanya mata dan tangannya yang bicara.
"Faraz Aku benar-benar tidak akan memaafkanmu jika Kau berani macam-macam padaku," ancam Alia.
Faraz semakin menarik panggulnya hingga membuat tubuh Alia merapat sempurna ke tubuh Faraz.
Alia pun tak bisa berbuat apa-apa selain meletakkan kedua tanggannya di pundak Faraz untuk menahan dadanya menyatu dengan tubuh Faraz.
Kini keduanya terdiam dan saling menatap satu sama lain.
"Aku sudah tidak bisa mengelak lagi dari perasaan ini, Aku benar-benar merasakan getaran-getaran cinta setiap kali di dekatmu,"
Kata-kata itu hanya sampai di tenggorokan Faraz.
"Semarah apapun Aku padamu tapi kemarahan ku seolah lenyap saat Aku menatap wajahmu seperti ini," ucap Alia dalam hati.
Bersambung...
__ADS_1