Pernikahan Tanpa Hati

Pernikahan Tanpa Hati
Bab 82 Pilihan Untuk Eliza


__ADS_3

Ruang serba putih kini menjadi saksi bisu sepasang suami istri yang saling memendam kemarahannya. Jody dan Jordan langsung datang ke rumah sakit saat dia diberitahu oleh polisi tentang keadaan Nyonya Lucy. Meskipun ada sedikit rasa iba melihat keadaan wanita cantik itu, tetapi tidak merubah keputusan ayah dan anak itu untuk menjeratnya ke ranah hukum.


"Papa, apa tidak ada sedikit rasa kasian di hati Papa melihat keadaan Mama? Lihat, Pah! Mama tidak berdaya seperti itu, masih harus berurusan dengan polisi. Apa Papa tidak bisa mencabut tuntutan Papa?" pinta Eliza dengan wajah melas


"Eliza, semua perbuatan pasti ada konsekwensinya. Itu pilihan Mama kamu sendiri, kenapa dia tidak berbelas kasih saat meracuni anak dan istri Papa. Mereka tidak bersalah apapun pada Mama kamu. Bukan Clara yang menjadi orang ketiga dan merusak kebahagiaan Papa, tapi ambisinya yang membuat Papa harus terjebak dalam pernikahan tanpa hati bersamanya." Tuan Jody mendengus pelan sebelum dia melanjutkan ucapannya.


"Kamu tahu Eliza, Papa tidak akan pernah mencabut tuntutan Papa. Kamu tinggal pilih saja, ikut bersama Papa dan melanjutkan hidupmu dengan baik, atau terus membela mama kamu dan Papa akan mencabut semua fasilitas yang sudah Papa berikan sama kamu. Terserah kamu mau ke mana, mau ikut dengan Tuan Jean pun silakan! Tapi satu hal yang harus kamu tahu, perusahaan JL sudah berpindah tangan menjadi milik Jordan."


"Bagaimana bisa begitu? Kenapa aku tidak tahu?" tanya Eliza kaget.


"Tanyakan saja pada Mama kamu, berapa saham yang sudah dia jual untuk menyenangkan kamu di luar negeri. Berapa uang yang sudah mama kamu pinjam untuk memenuhi semua keinginan kamu. Apa kamu tidak tahu kalau JL pernah mengalami krisis keuangan? Kamu mau minta tolong pada sekutu kalian juga silakan! Karena Tuan Andrea sudah memukul mundur mereka. Bahkan Opa kamu pun sudah terikat perjanjian untuk tidak ikut campur masalah mama kamu."


Sial! Kalau aku tidak menurut pada Papa, sudah pasti aku akan kehilangan segalanya. Baiklah, Papa, selama aku masih bisa menikmati kekayaan Papa, aku akan menurut pada Papa, batin Eliza.


"Kamu sangat tidak berperasaan Jody, padahal selama ini aku begitu mencintai kamu. Tapi ternyata, sedikit pun kamu tidak pernah mencintai aku," ucap Nyonya Lucy dengan menahan gemuruh di dadanya.


Dia ingin membalaskan sakit hatinya pun rasanya tidak bisa dengan keadaan dia yang seperti sekarang. Nyonya Lucy hanya bisa menatap nanar laki-laki yang dicintainya. Laki-laki yang ingn dia kuasai segala miliknya.


"Lucy, sebaiknya kamu patuh dan tidak berusaha untuk kabur lagi. Sebenarnya aku sangat ingin membunuh kamu dengan tanganku sendiri, saat tahu kalau Clara sudah tiada. Tapi aku selalu teringat dengan ucapan Clara yang selalu melarang aku saat ingin membalas orang yang telah menyakitinya. Aku hanya ingin kamu bertanggung jawab dengan apa yang sudah kamu lakukan padanya."

__ADS_1


"Maaf Tuan, waktu kunjungannya sudah habis. Silakan Tuan berkunjung lain kali," ucap seorang perawat yang datang mengingatkan.


"Baik Sus, terima kasih!" ucap Jody kemudian pergi begitu saja dari ruang perawatan Lucy. Begitupun dengan Jordan dan Eliza yang mengikuti papanya dari belakang.


Mereka tidak langsung pulang ke rumah, tetapi menuju ke rumah sakit tempat Shopia di rawat. Jody ingin Eliza tahu kalau Shopia adalah putri kandungnya, sehingga dia mengajak gadis itu untuk menjenguk Shopia.


"Papa, mau apa ke sini? Memangnya Mama dipindah ke sini?" tanya Eliza kaget saat mobil yang mereka tumpangi berbelok ke arah rumah sakit internasional.


"Tidak, Papa akan menjenguk putri Papa. Apa kamu benar akan ikut dengan Papa?" tanya jody dengan menatap lekat Eliza.


"Iya, Pah. Aku harus ikut dengan siapa kalau bukan dengan Papa. Mama kan harus mempertanggungjawabkan semuanya. Masa aku harus ikut dengan Mama ke sana. Aku kan tidak salah apa-apa," jawab Eliza sendu.


"Iya, Pah. Aku pasti ingat pesan Papa." Eliza bergelayut manja di tangan kekar Tuan Jody.


Dia memang selalu ingin dimanja oleh kedua orang tuanya. Tuan Jody pun mengelus lembut rambut gadis itu. Meskipun Eliza bukan putri kandungnya tapi dia tidak pernah membedakan kasih sayang antara Jordan dan Eliza. Bahkan dia menganggap Eliza sebagai pengganti putrinya yang hilang.


Saat tiba di ruang perawatan Shopia, Eliza sedikit terkejut saat di bertemu dengan Piero di ambang pintu bersama dengan istrinya. Wajahnya memanas merasa tidak percaya kalau akhirnya dia harus mengakui Shopia sebagai saudaranya. Meskipun mamanya pernah menceritakan tentang istri pertama Tuan Jody dan putrinya, tetapi hatinya terus menyangkal kalau Shopia saudaranya.


"Piero, apa Om sudah bisa menjenguk Shopia?" tanya Tuan Jody.

__ADS_1


"Silakan, Om. Kebetulan aku sudah mau pulang, soalnya mau periksa kandungan istriku," ucap Piero,


"Oh, sehat-sehat ya!"


"Makasih, Om."


Piero langsung pergi dari sana karena memnag dia hanya mampir melihat keadaan Shopia dan putrinya. Sementara Tuan Jody langsung masuk ke dalam untuk melihat keadaan putrinya. Eliza yang masih ragu, hanya mematung di tempatnya.


"Kamu mau masuk atau dihapus dari KK keluarga Vuttion," bisik Jordan yang berdiri di belakang Eliza.


...~Bersambung~...


...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift, dan favorite....


...Terima kasih....


Sambil nunggu Shopia dan Anez, yuk kepoin juga karya yang keren satu ini.


__ADS_1


__ADS_2