Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
Empat Bulanan


__ADS_3

Faraz menyusul Alia masuk ke kamar mandi.


Faraz yang melihat Alia masih terus mual-mual di wastafel mendekatinya dan memegangi rambutnya ke belakang agar tidak terjuntai ke depan.


"Apakah mulutku begitu bau?"


Alia memejamkan mata menahan rasa mualnya.


"Tidak Mas, Aku hanya mual saja."


"Kita ke Dokter?"


"Tidak perlu, Mungkin ini hanya bawaan bayi,"


"Maafin Mas ya."


"Huweekk... Huweekk..."


Faraz menggaruk-garuk kepalanya melihat Alia kembali mual-mual.


•••


Waktu terus berjalan, Tak terasa kini usia kehamilan Alia telah memasuki empat bulan.


Acara empat bulanan pun di selenggarakan di rumah Mereka dan di hadiri oleh orang tua dari keduanya.


Lantunan ayat suci Al-Quran, Shalawat dan Do'a di panjatkan untuk kesehatan sang Ibu dan calon bayinya.


Waktu empat bulan dipilih karena waktu ini adalah momen ketika Sang Pencipta meniupkan ruh dan menugaskan malaikat untuk mulai mencatat empat perkara, yaitu rezeki, maut, amal, dan jalan hidup sang Bayi. Karena itu, Momen empat bulan dimanfaatkan untuk memanjatkan Doa agar roh yang dimasukkan memiliki sifat baik dan malaikat diharapkan mencatatkan hal yang positif untuk calon Jabang Bayi. Selain itu, pada usia kehamilan empat bulan bayi juga dipercaya sudah memiliki anggota tubuh yang lengkap sehingga menjadi hal yang wajib disyukuri bagi calon orang tua.


Acara berjalan dengan lancar hingga pukul 22.00 WIB.


Para tamu undangan dan Pak Kiyai yang memimpin Do'a telah meninggalkan rumah Mereka. Kini tinggal Bu Fareeda dan Bu Zeenat serta Ayah Shehzad.


Mereka berbincang-bincang hingga satu jam lamanya sebelum akhirnya Ayah Shehzad dan Ibu Zeenat pamit pulang.


"Baiklah Faraz Ayah dan Ibu pulang dulu."


"Nggak nginep aja Yah?"

__ADS_1


"Nanti saja kalau bayinya sudah lahir," ucap Ayah tertawa.


"Baiklah, Terserah Ayah saja."


"Sehat terus ya Sayang," ucap Zeenat mencium Alia dan mengusap perutnya.


"Terimakasih Ibu,"


"Sama-sama Sayang, Ibu pulang dulu ya."


Alia mengangguk dan mengantar Ibu dan Ayah mertuanya sampai ke teras.


"Ibu mau nginep di sini kan?" tanya Faraz pada Ibu mertuanya.


"Iya, Ibu tidak ingin merepotkan mu di tengah malam begini."


"Kalau begitu malam ini Aku tidur dengan Ibu ya?" tanya Alia pada Faraz.


Faraz terdiam mengerenyitkan alisnya.


"Boleh ya Mas, Malam ini doang..." rengek Alia.


"Cuma malam ini doang Ibu, mumpung Ibu disini."


"Tapi Alia.."


"Tidak apa-apa Ibu, Mungkin Alia ingin bermanja-manja dengan Ibu sebelum Dia menjadi Ibu dan memanjakan anak-anaknya." ucap Faraz tertawa.


•••


Pagi Hari.


Setelah hampir lima bulan Dev hanya duduk di kursi roda, Kini Ia sudah bisa melangkah dengan di bantu tongkat alat bantu jalan. Bahkan Ia juga tidak lagi di dampingi Fisioterapis karena kondisi kesehatannya juga semakin membaik, Kini Dev hanya perlu banyak berlatih untuk bisa berjalan tanpa mengandalkan tongkatnya.


Dengan tekad dan semangat yang kuat, Dev kembali berlatih berjalan di halaman rumahnya. Perlahan Ia melepaskan salah satu tongkatnya.


Dan berhasil berjalan hanya dengan satu tongkat, Kini Dev berusaha melepaskan tongkat satunya lagi, Dengan kaki gemetar, Dev mulai mencoba melangkah tanpa alat bantuan apapun. Namun baru dua langkah, Dev tersungkur ke tanah.


"Aowwh.." ringis Dev memegangi kakinya.

__ADS_1


Ia melihat sekeliling rumahnya namun tidak terlihat ada siapapun di sana. dengan susah payah Dev mencoba meraih tongkatnya yang tergeletak yang tidak jauh darinya.


"Tuan Dev."


Dev menoleh ke arah suara dan cukup terkejut melihat Cindy sekertarisnya.


"Cindy Kau."


"Kenapa berlatih sendiri, Dimana semua orang?" tanya Cindy sembari meletakkan tangan Dev ke pundaknya.


"Semua sudah berangkat kerja, Kavita mungkin sedang mengurus bayinya."


Cindy memapah Dev hingga duduk di kursi taman yang tak jauh dari Dev terjatuh.


"Ada apa pagi-pagi kesini, Apa kamu tidak kerja?"


"Saya hari ini izin untuk tidak masuk kantor, Ada urusan keluarga, Tapi Saya menyempatkan diri kesini untuk memberikan ini,"


"Apa ini?"


"Pengobatan alternatif untuk membantu Anda bisa jalan kembali."


"Pengobatan canggih saja belum bisa membuatku berjalan dengan normal dan Aku harus mempercayai ini?"


"Jika pengobatan canggih tidak bisa, Tidak ada salahnya Anda mencoba pengobatan alternatif, Saudara dari Ibu sudah membuktikannya, Dia tidak bisa berjalan dua tahun, Dan mencoba pengobatan ini Alhamdulillah sekarang Dia sudah bisa berjalan kembali."


Dev menarik nafas dalam-dalam dan menatap Cindy.


"Kenapa Kamu begitu memperdulikan ku, Padahal Aku selalu bertindak seenaknya pada mu?"


Cindy langsung mengalihkan pandangannya.


"Anda Atasan Saya, Karena kebetulan Saya tau ini, Jadi Saya sarankan ini untuk Anda."


Dev terdiam menatap Cindy yang tidak berani menatapnya.


Bersambung...


BACA JUGA PESONA MAJIKAN'KU YANG CERITANYA SEMAKIN UWWU ☺️

__ADS_1


__ADS_2