
Lama Zara bermain di rumah Shopia, mereka berdua saling bercerita semua hal yang terjadi saat keduanya tidak bersama. Sesekali Sania pun ikut menimpali obrolan kedua sahabat itu.
"Zara, kita ngobrol ke sana ke mari tapi kamu belum kenalan dengan benar pada Sania," ucap Shopia. "Sania ini calon istrinya Mas Piero. Nanti kamu datang ya, acara nikahan mereka."
"Kamu yang jadi ibu hajatnya emang?"
"Ya enggaklah! Aku hanya pengiring pengantin," elak Shopia.
"Kalau Sania yang undang atau Mas Piero yang undang, aku pasti datang. Kalau kamu yang undang, aku malu datangnya."
"Kalau acaranya jadi, nanti Mbak Zara datang saja," timpal Sania
"Baiklah, Sania! Kalau kamu menikah aku pasti datang."
Baru saja Zara selesai bicara, terdengar suara deru mobil masuk ke halaman rumah Shopia. Ibu hamil itu langsung bangun dari duduknya, karena dia sangat hapal siapa pemilik mobil.
Terlihat Ganesha keluar bersama Piero. Kedua pria tampan itu tersenyum melihat wanita yang mereka cintai sudah menyambut kedatangannya. Namun, senyum itu mendadak luntur, kala melihat Zara berada di antara mereka.
"Zara, apa kamu tidak kerja?" tanya Ganesha saat Shopia mencium punggung tangannya.
"Aku cuti, Tuan." Zara cengengesan menjawab pertanyaan bosnya.
"Kamu mengambil cuti, hanya untuk bermain dan memprovokasi istriku?" tanya Ganesha merasa tidak percaya dengan apa yang sahabat istrinya pikirkan.
"Tuan Anez yang terhormat, Anda terlalu banyak berpikir. Aku hanya kangen dengan sahabat aku. Sudah lama sekali tidak bertemu dengan Shopia dan keponakan aku," jawab Zara tanpa ada takut sedikitpun pada Ganesha.
"Boleh saja kamu bertemu Shopia, tapi jangan pernah berpikir untuk membawanya kabur lagi," sarkas Ganesha.
"Anda terus saja salah paham Tuan." Cebik Zara.
Shopia hanya tersenyum melihat perdebatan sahabat dan suaminya. Karena memang dialah yang menjadi penyebab perdebatan itu. Akhirnya dia pun angkat bicara untuk melerainya.
"Sudah, Mas. Jangan dibahas lagi! Yang penting aku baik-baik saja dan bisa bersama dengan Mas lagi. Ayo masuk ke dalam! Masa berdiri di teras seperti ini," ujar Shopia.
Ganesha langsung merangkul istrinya dan membawa Shopia masuk ke dalam. Begitupun dengan yang lain mengekor mereka dari belakang. Zara dan Sania kembali duduk di sofa, sedangkan Ganesha membawa istrinya menuju ke kamar mereka.
Ingin rasanya Ganesha mengurung Shopia di kamar. Dia merasa was-was kalau Shopia terlalu dekat dengan Zara. Karena dia berpikir, pasti Zara yang sudah menghasut Shopia agar pergi dari rumah.
"Shopia, hari ini kepala Mas pusing, bisa pijat sebentar." Ganesha memasang wajah melas saat dia sudah sampai di kamarnya.
__ADS_1
"Sudah minum obat belum, Mas?" tanya Shopia dengan menyimpan tas kerja Ganesha yang dibawanya.
"Belum, nanti juga sembuh kalau sudah kamu pijat."
Kenapa aku jadi curiga kalau itu hanya akal-akalan dia saja. Agar aku tidak bersama dengan Zara, batin Shopia.
"Sebentar ya, Mas. Aku ambilkan minum dulu, Mas istirahat saja dulu di sini," Shopia.
"Ya sudah. Jangan lama ya!" pesan Ganesha.
"Iya, Mas." Shopia pun segera kembali ke bawah.
Dia ingin mengatakan pada sahabatnya kalau sedikit lama di atas. Namun, saat dia sampai di ruang tamu, terlihat Zara yang sudah bersiap untuk pulang. Sepertinya Zara mengerti kalau Ganesha kurang menyukaiya.
"Shopia, aku pulang dulu ya! Nanti aku main lagi ke sini," pamit Zara.
"Maaf ya Zara, kalau kamu merasa kurang nyaman dengan Mas Anez."
"Tidak apa. Aku mengerti kho dengan sifat suami kamu. Jaga diri baik-baik ya, dadah debay! Aunty pulang dulu," ucap Zara dengan mengelus perut Shopia yang sudah terlihat buncit.
Shopia pu mengantar Zara sampai sahabatnya itu naik taksi, karena Gio tidak bisa menjemput istrinya. Setelah kepergian sahabatnya, barulah dia ke dapur untuk mengambil air.
"Mas, ini minumnya!"
Ganesha langsung membuka matanya dan melihat ke arah istrinya. Dia segera membenarkan duduknya dan mengambil gelas yang siberikan oleh Shopia.
"Apa Zara sudah pulang?"
"Sudah, Mas. Kenapa?"
"Tidak apa. Mas hanya minta jangan terpengaruh oleh dia," ucap Ganesha dengan menatap lekat istrinya.
"Tidak, Mas. Zara tidak pernah mempengaruhi aku. Dia tidak pernah memaksa aku atau menyuruh aku pergi dari Mas. Dia hanya suka menjaga aku dan mengulurkan tangannya setiap kali aku butuh pertolongan. Mas jangan salah paham sama dia," ungkap Shopia
"Baiklah! Jadi kan pijat Mas-nya? Nanti gantian Mas yang pijat kamu. Bukankah kalau lagi hamil suka pegal-pegal kakinya?"
"Iya sih, Mas. Tapi kan gak ada yang mau pijat aku."
"Nanti Mas yang pijat kamu."
__ADS_1
Shopia tersenyum mendengar apa yang Ganesha katakan. Hatinya menghangat karena ternyata Ganesha perhatian padanya, sampai-sampai seorang CEO mau memijat kakinya.
Belum ada lima menit Shopia memijat kepala suaminya, Ganesha sudah menghentikannya dan meminta Shopia untuk duduk di tempat tidur, agar dia lebih leluasa memijatnya.
"Mas, kenapa harus di tempat tidur?" tanya Shopia bingung.
"Di sofa sempit, di sana lebih lega buat duduk."
Akhirnya Shopia hanya menurut dengan apa yang suaminya minta. Namun, tangan yang tadinya memijat betis dengan benar, perlahan naik ke paha dan mengelus lembut paha Shopia yang memulus, membuat ibu hamil itu menjadi kegelian karena tangan nakal Ganesha mulai merayap ke mana-mana.
"Mas, katanya mau pijat kaki, kenapa sampai ke atas?"
"Mas, khawatir yang lainnya ikut pegal."
Gubrak!
Jawaban yang tidak relevan meluncur begitu saja dari mulut Ganesha, membuat Shopia hanya bisa menggelengkan kepala, karena sudah pasti arah dan tujuan pada sebuah pendakian yang memberikan kenikmatan pada keduanya.
"Mas, pintar sekali bohongi aku!"
"Kalau Mas tidak pintar, mana mungkin bisa jadi CEO," ucap Ganesha dengan napas yang memburu.
"Mas, tapi masih siang. Orang lain belum pada tidur," ucap Shopia cemas.
"Tidak apa, kamar ini sudah dipasang alat peredam suara. Kamu mau mendessah kencang pun mereka tidak akan dengar." Ganesha mulai merapatkan tubuhnya. Dia menciumi leher Shopia yang jenjang, lalu turun ke dada dan memberikan beberapa tanda merah di sana.
"Mas ...!" panggil Shopia lirih.
Baru saja Ganesha akan memulai olahraga sorenya, terdengar suara pintu kamar ada yang mengetuknya. Shopia langsung melepaskan diri dari Ganesha karena khawatir ada sesuatu hal yang penting.
Sial! Ganggu orang saja. Awas saja kalau Piero! Akan aku potong gajinya, rutuk hati Ganesha.
"Mas, aku buka pintu dulu ya!" ucap Shopia seraya beranjak pergi.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1