
Ting tong...
Di tengah malam suara bel berbunyi. Alia yang mendengarnya mencari Faraz namun tidak menemukannya. Kemudian Alia keluar mencari seseorang untuk membuka pintu. Tapi Alia tidak menemukan siapapun.
"Kemana semua orang?" batin Alia sambil melangkah membuka pintu.
Alia melihat seorang Pria yang berdiri membelakanginya.
"Maaf, Cari siapa?" tanya Alia mencoba melihat wajahnya.
Pria itu memutar tubuhnya dan membuka kaca mata hitamnya.
"Tuan Malvin!" Dengan rasa takut yang teramat sangat Alia segera menutup kembali pintunya. Namun Malvin menahan pintu dengan kuat hingga Alia tidak mampu menutupnya dengan rapat.
"Toloooooonggg..." pekik Alia sambil terus berusaha menutup pintu. Namun Malvin dengan kuat mendorongnya hingga Alia terpental dan terjatuh ke lantai.
Malvin terseyum smirk dan mendekati Alia yang kini terduduk di lantai.
"Mungkin kemarin Kamu bisa lepas dari ku, Tapi sekarang! Sekarang Aku tidak akan melepaskan mu!" Dengan mata melotot Malvin mencengkeram kedua lengan Alia dan mencoba menciumnya.
"Lepaskan Aku... Lepaskan Aku... Lepaskan Aku..."
"Sayang... Sayang..."
"Hagh!!!" Alia membuka matanya dengan nafas gemuruh dan keringat dingin bercucuran.
"Are you okay?" Faraz menangkup wajah Alia dan menyeka keringat di keningnya.
"Dia datang lagi... Dia datang lagi..." ucap Alia ketakutan.
"Itu hanya mimpi buruk Sayang, Dia tidak akan pernah kembali lagi."
"Tapi mimpi itu sangat jelas, Seperti nyata."
"Sayang Dia sudah di penjara di Kalimantan dan Kita sudah di Jakarta, Dia tidak mungkin kembali Okey?"
Alia masih menatap Faraz dengan cemas.
__ADS_1
"Kamu harus melawan rasa takut ini, Kamu harus memikirkan kedua Putra Kita, Hem?"
"Zayn... Zayd..." Alia melihat sekelilingnya.
"Mereka sudah tidur, Kamu juga harus tidur ya, Ini masih jam 02."
Tanpa menunggu persetujuan dari Alia. Faraz membuat Alia berbaring dengan berbantal dadanya. Kemudian Faraz mendekapnya erat dan mulai memejamkan matanya.
•••
Ke esokan harinya samar-samar Alia melihat Faraz membawa nampan dan duduk di sampingnya. Alia pun membuka mata sepenuhnya dan melihat Faraz terseyum menyambut Ia bangun.
"Selamat pagi Sayang..." Faraz mencubit lembut pipi Alia yang kini duduk bersandar di sandaran ranjangnya.
Alia menoleh ke nakas dan melihat segelas susu dan sandwich. Kemudian Ia kembali menatap Faraz.
"Mau sarapan?"
Alia menggeleng pelan.
"Mau ke kamar mandi dulu."
"Hati-hati ya."
Alia mengangguk dan masuk ke kamar mandi.
Alia begitu terperangah melihat dinding kamar mandi yang kini di penuhi dengan gambar si kembar yang menggemaskan hingga membuatnya mengukir senyum bahagia.
"Kamu menyukainya?"
"Hagh!" Alia terkejut melihat Faraz yang sudah berdiri di pintu.
"Kamu tidak mengunci pintunya." ucap Faraz terseyum.
"Baiklah, Mas lihat Anak-anak dulu."
Alia mengangguk dan menutup pintunya.
__ADS_1
•••
Melihat Alia lebih baik dengan melihat foto-foto si kembar, Faraz memenuhi kamarnya dengan foto Mereka agar Alia tidak lagi mengingat hal buruknya.
Sedangkan untuk siang hari di saat Faraz kembali bekerja, Faraz meminta Ratna dan Nindi mendampingi Alia saat Alia bermain dengan Anak-anaknya dan tidak membiarkannya sediri.
Hari terus berjalan, Tak terasa satu bulan telah berlalu. Alia pun sudah terlihat semakin membaik dan tidak bermimpi buruk apa lagi ketakutan. Karena itu pada malam hari Faraz meminta haknya yang selama satu bulan ini tidak di penuhi oleh Alia.
Tidak mau membuat Alia terkejut, Dengan bertumpu pada kedua lutut dan satu tangannya Faraz mengusap lembut kepala Alia.
Alia menatap Faraz dengan tenang dan membiarkan Faraz mengecup keningnya.
Melihat Alia tenang, Faraz menurunkan kecupannya ke kedua mata dan hidungnya.
Faraz merasa tegang jikalau perbuatannya akan membuat Alia histeris. Namun setelah menatapnya beberapa menit Alia terlihat baik-baik saja, Faraz pun mendaratkan ciumannya ke bibir Alia yang sejak tadi ingin Ia lahap.
Faraz mengecupnya lembut dan kembali melepaskannya.
Melihat Alia yang sedikit membuka mulutnya, Membuat Faraz kembali mengecupnya dan memberikan luma'tan perlahan, Dengan sedikit mengangkat kepala Alia, Faraz menurunkan kecupannya ke leher dan terus menelusuri tengkuknya yang seketika membuat Alia menjerit.
"Lepaskan.... Lepaskan..." dengan memejamkan mata Alia menggelengkan kepalanya kekanan dan ke kiri.
"Sayang... Sayang... Buka matamu."
"Hagh!" Alia langsung duduk dan susah payah menelan salivanya.
"Lihat, Ini Mas." dengan sabar Faraz mengusap-usap lengan Alia untuk menenangkannya.
"Masss..." Alia memeluk Faraz dan menyandarkan kepalanya di dada Faraz.
Faraz mengusap lembut kepala Alia dan harus lebih sabar lagi menahan keinginannya.
Faraz fikir setelah melihat Alia kembali melakukan aktivitas hari-harinya seperti biasa, Ia juga akan bisa melakukan kewajibannya sebagai seorang istri di atas ranjang. Namun ternyata Alia belum bisa sepenuhnya melupakan sentuhan Malvin pada dirinya. Hingga saat Faraz kembali mencoba menyentuhnya untuk pertama kalinya, Alia langsung histeris mengingat peristiwa buruk itu.
Bersambung...
YANG TANYA FB AUTHOR CARI DENGAN NAMA I'TSMENOOR YANG PROFILNYA ORANG GANTENG 🤣
__ADS_1