Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
Perubahan Faraz


__ADS_3

Zeenat tengah sibuk menyajikan makan malam untuk Suaminya.


Meskipun banyak pelayanan yang bekerja, Namun kalau untuk urusan Suaminya, Zeenat lebih senang mengurusnya sendiri.


"Terimakasih," ucap Shehzad tersenyum dengan sendok dan garpu yang sudah siap di tangannya.


Zeenat terseyum manis untuk membalas ucapannya.


"Kemana Faraz dan Alia, Apa mereka sudah makan malam?" tanya Shehzad.


"Belum, Sejak datang Mereka belum keluar dari kamar, Mungkin mereka kelelahan setelah perjalanan jauh," ucap Ibu.


"Aku senang karena akhirnya setelah bertahun-tahun berlalu, Putra Kita kembali tersenyum bahagia, Dan itu semua berkat dirimu" ucap Shehzad menggenggam tangan Zeenat.


"Ini berkat Alia," saut Zeenat.


"Ya Aku tau, tapi jika Kau tidak memaksa Mereka menikah, Tentu ini tidak akan terjadi,"


Zeenat terseyum bahagia akhirnya keyakinannya kini terbukti.


Setelah permainan yang begitu melelahkan, Faraz langsung tidur pulas di bawah selimut tebalnya.


Sedangkan Alia yang tidak mau tidur karena waktu sudah menjelang magrib, Memilih sibuk dengan ponselnya.


Ia berusaha menghubungi Ibunya, Karena terakhir kali mereka bicara di telfon Ibu marah padanya.


Tutttt.... Tuttt...


Alia merasa cemas karena berkali-kali menelfonnya namun Ibu tidak juga menjawab panggilannya.


"Kemana Ibu, Apa Ibu masih marah padaku," gumam Alia sembari terus berusaha menelfon.


Namun berkali-kali Ibu tetap tidak menjawabnya.


"Siapa yang membuatmu resah?" tanya Faraz yang tiba-tiba menghirup pundak Alia.


"Faraz Kau sudah bangun?" tanya Alia menoleh ke samping.


"Kau terus saja bergumam di sampingku, bagaimana Aku tak terganggu," ucap Faraz.


"Ibu tidak bisa di hubungi, Aku benar-benar khawatir,"


"Hoaammm.... Jam berapa ini?" tanya Faraz yang menguap sembari merenggangkan kedua tangannya.

__ADS_1


"Jam 18.12 ucap Alia,"


"Baiklah, Aku Sholat dulu, Nanti Kita kerumah mu," ucap Faraz beranjak dari tempat tidurnya.


"Sholat?" tanya Alia seakan tak percaya.


"Iya, Sholat, masih bisa untuk Sholat kan?" tanya Faraz.


Alia menganggukan kepalanya dan masih merasa heran, Karena sejak Mereka menikah Alia tidak pernah melihat Faraz sholat sama sekali.


"Kenapa Kau menatapku seperti itu, Apa Kau fikir Aku tidak bisa Sholat?"


Alia menggelengkan kepalanya.


"Apa! Jadi Kau fikir Aku tidak bisa Sholat?"


"Ee... Tidak, Maksud ku Aku tidak menyangka seorang Faraz Shehzad Shaikh yang begitu pemarah dan sombong masih ingat Sholat." ucap Alia tertawa.


"Ya, Beberapa tahun ini Aku memang sering meninggalkan Sholat, Malah bisa di bilang hampir tidak pernah Sholat, Aku begitu kecewa PADA-NYA, Tapi sekarang DIA telah memberikan ku kebahagiaan dengan menghadirkan dirimu di kehidupan ku, Aku harus kembali PADA-NYA untuk berterimakasih," ucap Faraz menggenggam tangan Alia.


Alia begitu terharu mendengar ucapan Faraz.


"Baiklah, Kamu bersiaplah." ucap Faraz beranjak bangun dan pergi ke kamar mandi.


°°°


Ia memeluk Kavita dari langsung menciumi lehernya.


Kavita menggeliat dan melepaskan tangan Dev dari perutnya.


Kini mereka saling berhadapan, dengan mata yang di penuhi birahi, Dev langsung me lum at bibir Kavita, Kavita berusaha memberontak, Namun Dev terus mencumbunya dengan brutal, Kavita yang kini perutnya sudah membuncit kesulitan untuk melepaskan diri dari cengkeraman Dev.


"Kau sudah menjadi istri ku, jadi sudah tugas mu melayani ku, Berhenti bersikap sok suci,"ucap Dev di tengah-tengah Aksinya.


Kavita terus berusaha melepaskan cengkeraman tangan Dev dan tidak mau melayaninya.


"Apa Kau lebih memilih wanita lain yang melayaniku?" ancam Dev.


Kavita yang mendengar ancaman Dev akhirnya menuruti kemauannya.


Tidak seperti saat berpacaran yang penuh dengan gairah membara, kini Kavita hanya mematung melihat Dev yang terus menikmati permainan di atas tubuhnya tanpa memperdulikan Kavita menikmatinya atau tidak.


Setelah kurang dari tiga puluh menit akhirnya Dev terkulai lemas di samping Kavita.

__ADS_1


Dengan sedih Kavita membelakangi Dev dan mengingat saat Faraz menyentuhnya dengan penuh cinta, Fikirannya pun melayang jauh memikirkan bagaimana Faraz memperlakukan istrinya di tempat tidur.


°°°


Faraz dan Alia tiba di Rumah Alia.


Selain merasa khawatir, Alia juga merasa takut jika Ibu masih marah padanya.


Faraz menggenggam tangan Alia yang terlihat cemas.


"Bagaimana jika Ibu masih marah padaku?" tanya Alia.


"Tenanglah, Dia itu Ibumu, Bukan harimau yang bisa menerkam mu," ucap Faraz tertawa.


"Iiiihhh rese banget sih." ucap Alia memukul lengan Faraz.


Faraz hanya tertawa dan mengetuk pintunya.


Tak lama kemudian Bu Fareeda membukakan pintu untuk mereka.


"Ibu, Kenapa Ibu tidak mengangkat telfon ku, Apa Ibu masih marah padaku?" tanya Alia yang langsung masuk mengekori Ibunya.


Bu Fareeda hanya terdiam dingin.


"Ibu maafkan Kami, Kami pergi tanpa memberitahu Ibu," ucap Faraz.


"Sudahlah Ibu tidak ingin membahasnya lagi, Sekarang sudah malam, Ibu ingin beristirahat, Jika Suami mu Sudi, suruh malam ini menginap disini," ucap Ibu yang langsung masuk ke kamarnya.


"Kau lihat itu Faraz, Ibu masih marah pada kita,"


"Menurut ku Ibu tidak marah, Tapi Dia merindukan Kita, Hanya saja cara penyampaiannya yang beda," ucap Faraz.


"Maksud mu?"


"Alia, Dia meminta kita untuk menginap disini, Secara tidak langsung, Ibu masih ingin bersama Kita,"


"Ya, Kamu benar juga." ucap Alia terseyum bahagia.


"Baiklah bisa Kita ke kamar sekarang?" tanya Faraz mengedipkan matanya.


"Tapi gak lagi ya." tawar Alia.


Faraz terseyum merangkul pundak Alia.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2