Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
Dengan Cara Lain


__ADS_3

📌 BUAT BOCIL MOHON DI SKIP BAGIAN DESA HAN JAHA NAM, KALAU NEKAT TANGGUNG SENDIRI, DAN BUAT EMAK-EMAK YANG GAK SUKA GAK USAH PROTES, YANG LEBIH PARAH DARI TULISAN KU BANYAK 📌


💕 Happy Reading 👇


Faraz yang mendengar suara-suara khas dari bibir Alia membuat miliknya terasa begitu sesak di bawah sana.


"Sayang Aku tidak tahan lagi." bisik Faraz dengan suara parau.


"Terus gimana, Aku masih berdarah." ucap Alia yang menahan tawanya.


Faraz turun dari ranjangnya, Kemudian menarik kedua tangan Alia dan membuatnya duduk di tepi ranjang.


Alia melihat Faraz membuka sabuk celananya dengan senyum menggoda.


Dengan mata membulat Alia menelan salivanya membayangkan apa yang akan terpampang tepat di depan matanya.


Kini Faraz telah polos tanpa sehelai benang, Ia mendekatkan miliknya ke depan wajah Alia. Tanpa mengatakan apapun Faraz meraih tangan Alia dan menuntunnya memegang miliknya.


Alia memegang dengan ragu-ragu.


Ia mendongakkan kepala menatap Faraz yang telah menunggu miliknya di mainkan.


Karena tidak ada pergerakan dari tangan Alia, Faraz kembali menuntun tangan Alia agar menggosok miliknya yang telah mengeras sempurna.


Alia yang melihat Faraz begitu tersiksa, Perlahan mulai menggosoknya.


"Aaaahhhh..." lenguh Faraz ketika tangan halus Alia mulai memainkan miliknya.


Alia semakin penasaran dan kembali memainkan hingga ke buah kecil yang menggantung di pangkal pahanya.


"Aaarrrrgghhhhhh...." Faraz kembali melenguh dan menengadahkan kepalanya ke atas.


Alia yang melihat reaksi Faraz Kembali mempercepat gosokannya hingga Faraz melenguh panjang.


Faraz yang masih ingin bermain-main menahannya agar tidak segera keluar.


Faraz kembali menarik tubuh Alia semakin mendekat. Ia menjepit miliknya di antara kedua buah dada Alia yang memang padat dan besar hingga memudahkan miliknya bersarang di belahan kedua buah itu.


Faraz mulai nenaik turunkan miliknya di ikuti dengan erangan kenikmatan yang menguasai tubuhnya.

__ADS_1


Seperti ingin melihat Faraz mengerang lebih, Alia semakin menekan kedua dadanya ke tengah hingga erangan Faraz semakin menggila.


"Sssayaaang... Akhhhhh... Ssshh...." racau Faraz sambil terus mempercepat hentakannya.


Faraz membungkukkan tubuhnya dan melu mat bibir Alia sekilas sebelum akhirnya memuntahkan cairan hangat miliknya di belahan dada Alia.


"Aaarrggghhh... Hahhhhhhh..." nafasnya memburu , Lututnya terasa lemas, Dengan tatapan sayu Faraz mengusap pipi Alia sedangkan tangan sebelahnya untuk menopang tubuhnya.


"Kamu gila." ucap Faraz kemudian menjatuhkan diri ke ranjang dengan lemas.


Alia terseyum menggelengkan kepalanya, Ada kepuasan tersendiri karena telah membantu suaminya menyalurkan hasratnya di saat Ia tidak bisa melayaninya.


•••


Vidya memamgis menatap Putra kesayangannya yang terbaring tak berdaya, Hampir seluruh anggota tubuhnya di perban,


Tangannya terpasang selang infus dan penambah darah, Hidungnya terpasang selang nasogastrik, Sedangkan mulutnya terbuka karena terpasang Ventilator untuk membantu agar Dev bisa terus bernafas.


Semua alat yang bisa membantu Dev bertahan hidup telah terpasang di seluruh tubuhnya. Namun belum ada tanda-tanda Dev sadarkan diri.


Vidya terus menangis tanpa henti, Begitupun denga Aneja dan Divya yang tidak kalah sedihnya.


•••


Keesokan harinya.


Faraz dan Alia Sampai Ke rumah Bu Fareeda.


Sejak kecelakaan dan mengalami keguguran, Mereka tidak memberitahukan sama sekali pada Ibunya.


Bukan karena mereka tidak ingin mengabari Ibu, Tapi perasaan yang sangat menyedihkan kala itu membuat Mereka sepakat untuk tidak memberitahu Ibu sementara waktu.


Kini Faraz dan Alia sudah bisa sedikit mengurangi rasa sedihnya.


Oleh karena itu Mereka sepakat untuk memberitahu Ibu sekaligus meminta Do'a nya agar segera mendapat gantinya.


"Sudah berapa Minggu?" tanya Ibu setelah mendengar penjelasan dari Mereka.


"Perkiraan enam minggu," ucap Alia menunduk sedih.

__ADS_1


Faraz mengusap punggun Alia untuk membuatnya tidak merasa sedih lagi.


"Semua sudah takdir yang Maha Kuasa, Bersabarlah, Kelak pasti kalian akan mendapatkan kebahagiaan yang lebih dari rasa sedih kalian."


"Ibu, Sejak kapan Ibu jadi sebijak ini?" celetuk Faraz.


"FARAZ..!!!" tegur Alia.


"Alia! Sudah berapa lama kalian menikah? Kenapa masih panggil Suami dengan Namanya saja?"


"E-Ibu... Aku.."


"Sukurin di marahin," lirih Faraz yang langsung di sikut oleh Alia.


"Biasain dong Alia, Panggil Mas kek, Abang atau apapun yang penting jangan nama, Gak sopan."


"Kita kan seumuran Ibu, Sopan-sopan aja lah,"


"Eh tuaan Aku tau," protes Faraz.


"Cuma beda beberapa hari doang."


"Alia, Meskipun kalian seumuran bahkan jika Faraz lebih muda darimu, Kamu tetap harus menghormatinya sebagai suami."


Alia mengangguk pelan, Ia merasa heran pada Ibunya, Bukan hanya menjadi lebih bijak, Ibu juga jadi peduli dengan Faraz, Padahal sejak dulu sikapnya selalu sinis pada Faraz, Bawaannya marah-marah terus. Tapi sekarang, Ibu benar-benar berubah.


Faraz dan Alia saling menatap, Mungkin Mereka memikirkan hal yang sama tentang perubahan Ibunya.


"Alia, Kamu dengar apa yang Ibu katakan?" tegas Ibu mengagetkan keduanya.


"E-e-ya, Baik lah."


"Baiklah apa?"


"Ya baiklah, Aku akan memanggilnyaaa... Mas, Ya... Mas, Hai Mas." Alia melambaikan tangannya pada Faraz.


Faraz terkekeh menggelengkan kepalanya melihat ekspresi Alia yang terlihat begitu menggemaskan di matanya.


"Mas? Mas Faraz?" gumam Alia Kemudian mengernyitkan dahinya karena merasa sebutan itu sungguh terdengar aneh di telinganya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2