Pernikahan Tanpa Hati

Pernikahan Tanpa Hati
Bab 10 Kenapa harus marah?


__ADS_3

Seminggu sudah Ganesha berada di luar negeri. Seminggu itu pula Shopia merasakan sedikit kebebasan. Untuk menghilangkan suntuknya dia akhir pekan, Shopia mengunjungi mertuanya. Mereka memasak dan membuat kue bersama.


Shopia sangat bersyukur memiliki ibu mertua yang baik dan seperti seorang sahabat. Karena Prada tidak pernah sungkan untuk bercerita apapun yang terjadi padanya. Membuat Shopia merasa nyaman berada di dekat ibu mertuanya.


"Shopia, nanti kue cokelat lavanya dibawa pulang ya! Barangkali Anez pulang hari ini. Dia pasti senang memakan kue kesukaannya," ucap Prada saat mereka baru saja selesai membuat kue.


"Iya, Mah. Seharusnya sih hari ini. Tidak tahu kalau diundur," ucap Shopia.


"Biasanya Anez tepat waktu."


"Kalau begitu, aku pulang sekarang saja, Mah. Takut Mas Anez sudah pulang."


"Nanti diantar Pak Cipto saja."


"Baik, Mah. Terima kasih." Shopia tidak lupa mencium punggung tangan ibu mertuanya sebelum dia pulang.


Jarak rumahnya dengan rumah sang mertua memang tidak begitu jauh, sehingga tidak butuh waktu lama untuk Shopia sampai di rumahnya. Namun, saat sampai di rumah, dia sangat terkejut melihat Ganesha sedang duduk di teras.


"Dari mana saja kamu? Sudah tahu suami pulang, tapi kamu malah keluyuran," sentak Ganesha.


"Tadi main ke rumah mama. Nih aku bawakan cokelat lava. Kata Mama kesukaan Mas Anez." Shopia menunjukkan paper bag yang dibawanya.


"Bukan itu yang aku inginkan," tolak Ganesha seraya mendekat ke arah Shopia.


"Mas Anez udah gak suka lagi. Padahal tadi mama sengaja bikin cokelat lava. Sekalian aku belajar," terang Shopia.


Ganesha hanya menggelengkan kepalanya, lalu dia berbisik di telinga istrinya, "Aku ingin makan kamu bukan kue itu. Cepat bersihkan badanmu!"


Shopia yang mengerti dengan keinginan suaminya hanya tersenyum samar. Dia tidak mengerti dengan sikap Ganesha. Mulutnya selalu menyakitinya, tetapi tubuhnya, selalu memujanya. Membuat Shopia ikut menikmati setiap permainan Ganesha.


"Shopia, kenapa lama sekali mandinya?" tanya Ganesha dengan menerobos masuk ke kamar mandi.


Hasratnya semakin menggebu, saat melihat Shopia yang sedang membilas tubuhnya di bawah guyuran air shower. Dia langsung melucuti pakaiannya dan segera memojokkan Shopia ke dinding. Ganesha langsung meraup bibir ranum Shopia dengan tangan yang memainkan squisy. Merasa kurang nyaman dengan posisi berdiri, dia pun segera membopong Shopia dan membawanya ke tempat tidur. Akhirnya, setelah bermain satu jam barulah Ganesha mendapatkan pelepasannya.


Namun, laki-laki itu merasa masih belum puas jika hanya sekali mendapatkannya. Dia pun kembali menggempur Shopia lagi dan lagi. Sampai saat tiga kali pelepasan, barulah Ganesha ambruk di atas tubuh wanita cantik itu.

__ADS_1


"Shopia, kamu semakin pintar. Apa selama aku gak ada, kamu belajar pada orang lain?"


"Mas, bisa tidak berbicara baik padaku? Kalau Mas Anez ingin aku belajar pada laki-laki lain. Baiklah, aku akan mencobanya. Aku menyesal sudah menuruti semua kata-katamu, jika pada akhirnya, kamu tidak percaya padaku."


"Coba saja kalau berani. Akan aku potong sosis laki-laki itu, lalu aku berikan pada anjing tetangga." Ganesha langsung turun dari tubuh Shopia dan berbaring di samping wanita itu dengan pandangan menatap lurus ke langit-langit kamar.


"Kenapa harus marah, Mas? Bukankah Mas Anez tidak mencintai aku? Tapi tenang saja! Aku belum pernah mencobanya dengan laki-laki lain. Hanya Mas Anez yang sudah menyentuhku," ucap Shopia dengan mengelus lembut dada pria tampan itu.


"Shopia, apa kamu sedang menggodaku?"


"Tidak, aku hanya sedang membuat jejak. Saat nanti kita berpisah, aku akan ingat pernah mengelus dada Mas seperti ini." Shopia tersenyum nakal di depan Ganesha. Shopia penasaran bagaimana dengan reaksi laki-laki itu.


"Shopia, kamu pintar sekali bicara ah ...." Ganesha akan menarik Shopia untuk menggempurnya kembali. Namun wanita itu langsung bangun dan berlari menuju ke toilet.


"Maaf Mas aku kebelet mau pup," teriak Shopia.


"Shitt! Dia sengaja mempermainkan aku. Ah sialan! Kamu berdiri tegak."


Ganesha segera beranjak menuju ke kamar mandi. Dia terpaksa harus bermain solois untuk menidurkan adiknya. Sementara Shopia cekikikan dalam hati mendengar suara-suara lucknut Ganesha. Apalagi saat laki-laki itu melenguh panjang memanggil namanya.


Bukan hanya kamu yang bisa mempermainkan aku, Mas. Tapi aku pun bisa. Baiklah, Mas! Ayo kita lihat, sejauh mana Mas terus memungkiri aku.


Malam harinya, mereka makan makan dalam diam. Ganesha jadi mendiamkan Shopia karena kesal sudah dipermainkan. Sementara Shopia, wanti-wanti takut laki-laki itu akan membalasnya.


Ting tong ting tong


Bi Sari yang sedang di dapur langsung beranjak ke pintu depan. Terlihat Piero yang tersenyum ramah pada wanita paruh baya. Laki-laki itu datang dengan seorang gadis cantik. Begitupun dengan Bi Sari yang langsung mengenali sahabat majikannya.


"Silakan masuk, Den, Non!"


"Makasih, Bi! Anez sudah pulang, kan?"


"Sudah! Den Anez masih makan. Nanti Bibi sampaikan kalau Den Piero datang."


"Baiklah, Bi. Boleh aku duduk?"

__ADS_1


"Tentu saja boleh Den. Maaf Bibi lupa mempersilakan duduk. Mau minum apa, Den?"


"Kopi saja. Kamu apa Eliza?"


"Samakan saja, Bi."


Bi Sari pun langsung masuk ke dalam. Dia menghampiri Ganesha, sebelum pergi ke dapur untuk membuatkan minum.


"Permisi, Den! Di depan ada Den Piero dan temannya."


"Iya, Bi!" sahut Ganesha.


Laki-laki itu langsung menatap lekat Shopia yang masih asyik dengan makanannya. Dia ingin tahu mimik wajah Shopia saat mendengar Piero datang berkunjung. Sepertinya, Shopia tidak berekspresi apapun, selain asyik menikmati makanannya.


"Shopia, aku sudah selesai," ucap Ganesha seraya berdiri.


Shopia tidak menyahut karena mulutnya penuh dengan makanan. Dia hanya menganggukkan kepalanya dan melihat kepergian Ganesha sampai menghilang di balik pintu.


Sepertinya dia marah sama aku karena tadi. Tapi sudahlah, lebih baik aku ke kamar dan menonton drama daripada ikut bergabung tapi hanya jadi manekin.


Saat dia sudah selesai menikmati makanannya. Shopia langsung membereskan makanan yang ada di meja makan. Setelah semuanya beres, dia mengintip sedikit apa yang suami dan temannya lakukan. Dia hanya tersenyum kecut saat melihat kehangatan Ganesha pada gadis cantik yang ada di sana. Apalagi, gadis itu terlihat bersikap manja pada suaminya.


"Biarkan saja, Shopia. Bukankah dalam perjanjian, kalian hanya suami istri di atas tempat tidur. Kamu tidak boleh cemburu, melihat Anez dekat seperti itu dengan wanita lain," gumam Shopia.


Dia langsung beranjak pergi menuju ke kamarnya. Menyalakan televisi dan mencari saluran yang disukainya. Setelah menemukannya, barulah dia terhanyut dengan tontonan yang disuguhkan.


Satu jam


Dua jam


Ganesha baru datang ke kamarnya. Dia tertegun melihat istrinya yang tertawa melihat acara televisi, tapi kenapa tawanya bukan tawa bahagia. Melainkan tertawa sumbang orang yang sedang menertawakan dirinya sendiri.


Apa yang dia lakukan? Kenapa aku merasa linu mendengar tawanya? Apa aku sudah keterlaluan membalas sakit hatiku?


...~Bersambung~...

__ADS_1


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, gift, vote dan favorite....


...Terima kasih....


__ADS_2