Pernikahan Tanpa Hati

Pernikahan Tanpa Hati
Bab 7 Kedatangan Mama Mertua


__ADS_3

Bukan hanya Dokter Lucky yang datang ke rumah baru Shopia, tetapi Nyonya Prada pun ikut datang. Dia langsung bergegas saat diberitahu oleh Bi Sari kalau menantunya sedang sakit. Sungguh, Nyonya Prada merasa khawatir, jika putranya berbuat kasar pada Shopia.


"Bi Sari, bagaimana keadaan Shopia?" tanya Prada setibanya dia di rumah putranya.


"Sekarang sedang istirahat, Nyonya. Tadi habis minum obat, mungkin karena efek obat jadi tertidur," jawab Bi Sari.


"Apa Anez berbuat kasar pada Shopia?"


"Bibi tidak tahu. Hanya saja, tadi malam Den Anez pulang mabuk. Dia teriak-teriak memanggil Non Shopia."


"Oh, ke atas dulu ya, Bi. Aku mau melihat keadaan Shopia dulu."


"Baik, Nyonya! Apa perlu saya bawakan minum untuk Nyonya ke atas?"


"Boleh deh, Bi. Es lemon tea saja," ucap Prada lalu pergi meninggalkan Bi Sari.


Tidak bisa dipungkiri, hatinya was-was khawatir Ganesha melakukan kekerasan fisik pada menantunya. Karena sebagai seorang ibu, tentu dia sudah hapal benar dengan watak putra semata wayangnya.


Perlahan Prada membuka pintu kamar yang ditempati oleh Shopia. Untuk sesaat, dia tertegun di tempatnya saat melihat foto prewedding Ganesha dengan Dora masih terpajang di tempatnya. Dia ingin segera menurunkan foto itu. Tapi sudah pasti akan mengganggu tidur menantunya. Akhirnya, Prada memutuskan untuk menunggu kedatangan Ganesha dari kantor.


"Kasian sekali gadis ini. Wajahnya sampai pucat begitu. Anez Anez, katanya tidak mau menikah dengan Shopia tapi lihat kelakuan dia, bercak merah di mana-mana. Yang sabar Shopia, Mama yakin kalau Anez akan luluh sama kamu. Tinggal kamu harus belajar untuk memegang kendali suami kamu," gumam Prada.


Tidak berapa lama kemudian, Bi Sari datang dengan nampan di tangannya. Wanita paruh baya itu segera menyimpan minuman pesanan majikannya. Kemudian dia pun kembali ke dapur untuk memasak makan siang. Kini tinggallah Prada yang duduk sendiri di sofa seraya menonton televisi.


Lama dia memainkan ponselnya, sampai akhirnya Shopia terbangun dari tidurnya. Dia mencoba untuk bangun karena badannya sudah merasa lebih baik. Shopia sempat terkejut saat melihat mertuanya sedang duduk di sofa depan televisi.


"Mama, kapan datang?" tanya Shopia.


"Tadi. Mama datang, saat kamu sedang tidur. Bagaimana keadaan kamu? Apa sudah baikan?" tanya Prada seraya menghampiri Shopia.

__ADS_1


"Lumayan, Mah. Kepalaku sudah tidak pusing seperti tadi. Mama tahu dari siapa kalau aku sakit?"


"Apapun yang terjadi di rumah ini, pasti Mama tahu. Oh iya, apa Anez bersikap kasar padamu?"


"Ti-tidak, Mah. Aku hanya kelelahan kemarin beres-beres di kamar," kilah Shopia.


"Jangan menyembunyikan apapun dari Mama ya! Apalagi saat Anez menyakiti kamu. Dia terlihat tenang, tapi saat merasa terusik pasti akan menyerang balik." Prada menarik napas sejenak sebelum dia melanjutkan ucapannya.


"Shopia, jangan merasa sungkan sama Mama. Kalau ada hal yang ingin kamu katakan tentang Anez, bicara saja!"


"Iya, Mah. Terima kasih! Aku pasti akan mengatakannya pada Mama."


Bagaimana bisa aku mengadukan kelakuan putranya. Kalau Mama begitu baik padaku. Meskipun aku belum lama mengenalnya, tapi aku merasa sangat nyaman berada di dekatnya. Aku harus kuat, aku harus mencari cara agar Anez benar-benar menghilangkan kebenciannya padaku. Ayolah Shopia berpikir, cari cara agar bisa menaklukkan keangkuhan Ganesha, batin Shopia.


"Sophia, kita duduk di sofa saja, Yuk! Tadi Mama sudah menyuruh Mang Udin untuk menurunkan foto itu. Maaf ya, Mama tidak mengecek rumah ini lagi sebelum kalian tempati. Sampai lupa kalau foto itu belum diturunkan," sesal Prada.


"Kamu jangan khawatir, Mama yang akan tanggung jawab."


Benar saja, kedua wanita cantik itu memilih mengobrol di sofa setelah Shopia meminta ijin untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu. Sementara orang suruhan Prada sudah selesai menurunkan foto yang berukuran besar. Sampai tanpa terasa, sudah memasuki jam makan siang. Mereka pun memilih untuk turun dan menikmati makan siang di gazebo.


Saat keduanya sedang asyik mengobrol seraya menikmati makan siang mereka, terlihat Ganesha datang dan langsung bergabung dengan istri dan mamanya. Meskipun dia tidak bisa menyembunyikan kekagetannya saat melihat wanita yang sudah melahirkannya ada di sana.


"Mama, kapan datang?"


"Tadi pagi. Mungkin kamu sudah berangkat kerja," jawab Prada.


"Apa yang sedang Mama makan?" tanya Anez lagi. Dia selalu penasaran dengan makanan yang mamanya makan.


"Gado-gado, kalau kamu mau, minta saja ke Bi Sari!" suruh Prada cuek.

__ADS_1


"Bukankah tugas istri untuk menyiapkan makanan suaminya?"


"Sebentar, Mas. Aku ambilkan," ucap Shopia.


"Tidak usah Shopia! Biar Anez ambil sendiri. Kamu tuh, istri lagi sakit masih saja menyuruh istri kamu untuk melayani. Apa selama ini kamu pernah melihat, papa menyuruh Mama saat Mama lagi sakit? Belum pernah kan? Papa emang tegas dan keras dan tapi dia sangat menghargai perempuan. Mama tidak ingin mendengar ada kekerasan dalam rumah tangga anak Mama. Meskipun kamu tidak bisa menerima kehadiran istrimu, setidaknya kamu jangan menyakitinya secara lahir dan batin," cerocos Prada.


Ganesha hanya diam mendengarkan apa yang mamanya katakan. Karena memang ada benarnya juga. Selama ini, dia belum pernah melihat papanya bersikap kasar pada mamanya. Padahal yang dia tahu, papanya terkadang tidak memberi ampun pada lawan bisnisnya yang bersikap curang.


"Iya, Anez ambil sendiri." Ganesha langsung pergi menuju ke dapur.


Dia terus memikirkan apa yang mamanya katakan. Meskipun hatinya tidak menyalahkan seratus persen pada Shopia, tetapi egonya terus saja merongrongnya agar memberikan pelajaran pada gadis itu.


"Ingat Shopia, kalau Anez bersikap kasar, langsung bilang sama Mama ya!" pesan Prada setelah kepergian Ganesha ke dapur.


"Iya, Mah. Sepertinya Mas Anez sangat nurut sama Mama," tebak Shopia dengan terus melihat punggung kokoh suaminya yang menghilang di balik pintu.


"Anez sebenarnya anak yang penurut. Tapi entah dapat pengaruh dari siapa, dia jadi suka menentang keputusan Mama dan Papa."


"Begitu ya, Mah."


"Sebenarnya pesta lajang itu sudah Mama larang tapi dia tetap memaksa. Akhirnya, dia sendiri kan yang kena getahnya. Tapi Mama senang, dia tidak jadi menikah dengan Dora dan malah menikah dengan kamu," ucap Prada dengan tersenyum puas.


Apa Mama sebenarnya kurang setuju Mas Anez menikah dengan Dora. Bukankah mereka berpacaran sudah lama? Saat pertama kali aku kenal Dora, mereka sudah berpacaran. Salah aku telah menyukai laki-laki asing yang tidak aku kenal. Tapi saat aku tahu kalau Mas Anez pacar Dora, aku pun cepat-cepat mengubur perasaanku padanya, batin Shopia.


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, gift, vote dan favorite....


...Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2