Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
Berdamai


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Zayd telah menjemput Alea dan membawanya ke rumah. Setelah itu Mereka langsung meninggalkan rumah dan menuju Surabaya menggunakan jet pribadi untuk mempersingkat waktu.


Di atas pesawat Faraz menyiapkan diri untuk menghadapi musuh bebuyutannya yang sudah hampir dua puluh tahun tidak Ia jumpai, Apa lagi pertemuan mereka bertujuan menyatukan Anak mereka tentu berbagai macam perasaan bersemayam dalam hati dan fikirannya.


Namun meskipun begitu Faraz menurunkan egonya dan mengalah demi putra tercintanya.


Sekitar 1 jam lebih 30 menit, Pesawat mendarat di kota Surabaya.


Mereka langsung berpindah ke mobil mewah yang sudah di sewanya untuk menemani perjalanan mereka selama di Surabaya.


Tidak membuang waktu, Faraz langsung meminta Alea untuk mengantarnya ke rumah. Alea pun menurut dan menunjukan jalan menuju rumahnya.


Sekitar 45 menit perjalanan, Akhirnya mereka sampai di rumah mewah dua lantai bernuansa modern berwarna putih.


Alea turun dengan tegang melihat rumah yang sudah lama Ia tinggalkan.


Zayd mendekati Alea dan menggenggam tangannya.


Alea tersentak dan menatap Zayd yang tersenyum padanya.


"Jangan takut, Kita bersama mu."


Alea mengangguk dan mulai melangkah masuk di ikuti oleh Faraz, Alia dan Zia di belakangnya.


Alea memegan gagang pintu dan perlahan membukanya.


Alea melihat kesana-kemari tak melihat siapapun. Kemudian Alea masuk dan di sambut oleh pelayan yang melihat kedatangannya.


"Non Alea." dengan hangat pelayan berusia sekitar 40 tahunan itu memegang kedua tangan majikannya yang sudah lama tidak pulang.


"Apa kabar Bi?" tanya Alia dengan ramah.


"Baik Non, Tuan pasti seneng lihat Non Alea pulang, Bibi panggil Tuan dulu yah."

__ADS_1


Alea mengangguk dan mempersilahkan Zayd beserta keluarganya duduk.


Dari sofanya Faraz melihat sekeliling ruang tamu dan lantai dua yang begitu megah seakan menunjukkan kesuksesan Barry meskipun dulunya adalah seorang pengusaha yang curang.


Pandangannya terhenti saat menatap Pria berusia separuh abad itu menuruni anak tangga.


Sebuah perasaan yang tidak bisa Faraz gambarkan ketika melihat musuh bebuyutan akan segera menjadi besannya.


Barry menghentikan langkahnya melihat putri semata wayangnya yang sudah lama tidak pulang kini pulang dengan Faraz yang tak lain adalah pesaing bisnisnya. Hal itu membuat Faraz dan keluarganya tegang dan berdiri menatap ke arahnya.


"Ayah..." lirih Alea dengan tegang.


"Apa ini Alea? Berbulan-bulan kamu tidak pulang dan pulang-pulang kamu membawa Mereka? Orang yang telah menjebloskan Ayah ke polisi?"


"Ayah maafkan Aku, Aku..."


"Barry, Bisa kita duduk dan bicara dengan kepala dingin?" Faraz memotong ucapan Alea dan mencoba meredamkan suasana yang begitu tegang.


"Hahahaha... Kau mengaturku di rumah ku sendiri?"


"Apa yang coba ingin kamu katakan?"


"Barry, Aku datang kemari ingin menyudahi permusuhan kita, Aku telah melupakan semua kejahatan mu pada keluarga ku dan Aku berharap kamu juga melupakan jika Aku pernah memenjarakan mu, Maka semua masalah kita selesai."


"Apa kamu fikir semudah itu?"


"Aku rasa 20th sudah cukup untuk melupakan semuanya, Ku mohon, Demi anak-anak kita."


"Anak-anak kita?"


"Ya, Dia adalah Zayd, Putraku dan Zayd sangat mencintai putrimu, begitupun sebaliknya, Jadi bisakah kita melupakan permusuhan ini dan merestui hubungan mereka?"


Barry terdiam menatap Zayd dan juga putrinya.

__ADS_1


Ia seperti tengah berfikir sebelum memberikan keputusannya.


Setelah beberapa menit, Barry menghampiri Alea dan mempertanyakan apa yang Faraz ucapkan.


"Jadi kamu mencintainya?"


"Ya Ayah, Aku sangat mencintainya."


"Kamu ingin menikah dengannya?"


Dengan ragu Alea menganggukkan kepalanya.


"Baiklah,"


"Baiklah? Apa ini artinya Kamu setuju menikahkan Anak-anak kita dan melupakan permusuhan kita?" tanya Faraz memastikan.


"Ya, Tapi ada syaratnya."


"Apa?"


"Aku ingin pernikahan yang megah untuk putriku dan di adakan di rumahku, Tidak di Jakarta."


Faraz terdiam merasa ragu. Namun melihat Zayd yang terlihat cemas akhirnya Faraz menyetujui apa yang Barry inginkan.


"Baiklah." tegas Faraz.


"Baguslah, Kalau begitu Aku akan memulai persiapannya, dan untuk kalian selama tinggal di Surabaya Aku akan menyiapkan hotel terdekat untuk kalian tempati selama proses pernikahan."


"Jadi kita berbaikan?" tanya Faraz yang ingin memeluk calon besannya.


"Ya tentu saja." Barry menyambut pelukan Faraz dengan hangat.


Zayd dan Alea saling memandang lega, Akhirnya permasalahan kedua orang tuanya telah selesai.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2