
"Apa perlu Ibu yang mencarikan jodoh untuk mu, Agar kamu tidak terus-menerus mengingat nya?"
"Tidak Ibu, Aku sudah cukup bahagia memiliki Ibu," Faraz kembali memeluk Ibu nya.
Ibu tersenyum mengusap punggung Faraz.
"Sekarang Kamu beristirahatlah Ibu akan keluar sebentar,"
"Tapi Ibu, Bukankah Ibu sakit?"
"Ibu sudah sembuh begitu melihat mu," ucap Ibu mencubit pipi Faraz.
"Kalau begitu biar Aku menemani Ibu,"
"Benarkah, Tapi Ibu mau kepasar, Emang kamu mau desak-desakan?" tanya ibu yang tak yakin melihat penampilan putranya mau ikut ke pasar tradisional.
"Tidak masalah Ibu, Aku tidak ingin duduk diam dirumah, Aku ingin mencari kesibukan."
"Ya baiklah,"
"Kita berangkat sekarang?" tanya Faraz.
Ibu mengangguk dan bersiap untuk pergi ke pasar.
*****
Alia bersiap-siap untuk berangkat bekerja,
Ia pun memasuk kan barang-barang yang diperlukan ke tasnya,
Netra nya tertuju pada benda hitam di lantai,
Alia mendekati dan mengambil benda itu,
"Dompet siapa ini?" Alia membuka dompetnya dan melihat ada foto wanita disana.
"Foto siapa ini, Wajahnya tidak asing," gumam Alia
Alia kembali membukanya dan menemukan foto Faraz dalam ID Card nya.
"Jadi dompet ini miliknya, dan foto ini, Apa foto ini istrinya Faraz?"
"Kenapa Dia senang sekali menghilangkan barang-barang nya, Dulu cincin sekarang dompet," gumam Alia sambil memasukkan dompet Faraz ke tasnya.
Sedangkan Faraz dan Ibu nya tengah berjalan di lorong-lorong pasar dengan menutupi wajah mereka menggunakan masker.
"Ibuuu... Kenapa meskipun Ibu sudah menjadi Nyonya Shehzad Shaikh masih saja mengunjungi pasar tradisional seperti ini, lihatlah Ibu tempatnya sangat kotorr,
Dan Laalat-lalat ini..." Faraz menghalau Lalat-lalat yang ada di depannya dengan jijik.
"Faraz... Jangan bicara begitu, Nanti orang-orang tersinggung, Lagi pula Ibu lebih suka belanja disini karna sayuran disini masih sangat segar dan pastinya lebih sehat karena jauh dari pestisida maupun bahan pengawet lainnya,"
"Lalu kenapa Ibu tidak menyuruh pelayan saja, Pelayan dirumah kita kan banyak?"
"Biasanya Ibu menyuruh mereka, Tapi kali ini Ibu ingin sendiri,"
Netra Faraz melihat kesana kemari dan melihat sesuatu yang menarik perhatiannya.
"E... Ibu, Aku ingin lihat kesana dulu, Ibu jangan kemana-mana Aku akan segera Kembali." ucap Faraz lalu pergi.
Ibu mengangguk dan menunggu Faraz kembali.
Semakin lama semakin ramai pengunjung yang datang, Hingga mereka mulai berdesakan.
Zeenat yang menunggu Faraz di lorong pasar mulai tersenggol-senggol orang yang berlalu lalang kesana-kemari.
Zeenat yang merasa tidak nyaman lagi berbalik badan untuk menghindari keramain, Namun belum sempat melangkahkan kakinya Zeenat menabrak seseorang yang ada di depannya.
"Maaf... Maaf kan Aku..." ucap Zeenat meminta Maaf.
__ADS_1
"Tidak apa-apa," ucap nya tersenyum.
"Fareeda...." ucapp Zeenat kagert setelah orang itu mengangkat wajahnya.
Bu Fareeda pun merasa bingung.
Zeenat membuka maskernya dan tersenyum padanya.
"Aku Zeenat, Apa kamu masih mengingat ku?"
"Zeenat..?" Fareeda mulai mengingat.
Zeenat menganggukan kepalanya.
"Ya ampun Zeenat... Bagaimana kabar mu?"
Mereka pun saling berpelukan, dan merasa haru mengingat hubungan mereka yang cukup dekat.
"Aku baik Fareeda, Aku benar-benar tidak menyangka akan bertemu denganmu lagi setelah puluhan tahun kita berpisah."
""Ya.. kamu meninggalkan Desa, begitu kamu menikah dengan Shehzad, dan sekarang namamu dikenal dimana-mana,"
"Tapi Aku masih Zeenat yang dulu,"
"Yaa.. Aku percaya itu, dari dulu meskipun kamu anak orang kaya, dan juga memiliki suami yang kaya tapi kamu masih mau kepasar seperti ini,"
"Aku tidak tau kenapa, Tapi hari ini Aku ingin sekali ke sini dan ternyata Allah ingin mempertemukan Kita." ucap Zeenat haru.
"Oh ya bagaimana kabar Zaferi?" tanya Zeenat.
"Dia sudah tiada sejak Putri kami masih berusia lima tahun,"
"Maafkan Aku Fareeda Aku jadi membuatmu sedih,"
"Tidak apa-apa Zeenat, Itu sudah lama sekali, Aku dan putri ku sudah terbiasa tanpa kehadirannya,"
"Aku ikut Putri ku, Putri ku bekerja disini,"
"Benarkah, berapa usianya sekarang?" tanya Zeenat antusias.
"Tak terasa kini usianya sudah menginjak 24th,"
"Benarkah, Putra ku juga berusia 24th,"
"Benarkah, Berarti Anak kita seumuran?"
Zeenat mengangguk.
"Siapa nama putrimu...?"
"Nama Putriku...."
"Ibuuu lihatlah ini Aku membawa....." Faraz terperangah melihat Bu Fareeda ada di depannya.
Bu Fareeda menatap Faraz yang masih menggunakan masker.
Sorot matanya seperti tidak asing untuk nya.
"Fareeda ini Putra ku Faraz, Faraz buka masker mu, ini teman Ibu sejak kecil, Beri salam padanya,"
Faraz menundukkan wajahnya sembari melepaskan maskernya.
Bu Fareeda begitu terkejut, Ternyata Dia adalah orang yang sama dengan Pria yang menginap di rumahnya.
"Tadi siapa nama Putri mu?" tanya Zeenat.
"Nyonya Zeenat... Maaf Aku harus pergi sekarang," dengan tatapan penuh kemarahan Fareeda langsung pergi meninggalkan mereka.
Faraz hanya bisa menunduk kan kepalanya sembari melirik kepergian Bu Fareeda.
__ADS_1
"Fareeda... Kenapa kamu tiba-tibamerasa kesal,
Kita belum selesai bicara?"
"Maafkan Aku Nyonya Zeenat, Kita bisa bicara lain waktu lagi,"'
"Tapi Fareeda... Dimana kamu tinggal, Kemana Aku harus mencari mu?" Zeenat terus berusaha menghentikan langkah Fareeda.
"Tanya saja pada putra mu." ucap Fareeda dengan menatap tajam Faraz.
"Faraz, Bagaimana Dia bisa tau?" tanya bingung
Fareeda kembali melangkah dengan kesal.
"Fareeda... Faraz... Sebenarnya apa yang terjadi?" Zeenat kembali menghentikan Fareeda.
Faraz hanya terdiam menundukkan wajahnya.
"Fareeda katakan pada ku, Kenapa Kamu terlihat begitu kesal setelah melihat Faraz, daan... Tadi kamu bilang Faraz tau dimana kamu tinggal, Sebenarnya apa yang sudah terjadi?"
"Apa Putra mu tidak memberitahkan mu dimana semalam Dia tidur?" tanya Fareeda dengan kesal.
"Semalam... Faraz bilang Dia tidur dirumah teman nya."
"Apa selain suka mabuk Dia juga suka berbohong?"
"Apa! Mabuk?" tanya Zeenat tercengang.
Faraz mulai panik dan salah tingkah.
"Fareeda bicara dengan jelas, Apa yang terjadi, dan bagaimana kalian saling mengenal?"
"Baiklah Zeenat sekarang dengarkan Aku, Putra mu telah tidur di kamar Putri ku dalam keadaan mabuk, dan hanya Tuhan yang tau apa yang sudah Putra mu lakukan kepada Putra ku.," ucap Fareeda kesal
"Bibi.. Percayalah pada ku, Meskipun Aku mabuk, Aku tidak....."
Fareeda langsung pergi tanpa mau mendengarkan penjelasan Faraz.
Plaakkkkk...
Satu tamparan langsung mendapat di pipi Faraz.
Faraz terkejut dan memegangi pipinya.
"Sejak kapan kamu jadi pemabuk? Sejak kapan kamu jadi pembohong?" tanya Zeenat yang terlihat begitu sangat marah.
"Ibuuu... Aku..." Faraz merasa sedih melihat ibunya menangis.
"Ibu tanya sejak kapan kamu jadi pemabuk dan beraninya kamu memasuki kamar seorang gadis, Apa lagi gadis itu Putri dari sahabat Ibu mu." dengan kesal Zeenat mencengkram lengan Faraz.
"Ibu maafkan Aku, Aku belum bisa melupakan kavita jadi Aku minum untuk melupakannya."
"Jadi ini semua gara-gara wanita tidak tau diri itu?
Bahkan setelah tiga tahun berlalu kamu masih saja memikirkannya?
Lalu apa maksudmu menginap di kamar putri Bu Fareeda jika kamu masih memikir kan Kavita, Apa kamu ingin mempermainkan dirinya?" hardik Ibu.
"Tidak seperti itu Ibu, bukan begitu ceritanya, Bahkan Aku tidak mengenalnya sama sekali,"
"Kamu tidak mengenalnya tapi kamu menginap di kamarnya?
Benar-benar kebohongan yang luar biasa Faraz." Ibu berlalu pergi meninggalkan Faraz dengan kekecewaan di hatinya.
"Ibuu... Ibuu.... Jangan tinggalkan Aku..." Faraz berlari mengejar mobil Ibu nya, Namun langkahnya terhenti saat Ia tak mampu lagi mengejarnya.
"Aaarrggghhh! ini semua gara-gara gadis cupu itu," ucap Faraz kesal.
Bersambung...
__ADS_1