Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
Ultah 3Z


__ADS_3

Seluruh keluarga sudah berkumpul di pesta yang sudah di mulai beberapa menit yang lalu.


Faraz yang tidak melihat Zayd mendekati Zayn yang memang sekamar dengan Zayd untuk menanyakan keberadaan saudara kembarnya.


"Zayn, Kemana Zayd?"


Zayn terdiam mengingat dirinya yang menyuruh Zayd menemui kekasihnya, Terbersit pikiran jahat untuk mengadukan Zayd kepada Papanya. Namun pikiran itu segera di tepis oleh nuraninya sendiri.


Zayn mengingat bagaimana dulu Zayd terus melindunginya saat melakukan hal yang sama.


"Zayn! Di tanya kok diam saja?"


"A-e... Zayd..." Zayn melihat kesana-kemari dan melihat kedatangan Zayd.


"E... Itu Dia."


Zayd merasa tegang melihat Zayn dan Papa saling berhadapan memandang kedatangannya.


Terbersit dalam pikiran jika Zayn pasti telah mengadukan berbuatannya.


"Hey Zayd darimana saja?"


"A-e... Aku..." Zayd menatap Zayn.


Zayn menggeleng pelan.


Zayd menghelai nafas lega dan mengukir senyum tipisnya.


"Aku di kamar Pa, Nunggu rame aja."


"Baiklah kalau begitu cepat bergabung dengan Mama dan Zia."


Zayd terseyum dan meraih tangan Zayn lalu menggandengnya.


•••


Seperti menunggu pergantian tahun, Mereka menunggu pergantian tanggal dan menghitung mundur jam yang tingal beberapa detik lagi akan berganti hari.


"Tiga... Dua... Satu..."


"Selamat Ulang Tahun..." Suara riuh rendah para tamu yang menghadiri pesta tanpa undangan itu turut memeriahkan pesta ulang tahun ketiga anak Faraz.

__ADS_1


Zayn, Zayd dan Zia bersama-sama meniup lilin dan memotong kue ulang tahun yang berukuran 1x2 meter.


Kemudian Mereka menyuapi kedua orang tuanya dan saling menyuapi satu sama lain.


"Selamat ulang tahun Sayang," Faraz dan Alia memeluk satu persatu Anak-anaknya. Kemudian Zayn dan Zayd serta Zia juga saling berpelukan dan mengucapkan selamat satu sama lain.


Faraz terseyum melihat Anak-anaknya yang kini genap berusia 19th untuk Si kembar dan 18th untuk putri bungsunya.


Kemudian Faraz memeluk ketiganya dan meraih Alia untuk turut serta memeluk Anak-anaknya.


•••


Setelah pesta berakhir, Mereka kembali ke kamar masing-masing pada pukul 02.00 dini hari.


Zia membuka ponselnya berharap ada ucapan selamat ulang tahun dari Om Bryan. Namun Zia harus gigit jari karena Om Bryan tidak mengirim pesan sama sekali.


Zia mengerucutkan bibirnya dan merasa kesal karena di hari ulang tahunnya, Om Bryan malah tidak muncul maupun mengirim pesan sama sekali.


Triiing...


Seketika Zia berbunga melihat Nama Om Bryan muncul di layar ponselnya.


"Buka Pintu." Zia yang membaca pesan Om Bryan langsung terseyum lebar dan berlari membuka pintu.


Om Bryan terseyum sambil mengangkat tubuh mungil Zia dengan satu tangannya, Sementara tangan satunya mengunci pintu.


Kemudian Om Bryan menatap kekasih kecilnya dan meraih tangan Zia untuk memasukan cincin ke jari manisnya.


"Om ini?" Zia membuka mulutnya lebar-lebar melihat apa yang Om Bryan berikan padanya.


"Happy Birthday Zia Sayang," ucap Om Bryan yang langsung menutup mulut Zia dengan kecupannya.


Zia menutup mulutnya dan kembali menatap cincin yang melingkar di jari manisnya.


"Zia suka?" tanya Om Bryan.


"Sangat," Zia kembali memeluk Om Bryan.


"Zia fikir Om kemana, Sejak pagi Om tidak menemui ku, Om juga tidak mengirim pesan sama sekali."


"Apa Zia takut Om pergi? Atau Zia merindukan Om?"

__ADS_1


"Keduanya."


Om Bryan tersenyum dan duduk di tepi ranjang.


Kemudian meraih tangan Zia dan membuat Zia duduk di pangkuannya.


Om Bryan mendekap tubuh Zia dan meraih wajahnya untuk menyatukan bibirnya.


Seperti menenggak air cinta, Om Bryan mengesap lidah Zia kuat-kuat hingga menimbulkan suara khas orang yang bertukar air liur.


"Zia Sayang..."


"Om..." Desa'han penuh gai'rah cinta membara menguasai diri Mereka.


Status Duda yang terlalu lama di sandang dan Gadis remaja yang penasaran merasakan kenikmatan yang lebih, Lebih dan lebih lagi membuat keduanya terus menerus ingin meluapkan rasa cinta dengan tautan bibirnya. Namun meskipun begitu, Om Bryan masih bisa mengendalikan diri dan tidak mau mengambil kesempatan atas tubuh Zia yang sebenarnya dengan mudah Ia dapatkan.


Bryan kembali mengangkat tubuh Zia dan membaringkannya di ranjang. Kemudian Om Bryan merangkak naik dan mengusap kepalanya dengan lembut. Kemudian mengecup keningnya dengan lembut.


"Sebentar lagi Om berangkat ke Jakarta."


"Apa! Kok mendadak sih Om?"


"Sudah banyak kerjaan yang menunggu, Om juga akan meyakinkan Bella untuk menerima hubungan Kita, Setelah itu Om akan bicara pada Papa mu, Jadi Om duluan ya."


"Tapi Zia akan merindukan Om."


"Hanya sebentar saja Sayang."


Zia menganggukan kepalannya dan kembali memeluk Om Bryan.


"Baiklah, Om pergi sekarang, Takut ketiduran llagi kalau kelamaan sama Zia," ucap Bryan tertawa sembari bangkit dari atas tubuh Zia.


"Hati-hati Om," Zia kembali meraih tangan yom Bryan.


"Iya, Sampai ketemu di Jakarta ya." Bryan mengusap lembut pipi Zia.


Zia mengangguk dan mengantar Om Bryan sampai pintu.


Om Bryan terseyum melambaikan tangannya dan meninggalkan kamar Zia.


Bersambung...

__ADS_1


📌 Buat Ukhti Shalihah yang tidak suka ciu'man bibir bisa baca Novel religi yang berjudul "Menikahi Calon Suami Kakak'Ku dan "Bersaing Cinta Dengan Ustadz" Di sana banyak Hadits dan Do'a jadi itu cocok untuk kalian, Daripada baca novel ini yang tidak ada manfaatnya.


__ADS_2