
"Mas harus menghukum mu karena telah menceritakan kepada Anak-anak jika Mas berpacaran dari umur yang belum genap 16th," ucap Faraz yang sudah mengungkung tubuh Alia.
"Jangan jadikan alasan hukuman jika ingin meminta jatah," ucap Alia tertawa.
"Oh, Jadi Kamu Nantangin Mas?"
"Memang kenyataannya, Bahkan bukan hanya pacaran doang tapi bucin, Bucin parah, Akut, Kronis, Mendarah dag.."
"Happmmttt..." Faraz langsung membungkam mulut Alia dengan pagu'tannya.
Dengan sedikit kasar dan gai'rah yang membara Faraz langsung melucuti pakaian Alia dan langsung meremad dada nya.
"Eummhhh..." Alia memukul-mukul pundak Faraz ketika merasa kehabisan nafas.
"Kenapa apa Kamu kehabisan nafas?" Faraz menyeringai dan langsung membalik tubuh Alia dan mengangkat pinggulnya ketepi ranjang dimana Ia berdiri.
Faraz menyentuh milik Alia dan menyapu dengan gerakan ke atas. Sentuhan jemari Faraz membuat pinggulnya bergerak dengan sangat indah di mata Faraz yang tengah menatapnya dari belakang.
"Masss..." Sura manja Alia yang terdengar seperti desa'han menarik tangan Faraz untuk meremad bo'kongnya dengan kedua tangannya.
Faraz meremad bo'kong Alia dengan kuat dan memainkan lidahnya di bawah sana sebelum akhirnya menghujamkan miliknya.
"Akkkhhh..." lenguh Alia saat merasakan milik Faraz masuk begitu dalam.
Faraz mendiamkan sejenak menikmati esapan kuat dari dalam sana.
"Ini yang membuatku tidak bisa berpaling." batin Faraz yang kembali menghujam lebih dalam lagi.
"Akhhhhh..." Alia tertelungkup melihat gerakan pinggul Faraz yang semakin lama semakin cepat.
Sura kulit saling beradu dan desa'han penuh kenikmatan dari keduanya memanaskan kamar yang tengah di guyur hujan deras di luar sana.
•••
Bryan memberikan secangkir kopi untuk Zia.
Dengan tangan yang mulai gemetar Zia langsung menyeruput Kopi Arabika Gayo Aceh yang Om Bryan bikin.
Baju seragam yang basah terkena hujan, Membuat Zia begitu merasa kedinginan, Jas milik Bryan pun sudah tidak mampu menghangatkan tubuhnya karena ikut basah terserap oleh seragam sekolahnya.
Bryan yang melihatnya mematikan AC ruangan dan membuka kemejanya lalu memberikannya pada Zia.
__ADS_1
"Pakailah, Ini lebih baik daripada kamu kedinginan dengan seragam mu yang basah." ucap Bryan mengulurkan kemeja putih kepada Zia.
Zia mengangkat kepalanya dan melihat tubuh Bryan yang terlihat begitu sempurna, Lebih sempurna dari tubuh Papanya, Batin Zia.
"Zia jangan menatap Om seperti itu, Tidak baik." ucap Bryan yang bicara seperti kepada Anaknya.
Zia menundukkan kepalanya dan beranjak dari duduknya.
"Gantilah di kamar mandi."
Zia mengangguk dan pergi ke kamar mandi. Sedangkan Bryan memakai jas yang tadi di kenakan oleh Zia tanpa mengancingnya.
Beberapa menit kemudian Zia keluar dengan kemeja panjang yang kedodoran hingga tangannya tak terlihat, Sedangkan panjang kemeja sebatas lutut memperlihatkan kakinya yang jenjang nan indah.
Bryan terseyum menggelengkan kepalanya.
"Kalau Papa Faraz tau Zia disini gimana?" tanya Bryan.
"Zia mohon Om, Jangan kasih tau Papa, Papa gak tau kalau Zia suka sama Om."
Bryan kembali tertawa, Zia begitu blak-blakan mengungkapkan perasaannya tanpa rasa jaim maupun malu.
•••
Sikapnya yang periang, Lesung pipinya yang begitu manis saat Ia tertawa membuat Zayd sulit melupakannya. Ia mulai merasa ada keresahan di hatinya, keresahan yang belum pernah Ia rasakan sebelumnya pada gadis manapun. Zayd yang tidak lagi tahan dengan perasaannya segera bangkit dari duduknya dan keluar dari ruangannya.
Kemudian Zayd langsung ke pantry.
"E-e Tuan Zayd," tiga Office girl berdiri menundukkan kepalanya pada Zayd. Namun Zayd tidak melihat Alea diantara Mereka.
"Ada yang bisa Kami bantu Tuan, Kenapa Tuan sampai repot-repot datang ke pantry?"
"Apa Alea tidak masuk karena semalaman terkurung di Lift?" batin Zayd yang tidak menghiraukan pertanyaan dari Office girl nya.
Di tempat lain Zayn tengah asik menikmati kebersamaannya dengan Clarissa di sebuah club malam.
Zain menenggak beberapa gelas kecil minuman beralkohol yang Clarissa tuangkan untuknya.
"Sudah cukup Sayang, Aku tidak mau mabuk." ucap Zayn setelah menenggak minuman terakhirnya.
"Ayolah Sayang, Baru tiga gelas kecil," rayu Clarissa dengan suara manjanya.
__ADS_1
"Satu lagi ya,"
Clarissa terseyum mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ini demi kamu," ucap Zayn yang kemudian akan menenggak minuman tersebut. Namun belum sempat Zayn meminumnya, Devita datang dan menepisnya.
Zayn dan Clarissa terlonjak kaget dan turun dari kursinya masing-masing.
"Apa-apaan ini." triak Zayn
"Ikut Aku Zayn," Devita langsung menarik tangan Zayn.
"Lepaskan! Siapa Kau berani-beraninya menyentuhku?"
"Percayalah padaku kali ini Zayn." Devita terus membawa Zayn lari keluar dari club.
"Zayn... Zayn...." pekik Clarissa mengejar Zain. Namun Devita terus menariknya dan mendorongnya masuk ke mobil.
"Devita berraninya Kau..." ucapnya terhenti saat wajahnya terkena sorotan lampu dari mobil yang berlawanan dengan mobilnya.
Zayn mengangkat kedua tangannya untuk menutupi siiaunya. Setelah lampu itu mati, Zayn melihat beberapa pria berbadan tegap dengan jaket kulit hitam turun dari mobil tersebut dan masuk ke club.
"Mereka adalah polisi."
Zayn menatap Devita seakan tak percaya ucapanya. Namun keraguannya terpatahkan saat melihat pengunjung club di ringkus dan di masukan ke mobil.
"Sekarang Kamu percaya?" tanya Devita sembari menjalankan mobilnya menjauh dari club.
"Tapi bagaimana Kau tau?"
"Maafkan Aku Zayn, Aku selalu membuntuti mu kemanapun Kamu pergi dan Aku tak sengaja mendengar percakapan Clarissa dengan seseorang di dalam telfon, Clarissa mengatakan jika Dia sudah menyiapkan obat untuk di masukan ke minuman mu dan saku celana mu, Setelah itu Dia akan memanggil polisi."
Zayn meraba saku celananya dan menemukan tiga bungkus serbuk putih di dalamnya.
Zayn menatap Devita yang selama ini Ia perlakukan dengan kasar.
Bersambung....
UDAH MAU 200 EPISODE MASA GAK TAU WAJAH SEPERTI APA YANG SELALU KALIAN CACI MAKI 😀
KENALIN NIH MAS BUCIN AKUT YANG KAGAK ADA OBATNYA 🤣
__ADS_1