Pernikahan Tanpa Hati

Pernikahan Tanpa Hati
Bab 15 Mendadak Berubah


__ADS_3

Perasaan kesal, kalut dan senang bercampur jadi satu saat melihat kedatangan istrinya. Ganesha sampai bingung harus mengekpresikan perasaannya. Ingin dia memeluknya, tapi dia khawatir Shopia akan besar kepala karena dia khawatirkan. Akhirnya, Ganesha hanya membawa Shopia masuk ke dalam ruangan.


"Shopia, dari mana kamu semalam? Kenapa tidak menungguku? Apa kamu cemburu melihat aku berdansa dengan Eliza?"


"Aku hanya ingin memberi Mas Anez kesempatan untuk bersenang-senang. Bukankah kalau bersamaku bukan hal yang menyenangkan karena aku hanya pembawa sial. Mas Anez pun sebaiknya segera melepaskan aku, agar tidak tertular kesialan aku," sarkas Shopia.


"Kamu terlalu banyak bicara, Shopia. Lebih baik cepat siapkan air mandi untukku!" suruh Ganesha.


Shopia tidak menyahut apa yang Ganesha katakan. Dia langsung berlalu pergi menuju ke kamar mandi. Siapnya air hangat dalam bathtub, lalu dia pun memberikan sabun dan aroma terapi, agar merilekskan pikiran.


Tidak berapa lama kemudian, Ganesha datang menyusul. Dengan tidak tahu malu, dia melucuti semua pakaiannya di depan Shopia. Tentu saja membuat Shopia menundukkan kepalanya. Meskipun mereka sudah sering melakukan hubungan suami istri, tetapi Shopia masih malu jika melihat tubuh toples Ganesha.


"Shopia, pijat kepalaku! Gara-gara semalaman mencari kamu aku jadi tidak tidur. Menyusahkan saja," gerutu Ganesha.


Siapa juga yang menyuruh cari? Salah sendiri kenapa meninggalkan istri sendirian, sementara dia bersenang-senang dengan wanita lain. Dia pikir aku robot yang tidak memiliki perasaan, batin Shopia.


Mendapatkan pijatan dari istrinya, perlahan Ganesha memejamkan matanya. Dia memang sangat mengantuk karena belum tidur dari semalam. Ditambah lagi wangi aroma terapi menenangkan dan pijatan Shopia yang pas, membuat Ganesha cepat terlelap.


Awalnya Shopia tidak menyadari kalau Ganesha tertidur. Akan tetapi, dia mendengar suara dengkuran halus suaminya. Shopia pun langsung menghentikan pijatannya.


Kalau tertidur seperti ini, air mukanya terlihat sangat damai. Menenangkan hati yang melihatnya. Tapi saat kedua matanya sudah terbuka, dia seperti singa kelaparan setiap kali melihatku. Sadar Shopia, kamu tidak boleh mencintainya. Hatinya tidak mungkin bisa kamu gapai, batin Shopia.


Shopia sengaja menjaga suaminya tertidur di bathtub. Setelah satu jam, barulah dia membangunkan Ganesha. Shopia khawatir laki-laki itu akan masuk angin jika terlalu lama berendam. Meskipun airnya selalu hangat karena Shopia terus menjaganya agar tidak dingin


"Mas, Mas Anez. Bangun! Jangan terlalu lama berendam!" Shopia menggoyangkan badan Ganesha pelan.


Perlahan laki-laki tampan itu membuka matanya. Dia sedikit memicing untuk menyesuaikan cahaya yang masuk. "Aku tertidur di kamar mandi?" tanyanya.


"Iya, Mas. Cepat bilas! Aku mau siapkan bajunya," suruh Shopia seraya berlalu pergi.


Ganesha langsung saja membilas badannya. Kepalanya sudah tidak terlalu pusing. Meskipun hanya tidur satu jam, badannya menjadi lebih segar. Dia langsung ke kamar pribadinya, terlihat di sana Shopia sedang duduk di tepi tempat tidur dengan baju ganti Ganesha di sampingnya.


"Shopia, carikan baju santai! Aku mau istirahat saja," suruh Ganesha seraya mendudukkan bokongnya di tepi tempat tidur.

__ADS_1


"Iya, Mas." Shopia langsung mengambil baju Ganesha yang tersimpan di lemari.


Setelah dia mendapatkan kaos berkerah dan celana cargo pendek, Shopia pun segera kembali menemui suaminya. "Ini, Mas bajunya."


"Shopia, pakaikan bajuku! Badanku lelah sekali setelah semalaman berkeliling mencari kamu." pinta Ganesha.


Yang benar saja minta dipakaikan? Memang butuh tenaga berapa?


Meskipun hatinya terus menggerutu, tak urung dia memakaikan baju suaminya. Dia hanya mengikuti apa yang Ganesha perintahkan. Selesai memakaikan baju pada Ganesha, Shopia berniat untuk pergi dari kamar itu. Tetapi Ganesha dengan cepat menahan tangannya.


"Mas, aku keluar dulu. Perutku lapar sekali," ucap Shopia.


"Baiklah, tapi jangan lama. Carikan sarapan untuk aku juga."


Ada apa dengan dia? Kenapa mendadak berubah? Apa mungkin kesurupan?


Shopia terus saja memikirkan perubahan Ganesha. Dia merasa heran pada laki-laki itu yang tiba-tiba saja berubah. Sampai saat dia akan masuk ke dalam lift, tanpa sengaja bersamaan dengan Eliza yang juga akan masuk ke dalam lift.


"Shopia, semalam kamu pergi ke mana? Merepotkan saja," tanya Eliza.


"Kenapa tidak bilang dulu kalau pulang. Biar orang lain tidak usah mencari kamu. Tahu sopan santun, kan? Kalau datang bertamu ke rumah orang, bukannya harus ijin dulu sama yang punya rumah kalau mau pulang? Bukannya asal keluar masuk rumah orang."


"Iya, Aku mengerti. Maaf kalau membuat kamu mencari aku," sesal Shopia.


"Apa kamu cemburu, melihat aku dan Ganesha? Asal kamu tahu ya! Kamu tidak pantas menjadi istrinya. Lagi pula, Anez secepatnya akan menceraikan kamu. Lebih baik kamu bersiap dari sekarang. Agar saat dia mencampakkan kamu, sudah ada tempat untuk kamu tuju."


"Terima kasih sudah mengingatkan aku. Memang siapa yang pantas untuk menjadi istri Mas Anez? Mbak Eliza kah?"


"Tentu saja gadis yang jauh lebih baik dari kamu. Yang memiliki keluarga terpandang sepertiku. Sementara kamu, asal usul kamu saja gak jelas."


Ting


Beruntung pintu lift sudah terbuka. Tanpa berpamitan pada Eliza, Shopia langsung bergegas pergi meninggalkan gadis itu. Dia tidak peduli dengan apa yang akan Eliza pikirkan tentangnya.

__ADS_1


Shopia langsung menuju ke Kafetaria. Dia memesankan makanan untuknya dan juga Ganesha. Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, Shopia pun kembali ke ruangan suaminya. Baru saja Shopia akan membuka pintu ruangan Ganesha, terdengar suara ada orang yang memanggilnya.


"Shopia tunggu! Apa Anez sakit?" tanya Piero cemas.


"Dia hanya butuh istirahat, Mas. Mungkin sekarang sedang tidur di dalam. Mau menengoknya?"


"Bukan mau menengoknya tapi dia harus meeting bulanan dengan karyawan tiga puluh menit lagi."


"Oh, begitu. Ayo masuk saja, Mas!" ajak Shopia seraya membuka pintu.


Kedua orang itu pun masuk ke dalam ruangan Ganesha. Terlihat laki-laki itu sudah rapi dan duduk di kursi kebesarannya. Alisnya bertautan melihat kedatangan Shopia dan Piero yang datang bersamaan.


Katanya mau istirahat tapi sudah kerja saja, batin Shopia.


"Dari mana kalian?"


"Aku beli sarapan. Bukannya tadi Mas minta dibelikan sarapan?" jawab Shopia.


"Kata istrimu, kamu mau istirahat. Tiga puluh menit lagi kita meeting Anez. Aku sudah menyiapkan berkasnya," ucap Piero


"Badanku lemas. Aku pun tidak punya tenaga untuk menyuapkan makanan ke mulutku. Shopia, kamu harus menyuapi aku makan dulu. Biar aku memiliki sedikit tenaga."


Shopia tidak menyahut ucapan suaminya. Dia melihat ke arah Piero yang langsung mendapatkan anggukan dari laki-laki itu. Karena Piero tahu, Ganesha memang suka manja kalau dia merasa tidak enak badan.


"Shopia, apa kamu tidak mau berbakti pada suami kamu?" tanya Ganesha karena Shopia malah diam di tempatnya.


"Iya, Mas. Aku mau menyuapi Mas Anez. Bagaimana kalau duduknya di sofa saja biar lebih mudah buat aku menyuapi."


"Tidak, di sini saja. Aku sedang mengecek e-mail yang masuk."


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, gift, vote dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih....


__ADS_2