
Kavita sampai di rumah.
Untuk kesekian kalinya ia merasa kesal mendengar alasan yang Dev berikan.
Ibu yang melihat sikap Kavita berdiri menghalangi jalan Kavita.
"Apa kamu sudah dapat kepastian darinya?" tanya Ibu dengan yang terlihat begitu kesal.
"Ibuu.. Aku belum memiliki akte cerai jadi Dev belum bisa menikahi ku," ucap Kavita yang tidak berani menatap Ibunya.
"Meskipun secara agama?" tanya Ibu geram.
"Ibu Diaaa..."
"Cukup kavita, Apa yang kamu harapkan dari Pria itu?"
Jika dia bersungguh-sungguh padamu Dia akan memberimu kepastian meskipun hanya menikah secara agama, tapi apa yang Dia lakukan, bahkan menemui Ibu dalam tiga tahun ini pun bisa dihitung dengan jari." ucap Ibu kesal.
Kavita tidak bisa menjawab ucapan Ibunya.
"Kamu benar-benar salah mengambil keputusan Kavita, kamu menyia-nyiakan kesempatan mu menjadi Nyonya Faraz Shehzad Shaikh demi pria yang tidak berguna itu." ucap Ibu lalu pergi meninggalkan Kavita dengan kesal.
Kavita menoleh kearah pintu dan ternyata Dev mendengar perkataan Ibu.
Dev terlihat sangat marah dan langsung pergi meninggalkan rumah Kavita,
Kavita pun berlari mengejarnya.
"Dev... Dev... Tunggu..." ucap Kavita meraih tangan Dev.
"Aku paling tidak suka jika di banding-baning kan Kavita, apa lagi yang mengatakan Ibu mu dan membandingkan ku dengan Faraz!" hardik Dev.
"Kenapa kamu marah, buktikan jika perkataan Ibu ku salah,"ucap kavita.
"Jadi kamu juga membenarkan perkataan Ibu mu?" tanya Dev kesal.
"Aku tidak ingin membenarkannya, tapi kenyataan nya sekarang seperti itu." ini Kavita juga ikut kesal.
"Seharusnya selesaikan dulu masalahmu dengan mantan suami mu itu, baru kalian bisa menyalahkan ku!" ucap Dev lalu pergi meninggalkan Kavita dengan kemarahan nya.
Kavita hanya menatap kepergian Dev dengan kekesalan yang sama.
Faraz tiba di bandara internasional Soekarno Hatta.
Ia menghentikan langkahnya karna mengingat kembali pertemuan terakhirnya dengan Kavita,
Faraz memutar tubuhnya dan kembali melangkah masuk kedalam, namun Ia kembali menghentikan langkahnya karena mengingat perkataan Ayahnya jika Ibu sedang sakit,
Faraz pun mengurungkan niatnya dan kembali melangkah keluar.
Faraz menghelai nafas panjang menenangkan hati dan Fikiran nya.
Dengan menutupi wajah menggunakan jaketnya, Faraz pun masuk ke salah satu restoran yang ada di dalam bandara.
"Faraz Shehzad Shaikh," lirih Alia melihat Faraz datang.
Alia masih bisa mengenali Faraz meskipun sebagian wajahnya di tutupi.
Faraz memilih tempat duduk paling pojok dan jauh dari pengunjung lain.
karna karyawan lain sedang sibuk melayani pengunjung yang lain, Alia pun menghampiri Faraz untuk menawarkan menu makanan untuk nya.
"Aku tidak ingin makan apapun." ucap Faraz tanpa melihat Alia.
"Mungkin Anda ingin minum sesuatu?" tanya Alia lagi.
"Apa Aku tidak boleh duduk saja tanpa memesan makanan atau minuman?" ucap Faraz langsung bangun dan menatap Alia.
__ADS_1
Mata keduanya bertemu, untuk beberapa saat mereka terdiam dengan tatapan mereka.
"tunggu! Sepertinya Aku pernah melihat mu," ucap Faraz mulai mengingat.
"Aku yang waktu itu ingin mengembalikan cincin mu." ucap Alia mengingatkan Faraz.
Faraz menjadi sangat kesal karena Alia kembali mengingatkan cincin itu dan membuatnya kembali mengingat Kavita.
"Bisakah Kau menjauh dari ku dan berhenti mengingatkan Aku tentang cincin itu!" ucap Faraz yang terlihat sangat marah.
"Apa maksud mu, Kamu yang terus datang di hadapan ku, bahkan sekarang pun kamu datang di tempat ku bekerja." tegas Alia.
"Apa! Ini tempat mu bekerja?
Jadi kamu hanya seorang pelayan di restoran ini?" ucap Faraz dengan tawa mengejek.
"kenapa, Apa salahnya bekerja sebagai pelayan?
Jika tidak ada pelayan seperti kami, bisakah orang-orang seperti mu makan, minum dan melakukan pekerjaan sendiri?" Alia menjeda ucapanya.
"Dan lagi pula Aku senang bekerja sebagai pelayan seperti ini, Aku bisa menghasilkan uang sendiri tanpa harus memanfaat kan orang-orang kaya seperti mu," lanjut Alia.
Faraz terdiam dan mengingat selama ini para wanita mendekatinya hanya karna uang dan ketenarannya.
"Apa kamu tersinggung?" tanya Alia sinis.
Faraz mengeluarkan botol minumannya dari dalam rangselnya.
"Eeeehhhh... Bagaimana kamu bisa lolos dari pemeriksaan?" tanya Alia.
"Apa?" tanya Faraz dengan tatapan kesalnya.
"Itu minuman mu?" jelas Alia.
"Tidak ada seseorang pun yg bisa menghentikan ku," ucap Faraz lalu menenggak minumannya.
"Disini dilarang minum, kumohon hentikan ini dan pergilah sekarang juga," ucap Alia kesal.
"Apa Kau mengusir ku?" tanya Faraz kesal.
"Ya! Karena Aku tidak ingin ada orang mabuk disini." tegas Alia.
"apa kamu ingin Aku memanggil meneger mu dan meminta agar memecat mu sekarang juga?" ancam Faraz.
"Baiklah terserah kamu saja." ucap Alia lalu meninggalkan Faraz dengan kesal.
__ADS_1
Faraz yang terus menutupi wajahnya dengan jaketnya membuat orang tidak menyadari kehadirannya di restoran tersebut.
Malam pun semakin larut, pengunjung mulai sepi.
Alia melihat Faraz yang sudah mulai mabuk.
Kini para karyawan pun mulai pulang.
"Alia.. kenapa dengan pengunjung itu, Restoran kita sudah hampir tutup tapi kenapa Dia masih belum pulang juga?" tanya salah satu teman Alia.
"Aku akan menyuruhnya pulang." ucap Alia.
"baiklah kalau begitu Aku pulang dulu." ucap teman Alia.
"Ua baiklah," ucap Alia mengangguk.
Kini hanya tinggal Alia dan Faraz di restoran tersebut.
Alia menghelai nafas panjang dan melangkah ke meja Faraz.
"Tuan Faraz Shehzad Shaikh restoran kami sudah akan tutup, jadi pulang lah." tegas Alia.
Faraz yang membungkuk dengan kepala tertelungkup di atas meja tak merespon ucapan Alia.
Alia melangkah lebih dekat lagi dan berdiri di samping Faraz
"Tuan Faraz..." Alia mengayunkan pundak Faraz.
Faraz mengangkat kepalanya dan kehilangan keseimbangan.
"Eee... Eeeehhhh..." Alia menahan tubuhnya hingga kepala Faraz tertahan di perut Alia.
Alia menjadi gugup dan tidak tau apa yang harus ia lakukan.
"Tuan Faraz... Tuan Faraz..." Alia coba menyadarkannya namun Faraz tetap diam di perut Alia tanpa reaksi.
Alia nenundukan kepalanya untuk melihat wajah Faraz.
Dengan ragu-ragu Alia memegang wajah nya, hatinya semakin berdebar kencang saat Alia sedikit mengangkat kepala Faraz keatas, Alia menatap wajah Faraz yang ternyata Faraz sudah tidak sadarkan diri.
Alia semakin terenyuh melihat Air mata membasahi pipinya.
"Ternyata dibalik sikap pemarahnya dan kesombongannya tersimpan luka didalam hatinya." batin Alia
"Aku sudah meminta mu untuk tidak minum, tapi kau terus saja minum,
Sekarang lihatlah keadaan mu, Kau tidak sadarkan diri, sekarang katakan apa yang harus kulakukan?" omel dalam ketidak sadaran Faraz.
__ADS_1
Bersambung...